Oleh: Naimatun Niqmah
“MBAK Dewi, ini mertua dan suami Mbak, tidak mau mengemas barang, saya harus gimana?,” tanya Joko lewat sambungan selular. Seseorang yang aku utus, untuk mengawasi Ibu dan Mas Angga. “Paksa mereka untuk berkemas!” perintahku.
‘Sudah, Mbak. Tapi …”
“Mereka malah menghina saya! Dan sumpah serapah untuk keburukan, Mbak!”
“Sumpah serapah?” tanyaku menyakinkan.
“Iya, Mbak, nyumpahin Mbak, hidup Mbak nggak bakal bahagia.”
“Owh, saya segera pu-lang! Kamu tetap di situ! Awasi mereka!”
“Hay, Wi! Mau kema-na? Kok buru-buru?,” tanya Rama, teman sekantorku.
“Mau pulang, Ram.”
“Boleh aku anter?” tanyanya. Ku kerutkan ke-ning dan tersenyum.
“Kok, malah senyum-senyum?,” tanya Rama.
“Boleh anterin aku pulang tapi dengan satu sya-rat!” mataku mengerling. Membuat Rama tersipu.
“Joko!”
“Iya, Mbak Dewi?”
“Keluarkan semua baju-baju mereka dalam lemari!” perintahku kasar. Joko hanya mengangguk.
“Dewi, kamu bener-bener nggak punya sopan santun!” bentak ibu lagi melotot, memerah.
“Dek! Kita bisa bahas ini dengan kepala dingin, jangan seperti ini!” sahut Mas Angga, pelan.
“Kamu bisa cari cewek lain lagi, Mas! Bukannya kamu ganteng?” sindirku.
“Kamu akan menyesal, Dewi! Akan ibu viralkan perbuatanmu ini! Biar tak ada yang mau menikahimu!,” tandas Ibu.
“Silahkan aku nggak takut, kita buktikan saja, siapa yang akan menyesal?” balasku.
“Oya! Kenalkan, ini Rama pengacara saya, yang akan segera mengurus surat perceraian kita!” celetukku. Membuat Ibu dan Mas Angga melongo.
“Dek! Kamu jangan bercanda tentang perceraian, ini pernikahan yang sakral!” sahut Mas Angga mulai panik. Begitu juga dengan Ibu.
“Sakral? Tapi kamu la-lai akan tanggung jawab-mu?” bentakku. Membuat wajahnya memerah.
“Mbak, baju-baju mereka di taruh mana ini?” tanya Joko menyeletuk.
“Saya nggak akan keluar dari rumah ini!” sungut ibu, menarik kasar kopernya. Membuatku semakin geram.
“Dek, aku kan tidak melakukan kesalahan yang fatal? Kecuali aku selingkuh, jadi wajar ka-lau kamu menggugatku, aku ini setia sama kamu!” celetuk Mas Angga membuatku cukup terkejut. Bisa-bisanya dia ngomong seperti itu? Dia tak merasa bersalah? Atau memang nggak mengerti kesalahannya? Heran.
“What? Kamu mikir tidak, sih, Mas? Punya otak nggak, sih, kamu?” reflek saja aku menjawab seperti itu. Ibu mendelik tidak terima. Aku benar-benar tak mampu membaca jalan fikir Mas Angga dan Ibunya. Kenapa mereka tetap merasa tak bersalah?
“Dewi! Angga masih su-amimu! Kualat kamu! Ingat Dewi kamu nggak bakal hidup bahagia!” jawab ibu dengan ekspresi mengerikan.
“Pak Angga, memang anda tidak selingkuh dan mungkin sangat setia, ta-pi di sini, Bu Dewi meng-gugat bapak, karena bapak tidak menafkahi Bu Dewi, selama satu tahun pernikahan,” ucap Rama pelan terkontrol dan berwibawa.
“Sebelum menikahpun Dewi sudah tahu, kalau saya nggak kerja, jadi saya tak berbohong kan? Tak ada yang saya tutup-tutupi. Anda jangan sok tau dan jangan ikut campur!” rasanya malu banget mendengar jawaban Mas Angga. Jawaban anak kecil, nampak sekali tidak berpendidikan. Di tambah lagi Rama menjawab dengan senyum menjatuhkan.
“Iya, Pak Angga, coba baca lagi di akhir buku nikah! Di sana ada keterangan salah satunya, tidak memberi nafkah wajib selama tiga bulan, jika istri tidak ridho dan mengajukan gugatan kepada pengadilan agama, maka apabila gugatan di-terima oleh pengadilan dan istri membayar sepuluh ribu rupiah sebagai pengganti, jatuhlah talak satu,” ucap Rama selow. Tak membuat suasana semakin runyam. Tapi yang namanya benalu tetap saja tak mau tau.
“Halah … sebelum resmi bercerai, saya dan anak saya akan tetap di sini!” celetuk Ibu dengan gaya ngototnya.
“Dan ingat! harus adil pembagian harta ini!” celetuk ibu lagi, cukup membuatku melongo tak percaya. Kulirik Rama melipat keningnya. Mungkin dia berfikir, kok ada manusia macam ini kolotnya?
“What? Ini harta saya. Pemberian orang tua saya, tak ada hak sepeser-pun atas Mas Angga,” geram.
“Pokoknya sidang cerai akan berjalan, kalau harta ini di bagi ADIL!” ben-tak Ibu, menekan kata adil. Ku atur nafasku yang terengah-engah. Benalu memang tak bisa di kasih hati. Melunjak. Dalam harta ini, tak ada setetespun keringat Mas Angga. Berani-beraninya minta pembagian harta. Kupegang dadaku, rasanya sudah benar-benar ingin meletus bom waktu ini.
“Jangan harap! Silahkan keluar dari rumah saya!” bentakku menghentakkan kaki kananku. Seraya tangan kananku me-nunjuk ke arah pintu.
“Nggak!” sungut Ibu tak kalah membentak.
“Joko! Seret mereka!!!”
Joko dengan cepat mengangguk menjalankan tugasnya. Kesabaranku memang benar-benar sudah memuncak. Joko berusaha menyeret mereka. Di mulai dengan me-ngeluarkan koper mereka terlebih dahulu. Ibu teriak-teriak nyaris kesetanan. Sumpah serapah dia ucapkan. Ku langkah-kan kakiku menuju pintu. Menegaskan agar me-reka segera keluar dari rumahku. Tiba-tiba …
“Dek, maafin Mas, Mas akan kerja, Mas akan berubah, jangan gugat Mas, Mas nggak bisa hidup tanpa kamu, Mas sangat mencintaimu,”
Mas Angga memelukku dari belakang. Terisak. Seketika aku terdiam. Menikmati pelukan itu. Tapi hati ini terlanjur menjadi kepingan yang berserakan. Mungkinkah bisa bersatu kembali? Ku lirik Ibu yang masih melotot memandangku. Joko masih menarik Ibu, walau ibu mati-matian menolaknya. Rama menatatapku nanar. -TAMAT-


