PWRI Blora: Menjadi “KEREN” di Usia Senja, Tetap Guyub dan Menebar Manfaat

Korandiva-BLORA.- Menjelang datangnya Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah, ruang pertemuan Kantor Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI) Kabupaten Blora, Sabtu (9/5/2026), terasa lebih hangat dari biasanya.
Bukan sekadar rapat rutin para pensiunan pegawai negeri. Di ruangan sederhana itu, tersimpan kegelisahan, harapan, sekaligus semangat untuk tetap bermakna di usia senja.

Satu per satu para wredatama datang dengan langkah pelan namun wajah berbinar. Ada yang saling menepuk pundak, bercanda mengenang masa dinas puluhan tahun silam, hingga saling bertanya kabar cucu dan kesehatan.
Suasana guyub itu menjadi penanda bahwa masa pensiun bukan akhir pengabdian, melainkan babak baru untuk tetap hidup berguna bagi sesama.

Sekretaris PWRI Kabupaten Blora, H. Sudadyo, SH., tampil dengan pesan yang tidak sekadar normatif. Mantan Kepala Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Sosial itu mengajak para purna tugas agar tidak larut dalam rasa tua, apalagi mudah tersulut emosi karena persoalan kecil.

“Sudah saatnya kita menjadi sosok yang mampu menciptakan nuansa guyub rukun dan paseduluran saklawase. Jangan gampang mutungan hanya karena urusan sepele,” ujarnya dengan nada tegas namun penuh kehangatan.

Di hadapan para pengurus PWRI, Sudadyo seperti sedang mengingatkan satu hal penting: manusia yang telah selesai dengan urusan jabatan seharusnya justru semakin matang dalam kebijaksanaan.
Momentum Iduladha, menurutnya, bukan hanya tentang ritual kurban. Lebih dari itu, ada nilai keikhlasan, pengorbanan, dan kepedulian sosial yang harus terus dirawat hingga akhir hayat.

Suasana rapat pun sempat pecah oleh gelak tawa ketika nama H. Winarno, S.Sos., disebut. Mantan Kepala Inspektorat Blora itu sebelumnya sukses mencairkan suasana dalam acara Halalbihalal keluarga besar PWRI bersama Bupati Blora Dr. H. Arief Rohman, S.IP., M.Si., dan Wakil Bupati Hj. Sri Setyorini lewat lagu-lagu jenaka yang dibawakannya.

Bagi PWRI, hiburan sederhana semacam itu bukan perkara remeh. Tawa dianggap sebagai vitamin batin agar para lansia tetap sehat, bahagia, dan tidak merasa sendiri menghadapi usia tua.
Kehangatan pertemuan semakin terasa saat doorprize dibagikan kepada seluruh pengurus yang hadir. Dengan gaya khasnya, H. Sudadyo menyebut bingkisan itu sebagai “hadiah dari langit”.

Kalimat itu sontak mengundang senyum dan tepuk tangan peserta.
Namun di balik candaan tersebut, terselip pesan mendalam tentang pentingnya budaya berbagi atau kepyur. Sebab menurutnya, orang yang ringan tangan membantu sesama akan hidup lebih mujur dan makmur.

Dalam forum itu pula, PWRI Blora memperkenalkan sebuah filosofi sederhana namun sarat makna: “KEREN”.
Bukan keren dalam pengertian gaya hidup modern atau kemewahan. Tetapi keren sebagai pedoman moral para wredatama dalam menjalani usia senja.
“K” berarti Kesehatan, menjaga jasmani dan rohani agar tetap mampu berkarya nyata.
“E” adalah Empati, peduli kepada sesama dan lingkungan sekitar.
“R” bermakna Rajin, tekun beribadah, bersedekah, serta membela kaum lemah.
“E” berikutnya berarti Enyahkan, membuang pikiran negatif dan memperbanyak prasangka baik.
Dan “N” adalah Nekat — berani konsisten dalam berbuat baik dan menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar.

Konsep itu sederhana, tetapi terasa menampar realitas hari ini. Di tengah zaman yang serba gaduh dan individualistis, para pensiunan justru berusaha menjaga warisan nilai luhur: kerukunan, kepedulian, dan keteladanan.

Rapat konsolidasi PWRI Blora sore itu akhirnya bukan hanya menjadi ajang temu kangen para mantan birokrat. Lebih dari itu, pertemuan tersebut menjelma ruang refleksi bahwa usia boleh menua, tetapi semangat untuk bermanfaat tidak boleh ikut purna.
Dan dari ruang kecil di sudut Kota Blora itu, para wredatama sedang mengajarkan satu pelajaran penting:
masa tua yang paling indah bukanlah tentang berhenti bekerja, melainkan tetap mampu menebar manfaat bagi sesama manusia. (*)

Koran DIVA Cetak Edisi 1066, Terbit Tanggal 27 April 2026

spot_img

BERITA TERBARU

BERITA TERKAIT
Related