BLORAJAWA TENGAH

Menjaga Keseimbangan Hidup dari Mimbar Subuh Masjid Nurul Falah

Korandiva-BLORA.- Fajar baru saja merekah di langit Blora ketika satu per satu jemaah meninggalkan saf salat Subuh di Masjid Nurul Falah, Kelurahan Krangjati, Kecamatan Blora, Jumat (6/3/2026). Udara pagi terasa sejuk, suasana masjid pun masih dipenuhi ketenangan khas Ramadan yang memasuki hari ke-16 tahun 1447 Hijriah.

Di tengah kekhusyukan itu, jemaah tidak langsung beranjak pulang. Mereka tetap duduk bersila, menyimak Kuliah Tujuh Menit (Kultum) yang disampaikan tokoh masyarakat setempat, Ir. H. Bambang Sulistya, M.M.A. Dari mimbar sederhana, Bambang mengajak jemaah merenungkan satu hal penting dalam kehidupan: keseimbangan.

Dalam tausiyahnya yang bertajuk “Keseimbangan Hidup (Life Balance)”, ia mengingatkan bahwa Islam mengajarkan umatnya untuk menata kehidupan secara proporsional—tidak hanya mengejar dunia, tetapi juga tidak melupakan tujuan akhirat.

“Allah SWT telah berfirman dalam QS. Al-Qashash ayat 77, bahwa kita hendaknya mencari kebahagiaan negeri akhirat tanpa melupakan kenikmatan duniawi,” ujarnya kepada para jemaah. Baginya, kehidupan dunia adalah ladang tempat manusia menanam amal kebaikan sebagai bekal menuju kehidupan yang kekal.

Menurut Bambang, keseimbangan hidup atau tawazun setidaknya mencakup tiga aspek utama. Pertama adalah kebutuhan pribadi yang berkaitan dengan kondisi fisik dan kesehatan. Kedua, kebutuhan sosial berupa hubungan yang harmonis dengan sesama manusia. Ketiga, kebutuhan spiritual yang menghadirkan ketenangan batin.
Ketika salah satu aspek itu terabaikan, kehidupan seseorang dapat menjadi tidak stabil. Rasa cemas mudah muncul, keluhan semakin sering terdengar, stres meningkat, bahkan produktivitas pun menurun.

“Karena itu, hidup perlu dikelola dengan bijak,” katanya.
Di hadapan jemaah yang masih duduk khusyuk, ia kemudian membagikan beberapa kiat sederhana agar kehidupan tetap harmonis di tengah dinamika zaman. Mulai dari meluruskan niat agar setiap aktivitas bernilai ibadah, pandai menentukan skala prioritas dalam mengatur waktu, hingga memperbanyak zikir dan doa agar hati tetap terhubung dengan Sang Pencipta. Selain itu, ia menekankan pentingnya istiqamah—konsisten dalam menjalankan amal saleh, meskipun dalam hal-hal yang sederhana.

Menariknya, Bambang juga memperkenalkan akronim “SIP” sebagai gambaran buah dari kehidupan yang seimbang.
“SIP itu artinya Siap, Investasi, dan Pengendali,” ujarnya.
Siap berarti memiliki ketenangan batin dalam menghadapi berbagai situasi kehidupan. Investasi dimaknai sebagai keberkahan yang hadir dalam bentuk rezeki, kesehatan, maupun hubungan yang harmonis. Sementara Pengendali adalah kemampuan seseorang mengontrol diri dalam meraih kesuksesan dunia sekaligus keselamatan akhirat.

Menjelang akhir kultum, suasana yang semula hening berubah sedikit hangat ketika Bambang menutup tausiyahnya dengan sebuah pantun.
Jalan-jalan ke Embung Nglawiyan,
Udara segar panorama indah menawan. Mantapkan keseimbangan hidup di bulan Ramadan, Niscaya diperoleh hidup penuh keberkahan.

Beberapa jemaah tersenyum mendengarnya. Pagi itu, pesan tentang keseimbangan hidup terasa sederhana, namun mengendap dalam hati. Di bulan Ramadan, di antara ibadah yang kian intens, nasihat itu seolah mengingatkan kembali bahwa kebahagiaan sejati lahir dari kehidupan yang selaras—antara dunia dan akhirat. (*)

BERITA TERKAIT