BerandaJAWA TENGAHUtang GMM Rp 2,4 Triliun...

Utang GMM Rp 2,4 Triliun Meledak, Front Blora Selatan Ancam Kepung Istana

Korandiva-BLORA.- Polemik industri gula nasional memasuki babak panas. Front Blora Selatan melontarkan kritik keras terhadap amburadulnya tata kelola industri gula yang dinilai gagal melindungi petani dan justru menyeret masyarakat kecil ke jurang krisis ekonomi.

Ledakan protes itu disampaikan Koordinator Aksi Front Blora Selatan, Exi Wijaya, dalam forum resmi “Ngopi Bareng Forkopimda” di Pendopo Rumah Dinas Bupati Blora, Kamis (28/5/2026).

Di hadapan pejabat pemerintah, aparat, dan tokoh masyarakat, Exi membongkar persoalan PT Gendhis Multi Manis (GMM) yang disebut menanggung utang fantastis hingga Rp2,4 triliun. Nilai utang jumbo tersebut disebut menjadi simbol bobroknya tata kelola industri gula nasional yang kini dampaknya dirasakan langsung petani tebu di daerah.

“Negara sibuk bicara swasembada gula, tetapi petani justru dikorbankan. Utang GMM Rp2,4 triliun itu alarm keras bahwa industri gula sedang sakit parah,” tegas Exi dalam orasinya.

Menurutnya, krisis tidak hanya menghantam petani tebu sebagai produsen utama, tetapi juga memukul denyut ekonomi masyarakat desa yang hidup dari rantai industri pergulaan.
Buruh tebang kehilangan kepastian kerja. Sopir angkutan tebu menjerit karena penghasilan turun. Pekerja bongkar muat terdampak. Pedagang kecil di sekitar sentra tebu ikut terpukul akibat lesunya perputaran uang musim giling.

“Yang tumbang bukan hanya petani. Ekonomi rakyat kecil ikut ambruk,” katanya.

Desak BPK dan KPK Turun Tangan
Front Blora Selatan bersama aliansi petani tebu mendesak pemerintah pusat segera bertindak sebelum situasi semakin liar. Mereka meminta Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan audit total dan investigasi menyeluruh terhadap PT GMM.

Selain itu, DPR RI, khususnya Komisi IV dan Komisi VI, diminta turun melakukan pengawasan ketat terhadap tata kelola industri gula nasional yang dinilai sarat persoalan.
“Jangan biarkan petani terus menjadi tumbal kegagalan manajemen industri gula. Negara wajib hadir melindungi petani, bukan membiarkan mereka tenggelam,” ujar Exi.

Siap Gelar Aksi Besar, Ancam Kepung Jakarta
Gelombang perlawanan petani dipastikan belum berhenti. Front Blora Selatan mengumumkan akan menggelar aksi unjuk rasa besar-besaran pada 1 Juni 2026 mendatang.
Blora disebut hanya menjadi titik awal. Jika tuntutan petani tetap diabaikan, massa mengancam membawa gelombang aksi langsung ke Jakarta dan mengepung pusat kekuasaan.

“Kalau suara petani masih dianggap angin lalu, kami akan datang ke Jakarta. Kami akan berdiri di depan Istana Negara dan DPR RI sampai pemerintah benar-benar mendengar jeritan petani Blora,” tegas Exi, disambut teriakan “Hidup Petani!” dari peserta forum.

Meningkatnya tekanan dari petani tebu menjadi sinyal serius bahwa program swasembada gula nasional sedang menghadapi krisis kepercayaan. Petani yang selama ini menjadi tulang punggung produksi justru merasa ditinggalkan di tengah carut-marut industri pergulaan. (*)

Koran DIVA Cetak Edisi 1068, Terbit Tanggal 25 Mei 2026

spot_img

BERITA TERBARU

BERITA TERKAIT
Related