Kalung Warisan Nenek

Oleh: Esti Rusia

Pagi itu Bu Yayah, kepala panti memanggil Daria. Hari ini masa tinggal Daria berakhir. Ia telah lulus SMK jurusan perhotelan yang tak jauh dari panti.
“Daria, Ibu berat melepasmu nak, tapi kamu pasti paham aturan panti. Tapi nak, sebelum itu ada yang mau ibu sampaikan padamu,” ujar Bu Yayah.
“Apa itu, Bu?”
“Ini, nenek kamu waktu mengantarkan kamu kemari menitipkan bungkusan ini dan harus ibu berikan padamu saat meninggalkan panti.”
“Nenek?” Daria terperanjat.
“Maaf ya nak, sesuai pesan nenekmu saat itu kami tak boleh memberitahumu sebelum waktunya,” jelas Bu Yayah dengan mata teduh.
Ada apa ini?
“Bukalah nak, saatnya kita sama-sama tahu apa isi bungkusan itu.”
“Hah, Ibu juga ga tahu isinya?”
“Amanah harus di jaga”
Daria segera membuka bungkusan isinya: sebuah kalung dengan liontin berbentuk tears drop. Di dalamnya ada foto seorang wanita dan lelaki. Dan dompet berisi emas dan kwitansinya. Dan sepucuk surat yang isinya sebuah alamat di Lembang, Desa Pagerwangi.
***
Berbekal ongkos gojek, Daria pamit. Mencari alamat dan tiba di sore hari. Tampak sebuah rumah tua bangunan Belanda yang masih terawat. Daria memencet bel. Tak lama seorang wanita setengah baya keluar.
“Cari siapa, neng,? tanyanya dengan logat sunda yang kental.
“Hmm maaf Bu, nama saya Daria, saya mendapat amanah dari nenek untuk ke sini. Ini kalung dari nenek juga,” jawab Daria seraya membukakan liontin berisi foto.
Wajah wanita itu terkejut, ia langsung membukakan pagar dan mengajak Daria masuk. Aura dingin di ruang itu sedikit mencekam.
“Neng, saya teh Bi Iche, adik dari perempuan di foto itu,” ujar wanita itu.
“Perempuan di foto itu adalah Teh Elis,” Bi Iche melanjutkan ucapannya.
Daria pelan-pelan mu-lai menceritakan,”
“Umur neng berapa sekarang?”
“18 tahun, bi.”
“Maaf, bibi boleh lihat tangan kirinya neng?”
Daria bingung tetapi memberikan tangannya.
Tahi lalat di jari tengah nampak jelas. Bi Icje menarik napasnya.
“Kenapa, bi?”
“Neng teh keponakan Bibi yang hilang,” sahutnya lirih.
“Bi, ibu dan ayah saya tinggal di mana?”
Wajah Icje berubah sendu, “Ayo ikut Bibi.” perintah yang tak bisa ditawar. Itje membawanya ke kebun belakang rumah yang asri. Di sana dua nisan bertuliskan Elis Sumiati dan Agus Fauzi.
“Ini kedua orang tuamu, nak,” ada desah berat di suara Bi Icje.
Daria segera berlutut memeluk nisan ibu dan bapaknya meluapkan segala rasa dalam hatinya. Lalu Bi Icje juga mengenalkan makam Kakeknya asli Belanda, Theo Van Derjick, neneknya Imas Sulastri.
Bi Icje memintanya untuk beristirahat. Daria melihat lemari tua yang menyeramkan. Ia membukanya, ada album foto, keluarga. Tak sadar ia pun tertidur.
Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka, Bi Icje mengajaknya makan ma-lam. “Ayo makan, nak.”
Selesai makan, bibi mulai cerita kisah cinta ibu dan ayah. Ayah adalah anak dari tukang kebun pekerja di sini. Kisah cin-ta mereka ditentang oleh nenekku, hingga akhirnya membuat ibu dan ayah nekat menikah tanpa restu. Pada saat ibu hamil, nenek memperbolehkan tinggal di rumah ini. Ibu meninggal saat melahirkan dan ayah bunuh diri tak sanggup kehilangan ibu tepat setelah pemakaman ibu.
Daria merasakan pedihnya takdir atas dirinya. Malam itu mereka tidur larut setelah saling bertukar cerita. Ia seakan terbangun dan melihat ke arah tangan kanannya berlumuran darah. Dariah memekik lalu tiba-tiba ranjang tua itu bergo-yang semakin kencang dan ceceran darah di atas seprainya muncrat ke segala arah hingga ke wajahnya. Dariah tak bisa bergerak dan sulit bernapas. Di telinganya berhembus dan satu kata terdengar, “Mati.”
“Astagfirullah!” Ia terduduk cukup lama berusaha tenang.
Pagi itu ketika Bi Icje masuk ke kamar, ia terkejut melihat Dariah duduk bersandar di ranjang dengan wajah pucat.
“Nak, kamu kenapa?”
“Gak apa-apa, bi!” sahut Dariah pendek.
“Ayo kita sarapan.” Dariah mengikuti bibinya.
Dariah tenang tak bergeming. Hingga malam tiba, selesai makan malam, Dariah diam di kamar dan tertidur. Ia tiba-tiba terbangun pukul 3 pagi dan melihat seorang wanita tua yang menatapnya dan mencekiknya.
“Kau, pembunuh anakku! bayi sialan! mati!,” ucap nenek itu dengan suara mengerikan. Daria tak bisa melawan.
Tiba-tiba muncul seorang wanita cantik dengan wajah sedih menjerit, “Lepaskaaan dia, ibu!”
Si nenek tua itu menoleh tanpa melepaskan jari-jarinya di leher Daria. Wanita itu menjerit mu-lai menarik-narik dari belakang.
Tiba-tiba pintu terbuka lebar! Bi Icje berteriak kencang, “Ibu, pergilah!” sambil menyipratkan air ke arah si nenek tua.
***
Pagi hari, Daria terbangun di kamar Bi Icje. Rasa sakit menjalar di seluruh tubuhnya.
“Maafkan bibi, nak. Hari ini kita pindah, kamu tak bisa tinggal di sini.”
“Kenapa Bi?”
“Nanti saja, ayo.”
Mereka melaju ke Bandung kota, daerah Sukajadi rumah Bi Icje. kemudian Bi Icje bercerita, yang membawa Daria ke panti adalah dirinya sebab khawatir Daria akan dibunuh oleh neneknya. Saat ibunya meninggal, nenek hancur. Saat itu Bi Icje terburu-buru membawanya ke panti asuh-an. Alamat itu diberikannya sebab Bi Icje belum punya tempat tinggal.
Daria menangis tersedu-sedu, betapa bibinya menyayanginya dan menyelamatkannya sejak ia baru lahir. Mereka mulai menata hidup sebagai ibu dan anak dan setiap minggu mereka mengikuti terapi psikolog untuk dapat hidup wajar. Daria masih sering bermimpi buruk sejak kejadian itu. -TAMAT-

Koran DIVA Cetak Edisi 1067, Terbit Tanggal 11 Mei 2026

spot_img

BERITA TERBARU

BERITA TERKAIT
Related