BLORAJAWA TENGAH

Menunggu Asap Cerobong: Kegelisahan Petani Tebu di Tengah Mandeknya Giling PT GMM Todanan

Korandiva-BLORA.- Di hamparan kebun tebu Blora, waktu terasa berjalan lebih cepat dari biasanya. Batang-batang tebu yang mestinya segera digiling justru tertahan di lahan, menunggu kepastian yang tak kunjung datang dari Pabrik Gula PT GMM Todanan.

Masalah operasional yang semula dianggap sekadar gangguan mesin kini menjelma menjadi kegelisahan kolektif—bukan hanya bagi petani, tetapi juga pekerja pabrik dan masyarakat sekitar yang menggantungkan denyut ekonominya pada roda industri gula.

Ketidakjelasan perbaikan boiler ibarat bara yang terus menyala. Setiap hari yang berlalu menambah beban biaya budidaya, sementara mutu tebu perlahan menurun. Di sentra-sentra produksi, keresahan terasa nyata. Petani berpacu dengan waktu yang tak bisa ditawar, karena tebu memiliki batas kualitas, sedangkan modal mereka memiliki batas daya tahan.

Situasi inilah yang mendorong Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Blora mengambil langkah lebih terstruktur. Bersama para petani, mereka membentuk tim pencari fakta—sebuah upaya kolektif untuk memetakan kerugian sekaligus menyiapkan langkah lanjutan jika ketidakpastian terus berlarut.

Ketua DPD APTRI Blora, Sunoto, menyebut keputusan itu lahir dari komunikasi internal komunitas pertebuan, termasuk dengan serikat pekerja PT GMM, pada Rabu (5/2/2026). Tim yang dibentuk tidak kecil. Dari 16 kecamatan, struktur diturunkan hingga tingkat desa dan kelurahan, mencerminkan keseriusan para petani dalam menghimpun data dari akar rumput.

“Polanya berlapis. Di tingkat kecamatan ada tiga orang per wilayah dengan total 48 orang. Di tingkat desa atau kelurahan tiga orang per wilayah, total mencapai 840 orang. Pendataan dilakukan selama satu minggu,” ujar Sunoto.

Bagi para petani, angka bukan sekadar statistik. Di balik data luas lahan dan tonase tebu, tersimpan cerita tentang harapan musim panen yang tertunda. Data awal yang terkumpul menunjukkan tebu yang tak tertebang sejak 2025 telah melampaui 300 hektare.

Sementara itu, total luasan tebu di Kabupaten Blora diperkirakan mencapai 10 ribu hektare—sebuah angka yang menggambarkan betapa luasnya dampak jika roda giling berhenti terlalu lama.

Sekretaris APTRI Blora, Anton, menuturkan kerugian yang dihitung bukan hanya soal tebu yang tertahan. Ada dua lapis waktu yang mereka cermati: kerugian akibat operasional giling yang disebut hanya berlangsung sekitar satu bulan pada periode terakhir, serta bayang-bayang kerugian yang lebih besar bila pada 2026 pabrik kembali tak beroperasi. Risiko itu merentang dari ongkos tebang dan angkut yang membengkak, penurunan kualitas tebu, hingga beban utang budidaya yang harus ditanggung petani.

Di tengah upaya pendataan, APTRI juga menyiapkan langkah lain—saluran aspirasi yang lebih terbuka. Sebuah aksi kolaboratif direncanakan berlangsung pada Kamis, 12 Februari 2026, di area Pabrik Gula PT GMM Todanan. Ribuan orang diperkirakan terlibat, mulai dari sopir truk tebu, karyawan SPSI, petani, hingga serikat pekerja pabrik. Bagi mereka, aksi bukan sekadar unjuk suara, melainkan penanda bahwa persoalan ini telah menyentuh banyak lapisan kehidupan.

Hingga berita ini diturunkan, manajemen PT GMM Todanan belum memberikan keterangan resmi mengenai status perbaikan boiler maupun rencana operasi giling berikutnya. Di ladang-ladang tebu Blora, para petani masih menunggu—bukan hanya kepastian jadwal, tetapi juga kepastian bahwa jerih payah satu musim tanam tidak berakhir sia-sia. (*)

BERITA TERKAIT