BerandaNASIONALPantura Perlahan Tenggelam, Jutaan Warga...

Pantura Perlahan Tenggelam, Jutaan Warga Pesisir Terancam Kehilangan Daratan

Korandiva-JAKARTA – Ancaman itu datang tanpa suara. Tidak meledak, tidak bergemuruh, tetapi terus bergerak dari tahun ke tahun. Sebagian wilayah Pantai Utara Jawa (Pantura) kini menghadapi dua tekanan sekaligus: tanah yang terus turun dan laut yang terus naik.
Hasil pemantauan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan sejumlah kawasan pesisir di Pulau Jawa mengalami penurunan muka tanah dengan laju yang mengkhawatirkan. Di saat bersamaan, permukaan laut juga terus meningkat hingga mencapai 4,3 milimeter per tahun.
Kombinasi dua fenomena tersebut menjadi ancaman serius bagi masa depan kawasan pesisir yang menjadi tempat tinggal jutaan warga dan pusat aktivitas ekonomi nasional.
Wilayah yang terancam membentang panjang dari Jakarta, Bekasi, Subang, Indramayu, Cirebon, Pemalang, Pekalongan hingga Demak. Jika tidak ditangani secara serius, sebagian kawasan itu berpotensi semakin sering terendam bahkan kehilangan daratan secara permanen.

Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Geoinformatika BRIN, Agung Syetiawan, mengungkapkan hasil pemantauan satelit dan jaringan pengamatan geodesi menunjukkan sebagian besar wilayah Pantura mengalami deformasi vertikal yang terus berlangsung.
Menurutnya, eksploitasi air tanah menjadi salah satu penyebab utama amblesnya permukaan tanah di kawasan pesisir. Kebutuhan air bersih rumah tangga, industri, hingga usaha tambak terus menguras cadangan air bawah tanah yang selama puluhan tahun menjadi penopang lapisan tanah.
“Pengambilan air tanah yang berlebihan membuat lapisan tanah kehilangan daya dukung dan perlahan turun,” ujarnya.

Ironisnya, ketika tanah turun, laut justru terus naik.
Berdasarkan analisis data altimetri, kenaikan muka laut di kawasan Pantura mencapai antara 2,4 hingga 4,3 milimeter per tahun. Angka itu mungkin terdengar kecil, tetapi dampaknya sangat besar ketika terjadi selama puluhan tahun dan diperparah oleh penurunan tanah.
Akibatnya, wilayah-wilayah pesisir yang selama ini masih aman berpotensi berubah menjadi kawasan genangan permanen.
Muara Gembong di Bekasi menjadi salah satu contoh nyata. Kawasan tersebut bersama sejumlah pesisir Jakarta dan Tangerang telah mengalami perluasan genangan akibat kombinasi amblesnya tanah dan naiknya permukaan laut.

Para peneliti mengingatkan bahwa pembangunan tanggul laut raksasa atau giant sea wall bukanlah satu-satunya jawaban. Penanganan harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pengendalian sumur bor, penyediaan air bersih alternatif, rehabilitasi mangrove hingga perencanaan tata ruang berbasis data ilmiah.
Jika tidak, biaya yang harus dibayar generasi mendatang akan jauh lebih mahal dibandingkan biaya pencegahan saat ini.
“Air yang kita hemat hari ini adalah napas kehidupan bagi generasi masa depan,” tegas Agung.
Peringatan BRIN ini menjadi alarm keras bagi pemerintah pusat maupun daerah. Sebab yang sedang dipertaruhkan bukan sekadar jalan, tambak, atau permukiman warga, melainkan masa depan garis pantai Jawa yang perlahan terus mundur digerus laut.
Hari ini Pantura masih berdiri. Namun tanpa langkah nyata dan berani, bukan tidak mungkin sebagian daratan yang kini dihuni jutaan orang hanya akan menjadi cerita dalam peta beberapa dekade mendatang. (*)

Koran DIVA Cetak Edisi 1068, Terbit Tanggal 25 Mei 2026

spot_img

BERITA TERBARU

BERITA TERKAIT
Related