Wong Abangan Nglumpuk, Sedekah Bumi Ngraketke Sedulur Randublatung

by: Yudha Rachmawan

Korandiva-BLORA.- Malam di Kelurahan Randublatung itu tak sekadar gelap yang turun perlahan. Ia membawa kehangatan—dari tawa, sapa, dan kebersamaan ratusan warga yang berkumpul di lapangan, Kamis (1/5/2026). Dalam balutan tradisi Sedekah Bumi, masyarakat kembali diingatkan pada akar yang sama: tanah yang menghidupi, dan kebersamaan yang menjaga.
Komunitas Wong Abangan bersama warga setempat menjadi penggerak denyut malam itu. Tak ada sekat, tak ada jarak. Warga, tokoh masyarakat, hingga berbagai organisasi dari penjuru Kabupaten Blora larut dalam suasana guyub. Pagelaran seni mengalun, doa-doa dipanjatkan—mengikat masa lalu, hari ini, dan harapan ke depan.

Di tengah kerumunan, Andita Nugrahanto berdiri di atas panggung. Sosok yang dikenal sebagai pimpinan partai berlambang banteng di Blora itu tak sekadar hadir, tetapi menyuarakan pesan yang menohok sekaligus merangkul.
“Sedekah Bumi bukan sekadar seremonial. Ini pengingat bahwa kita hidup dari bumi yang sama, minum dari sumber yang sama. Jadi nggak ada alasan buat pecah,” ujarnya tegas, disambut koor “siap” dari warga yang mengangkat tangan—sebuah isyarat sederhana, namun penuh makna.

Pesan itu terasa relevan. Di tengah dinamika sosial yang kerap menguji, tradisi seperti ini menjelma ruang perjumpaan—tempat semua perbedaan melebur tanpa harus dihapus.
Pantauan di lokasi, acara berlangsung meriah namun tetap tertib. Spanduk “Sedekah Bumi” dan Wong Abangan membingkai panggung, sementara di bawahnya, warga berbaur tanpa sekat. Anak-anak, orang tua, hingga pemuda tampak larut dalam suasana yang tak dibuat-buat—alami, hangat, dan hidup.

Satria, perwakilan pemuda Randublatung, menangkap pesan yang lebih dalam dari sekadar seremoni tahunan. “Ini bukan hanya tradisi. Ini cara kita diingatkan untuk tetap satu. Kami berterima kasih, karena kegiatan seperti ini membuat kami merasa punya rumah yang sama,” katanya.

Malam kian larut, namun semangat kebersamaan tak surut. Sejumlah ormas dan komunitas lintas elemen tetap bertahan, menunjukkan bahwa kebersamaan bukan sekadar slogan, melainkan praktik yang nyata.
Di penghujung acara, doa kembali dipanjatkan. Hening sejenak menyelimuti lapangan. Dalam diam itu, terselip harapan yang sama: keberkahan, keselamatan, dan Blora yang tetap aman, tenteram, dan utuh.
Sedekah Bumi di Randublatung malam itu bukan hanya tentang menjaga tradisi. Ia menjadi penegas—bahwa selama masyarakat masih mau duduk bersama, mendengar, dan saling merawat, harapan untuk tetap rukun akan selalu ada. (*)

Koran DIVA Cetak Edisi 1066, Terbit Tanggal 27 April 2026

spot_img

BERITA TERBARU

BERITA TERKAIT
Related