Korandiva-BLORA.- Nasib petani tebu di Kabupaten Blora kian berada di ujung tanduk. Di tengah ancaman anjloknya harga tebu dan lumpuhnya operasional pabrik gula PT GMM Bulog akibat kerusakan dua boiler, para pengurus Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) mendatangi Kepolisian Resor Blora, Senin (18/5/2026).
Di bawah komando Ketua APTRI Blora, H. Sunoto, rombongan petani meminta dukungan penuh aparat keamanan demi menyelamatkan hasil panen tebu 2026 yang kini terancam tak terserap pasar.
Kedatangan mereka disambut langsung Kapolres Blora AKBP Wawan Andi Susanto didampingi Wakapolres Kompol Slamet Riyanto.
Namun pertemuan itu bukan sekadar silaturahmi biasa. Di balik suasana hangat dan penuh keakraban, tersimpan kegelisahan besar para petani yang merasa ditinggalkan di tengah krisis.
Sunoto secara terbuka mengapresiasi dukungan Kapolres dan Dandim saat pengamanan aksi damai ribuan petani tebu pada 2 April lalu. Namun kali ini, persoalan yang dibawa jauh lebih serius: ancaman kehancuran ekonomi petani tebu Blora.
“Kalau tidak segera ada solusi, petani tebu bisa mengalami kiamat kubro,” ujar Agus Joko Susilo, mantan kepala desa yang turut hadir dalam pertemuan.
Menurutnya, kondisi petani saat ini ibarat “sudah jatuh tertimpa tangga”. PT GMM Bulog yang sebelumnya berkomitmen membeli tebu petani dengan harga sesuai ketentuan pemerintah justru dinilai gagal memenuhi tanggung jawabnya setelah pabrik berhenti beroperasi.
“Budaya endokusumo atau menghindar sekarang seperti jadi tren baru,” sindirnya tajam.
Kondisi makin memprihatinkan karena petani kini dipaksa menjual tebu ke luar daerah tanpa subsidi ongkos angkut. Akibatnya, posisi tawar petani jatuh bebas dan harga tebu kian tak bernilai.

Mantan Kepala Tanaman PG GMM, Ir. Wahyuningsih, menilai berhentinya operasional pabrik gula telah menciptakan ketimpangan supply dan demand yang memukul petani secara brutal.
“Kalau situasi ini terus dibiarkan, tinggal menunggu waktu petani tebu benar-benar hancur. Tanam tebu hanya jadi deder kere, menyemai kemiskinan,” tegasnya.
Di tengah situasi genting tersebut, APTRI berinisiatif membuka penampungan tebu di depan Gudang A kawasan pabrik GMM dengan melibatkan eks pekerja PT GMM Bulog yang kini telah dirumahkan.
Langkah itu dilakukan sebagai upaya darurat untuk menyelamatkan hasil panen petani yang terancam membusuk di lahan.
Menanggapi keluhan para petani, Kapolres Blora AKBP Wawan Andi Susanto langsung bergerak cepat. Secara spontan ia menghubungi sejumlah pihak terkait guna memastikan proses penyelamatan tebu petani dapat berjalan aman dan lancar.
“Apa yang bisa saya bantu untuk para pengurus APTRI dan para petani tebu saat ini?” ujar Kapolres.
Sikap responsif Kapolres itu menjadi setitik harapan di tengah rasa frustrasi petani terhadap mandeknya tanggung jawab pihak pengelola pabrik gula.
Kini para petani berharap jeritan mereka sampai ke telinga Presiden Prabowo Subianto. Sebab di balik ambisi besar swasembada gula nasional 2027, ribuan petani tebu di daerah justru tengah berjuang agar tidak tumbang lebih dulu. (*)


