Korandiva-BLORA.- Di tengah kekacauan musim giling 2026 dan lumpuhnya Pabrik Gula PT GMM Bulog, pengurus Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Kabupaten Blora akhirnya bergerak sendiri mencari jalan penyelamatan nasib petani.
Dengan biaya swadaya dan tanpa dukungan nyata dari pihak pabrik maupun pemerintah, rombongan APTRI Blora yang dipimpin Ketua APTRI, Drs. H. Sunoto, nekat mendatangi Forum Musyawarah Pabrik Gula (FMPG) di PG Pakis Baru, Kabupaten Pati, Rabu (6/5/2026).
Langkah itu menjadi tamparan keras bagi manajemen PT GMM Bulog yang dinilai gagal memberi kepastian kepada ribuan petani tebu Blora. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, APTRI Blora harus “mengungsi” ke luar daerah demi mencari pabrik penggiling pengganti.
Kondisi PT GMM sendiri disebut memprihatinkan. Dua boiler rusak berat membuat operasional pabrik kolaps total. Aliran listrik diputus dan kawasan pabrik kini hanya dijaga petugas keamanan, meninggalkan petani dalam ketidakpastian.
“Kami datang ke sini bukan untuk gagah-gagahan. Petani sudah di ujung tanduk. Tebu siap panen, tapi pabrik sendiri mati suri. Kalau kami diam, petani bisa hancur,” tegas H. Sunoto.
Dalam forum yang dihadiri petani dari Pati, Jepara, Rembang, serta utusan Direktorat Jenderal Perkebunan (Dirjenbun) Jakarta itu, suara petani Blora terdengar paling keras.
Wahyuningsih, mantan Kabag Tanaman PT GMM yang kini berdiri bersama petani, melontarkan kritik terbuka terhadap lemahnya respons pemerintah pusat. Ia mendesak adanya pos pemantau tebu di Kecamatan Todanan, subsidi angkutan, hingga optimalisasi armada tronton untuk menekan biaya distribusi petani.

Tak berhenti di situ, ia juga menyindir dinginnya respons Wakil Menteri Pertanian saat persoalan kehancuran petani Blora sebelumnya disampaikan dalam peringatan HUT HKTI ke-53.
Nada lebih tajam disampaikan Sekretaris APTRI Blora, Anton Sudibyo.
“Kami benar-benar gumun. Wong cilik sudah di ambang kebangkrutan, tapi para pemimpin di pusat seperti kehilangan sensitivitas. Jeritan petani seperti dianggap angin lalu,” cetusnya.
H. Sunoto bahkan mempertanyakan apakah tragedi lumpuhnya PT GMM dan ancaman kehancuran petani Blora benar-benar sudah sampai ke meja Menteri Pertanian, menyusul jawaban normatif staf Dirjenbun yang hanya menyebut persoalan itu “sudah dilaporkan”.
Di tengah situasi suram itu, secercah harapan justru datang dari luar daerah. Manajemen PG Pakis Baru menyatakan siap menerima tebu petani Blora pada musim giling 2026.
Pimpinan PG Pakis Baru, Amin P., menyambut langsung rombongan APTRI Blora dan memastikan pihaknya terbuka membantu petani, dengan syarat kualitas tebu tetap dijaga.
“Kami siap membantu petani Blora. Tapi tebunya harus bersih, jangan ada sogol dan pucuk tebu ikut terbawa,” tegasnya.
PG Pakis Baru sendiri dikenal sebagai salah satu pabrik gula terbaik di Jawa Tengah dengan capaian rendemen tertinggi pada musim giling 2025.
Perjuangan APTRI Blora ini menjadi simbol perlawanan petani terhadap pembiaran. Ketika korporasi tumbang dan birokrasi dinilai abai, petani akhirnya hanya bisa mengandalkan solidaritas, keberanian, dan perjuangan mandiri untuk menyelamatkan hidup mereka sendiri. (*)


