Korandiva-BLORA.- Fenomena pocong jadi-jadian yang belakangan marak di sejumlah wilayah Kabupaten Blora mulai memicu keresahan warga. Kemunculan sosok menyerupai pocong di jalan-jalan desa pada malam hari bukan lagi sekadar bahan candaan, melainkan telah menimbulkan ketakutan dan spekulasi liar di tengah masyarakat.
Di Desa Cokrowati, Kecamatan Todanan, misteri pocong yang sempat membuat warga geger akhirnya terbongkar. Sosok tersebut ternyata hanya diperankan bocah sekolah berusia sekitar 14–15 tahun yang mengaku sekadar bercanda bersama teman-temannya.
Namun, kasus itu tidak otomatis meredakan keresahan warga. Sebab, di Desa Gempolrejo, Kecamatan Tunjungan, kemunculan pocong serupa hingga kini masih menyisakan tanda tanya. Warga mengaku takut melintas pada malam hari setelah beberapa kali melihat sosok menyerupai pocong muncul di jalan desa.
Maraknya aksi pocong jadi-jadian di Blora kini memunculkan dua kekhawatiran sekaligus. Sebagian warga menilai fenomena itu hanya kenakalan remaja demi konten media sosial. Namun sebagian lain mencurigai adanya modus menakut-nakuti warga untuk kepentingan tertentu, termasuk potensi tindak kriminal.
Kasus di Cokrowati sendiri berhasil diungkap setelah warga menelusuri rekaman CCTV di sekitar lokasi kemunculan pocong. Dari situ, identitas pelaku akhirnya diketahui dan diklarifikasi ke pemerintah desa.
“Dari CCTV, setelah diklarifikasi ternyata guyon karo koncone,” ujar warga Todanan, Fuad Mushofa, Kamis (28/5/2026).
Kasatreskrim Polres Blora AKP Zaenul Arifin membenarkan kejadian tersebut. Polisi memastikan aksi itu murni ulah remaja yang bercanda keterlaluan.
“Di Desa Cokrowati, itu guyonan sama temannya,” katanya.
Kepala Desa Cokrowati, Edy Sutrisno, mengungkapkan aksi pocong itu bermula saat sejumlah anak bermain di rumah temannya. Salah seorang kemudian mengenakan mukena dari musala untuk dijadikan kostum pocong.
“Kronologinya dolanan nenggone koncone, terus nganggo rukoh musala kanggo pocong-pocongan,” ujarnya.
Video aksi tersebut kemudian menyebar dan memicu kepanikan warga. Situasi semakin sensitif karena isu teror pocong memang sedang ramai diperbincangkan di berbagai wilayah Blora.
Pemerintah desa bersama Bhabinkamtibmas akhirnya memanggil seluruh anak yang terlibat beserta orang tua mereka untuk dimintai klarifikasi dan pembinaan.
“Semua bocah dipanggil, wong tuwane juga. Kami minta bikin pernyataan supaya tidak diulangi,” tegas Edy.
Meski disebut hanya candaan, aksi tersebut dinilai berbahaya karena memanfaatkan situasi keresahan masyarakat. Pemerintah desa pun mengingatkan orang tua agar lebih mengawasi aktivitas anak-anak, terutama di tengah maraknya tren konten sensasi di media sosial yang kerap mengabaikan dampak sosial.
Fenomena pocong jadi-jadian di Blora kini menjadi alarm bahwa batas antara hiburan, konten iseng, dan keresahan publik semakin tipis. Ketika rasa takut warga dijadikan bahan lelucon, yang muncul bukan lagi hiburan, melainkan potensi gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat. (*)


