BerandaJAWA TENGAHJanji Manis Bulog Berujung Pahit,...

Janji Manis Bulog Berujung Pahit, Petani Tebu Blora Tumpahkan Ribuan Batang Tebu di Gerbang PG GMM

Korandiva-BLORA.— Kesabaran petani tebu Blora akhirnya tumpah bersama ribuan batang tebu yang berserakan di depan gerbang Pabrik Gula GMM, Desa Tinapan, Kecamatan Todanan, Senin (1/6). Merasa dipermainkan oleh janji yang tak kunjung ditepati, para petani melancarkan aksi tumpah tebu sebagai simbol kekecewaan terhadap Bulog dan manajemen pabrik yang hingga kini belum mampu memberikan kepastian nasib hasil panen mereka.
Satu per satu truk pengangkut tebu menaikkan bak secara hidrolik. Ribuan batang tebu berguguran ke jalan. Pemandangan itu menjadi potret nyata amarah petani yang mengaku terus menanggung kerugian akibat mandeknya operasional PG GMM.

Perwakilan petani, Anton Sudibyo, menegaskan aksi tersebut bukan sekadar unjuk rasa biasa, melainkan bentuk penagihan atas komitmen yang sebelumnya telah dijanjikan kepada petani.
“Kami menuntut realisasi janji yang sudah disampaikan dan ditandatangani. Sampai hari ini belum ada kepastian yang benar-benar dirasakan petani,” tegas Anton di tengah aksi.

Menurutnya, persoalan yang terjadi tidak hanya mengancam pendapatan petani, tetapi juga berpotensi merusak semangat swasembada gula nasional yang selama ini didengungkan pemerintah. Petani yang telah menanam, merawat, dan memanen tebu kini justru dihadapkan pada ketidakpastian penyerapan hasil panen.
Anton menyatakan apabila tuntutan mereka kembali diabaikan, petani tebu Blora siap membawa persoalan tersebut ke Jakarta agar mendapat perhatian langsung dari pemerintah pusat dan Presiden RI.
“Kami ingin negara hadir. Jangan sampai petani terus menjadi korban dari kebijakan yang tidak jelas,” ujarnya.

Aksi tersebut juga mendapat dukungan dari Front Blora Selatan (FBS). Perwakilan FBS, Exi Wijaya, menegaskan bahwa aksi berlangsung damai meskipun sarat dengan kekecewaan.
“Tumpahkan kekesalan di sini, tetapi tetap tertib dan damai,” serunya kepada massa aksi.

Di sisi lain, Plt Direktur Utama PG GMM, Sri Emilia Mudiyanti, mengakui saat ini pabrik memang belum beroperasi. Pihaknya mengklaim telah membentuk tim untuk mengalihkan penyerapan tebu petani ke sejumlah pabrik gula lain.
Namun penjelasan tersebut belum mampu meredam kegelisahan petani. Sebab hingga kini, mereka masih menunggu kepastian konkret di tengah ancaman kerugian yang terus membesar seiring bertambahnya usia tebu di lapangan.

Sri Emilia juga menyatakan bahwa sebagai anak perusahaan Bulog, PG GMM tidak dapat mengambil keputusan secara mandiri karena harus menunggu proses evaluasi dan persetujuan sesuai mekanisme BUMN.
Pernyataan itu justru mempertegas persoalan yang dikeluhkan petani: ketika birokrasi berjalan lambat, kerugian di lapangan terus berjalan cepat. Sementara tebu yang siap giling tidak bisa menunggu proses administrasi yang berlarut-larut.
Kini, bola panas berada di tangan Bulog dan pemerintah. Jika tidak segera ada langkah nyata, aksi tumpah tebu di Blora bisa menjadi awal gelombang protes yang lebih besar dari petani yang merasa hak dan perjuangannya diabaikan. (*)

Koran DIVA Cetak Edisi 1068, Terbit Tanggal 25 Mei 2026

spot_img

BERITA TERBARU

BERITA TERKAIT
Related