Janji Dirut Bulog Tak Kunjung Ditepati, 3000 Petani Tebu Blora Siap Turun ke Jalan

Korandiva-BLORA.– Bara kekecewaan petani tebu di Kabupaten Blora kian sulit dibendung. Janji Direktur Utama Bulog yang dilontarkan dalam pertemuan resmi di Jakarta, Januari 2026 lalu, hingga kini belum juga terealisasi. Padahal, komitmen tersebut disaksikan langsung oleh Bupati Blora Arief Rohman, Wakil Bupati Sri Setyorini, serta Ketua DPRD Mustopa.
Kondisi ini memicu kemarahan kolektif petani yang tergabung dalam Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Blora. Mereka menilai Bulog tidak serius menyelamatkan nasib petani tebu yang kini berada di ambang kehancuran.
“Selama janji itu belum dipenuhi, semangat juang kami tidak akan padam,” tegas Ketua APTRI Blora, Sunoto, dalam pertemuan bertajuk Diplomasi Kuliner, Rabu (1/4/2026).
Istilah “diplomasi kuliner” bukan sekadar simbol. Di balik suasana santai, forum tersebut menjadi ajang konsolidasi serius untuk menyatukan barisan dan mengobarkan kembali semangat perlawanan. APTRI secara terbuka menuding buruknya manajemen PT GMM Bulog sebagai biang kerok keterpurukan industri tebu rakyat di Blora.

Empat Tuntutan Keras
Dalam aksi damai yang dijadwalkan Kamis (2/4/2026), sedikitnya 3.000 massa akan turun ke Alun-alun Blora dengan membawa empat tuntutan utama:
- Perbaikan segera dua boiler rusak agar musim giling 2026 tidak gagal total.
- Reformasi total manajemen PT GMM Bulog dengan figur profesional dan berintegritas.
- Pengaktifan kembali hubungan tripartit antara petani, manajemen, dan pemerintah daerah.
- Opsi tegas: jika Bulog tak mampu, pabrik gula diminta dilepas ke pihak swasta.
Tak hanya massa besar, aksi ini juga akan diikuti 182 truk, alat berat, hingga kelompok kesenian barongan—menunjukkan keseriusan sekaligus tekanan simbolik terhadap pemerintah dan Bulog.
Peringatan Soal “Penumpang Gelap”
Di tengah konsolidasi, muncul kekhawatiran adanya pihak yang mencoba menunggangi aksi. Mantan kepala desa, Agus Joko Susilo, mengingatkan agar peserta tetap waspada.
“Informasi sudah beredar. Ada potensi pihak yang memanfaatkan situasi. Ini harus diantisipasi sejak awal,” ujarnya.
Solidaritas dari Akar Rumput
Dukungan juga datang dari berbagai lapisan. Seorang petani, Mudo, bahkan mengaku telah menyiapkan logistik secara mandiri untuk memastikan peserta aksi tetap bertahan di lapangan. Sementara petani milenial seperti Untoro dan Hery menegaskan bahwa aksi ini lahir dari panggilan nurani.
“Kami tidak rela petani terus jadi korban janji yang tak pernah ditepati,” tegas mereka.
Seruan Moral dan Ancaman Sosial
Nada kritik dalam gerakan ini tak hanya bersifat ekonomi, tetapi juga moral. Para petani menilai ingkar janji sebagai bentuk pengkhianatan terhadap kepercayaan publik—bahkan mengutip nilai-nilai religius sebagai pengingat beratnya konsekuensi.
Penasehat APTRI, Bambang Sulistya, tetap mengingatkan agar aksi berlangsung damai dan tidak anarkis.
“Jaga kendali, jaga persatuan. Tapi perjuangan ini harus terus berjalan,” ujarnya.
Dengan tekanan massa yang kian membesar, publik kini menanti: apakah Bulog akan segera menepati janji, atau justru membiarkan gelombang perlawanan petani semakin tak terbendung? (*)



