Pendopo Blora Bergema oleh Tembang Kenangan dan Spirit Kartini

Date:

Korandiva-BLORA.— Di bawah naungan atap Pendopo Rumah Dinas Bupati Blora yang sarat jejak sejarah, Sabtu pagi itu menghadirkan suasana yang berbeda. Bukan rapat resmi, bukan pula seremoni formal yang kaku. Yang mengalun justru nada-nada kenangan, tawa hangat, dan semangat persaudaraan yang mengikat puluhan kelompok penyanyi lintas usia dalam satu harmoni.
Paguyuban Tembang Kenangan Kabupaten Blora menggelar Halalbihalal 1447 Hijriah yang dirangkai dengan Peringatan Hari Kartini ke-147, Sabtu (18/4/2026). Perpaduan dua momentum ini menjadikan pendopo bukan sekadar ruang pertemuan, melainkan panggung bagi nostalgia, penghormatan kepada perempuan, dan penguatan tali silaturahmi.

Nuansa hangat terasa sejak awal acara. Para perempuan tampil anggun mengenakan kebaya, sementara para pria memakai busana kejawen. Balutan pakaian tradisional itu memberi kesan bahwa warisan budaya dan kebersamaan masih hidup, bahkan di tengah arus zaman yang terus bergerak.
Presiden Paguyuban Tembang Kenangan Blora, Endang Setyowati, membuka acara dengan penuh semangat. Di hadapan para anggota yang hadir dari 28 kelompok tembang kenangan, ia menegaskan bahwa paguyuban ini bukan sekadar tempat bernyanyi bersama, tetapi ruang bagi para anggotanya untuk tetap produktif, sehat, dan bahagia.
“Dengan menyanyi, kita menjadi awet sehat, awet muda, dan relasi bertambah,” ujarnya, disambut tepuk tangan hadirin.

Dengan gaya khas yang renyah, Endang juga menyelipkan humor tentang usia anggota paguyuban yang mayoritas sudah memasuki masa purna tugas. Namun di balik candaan itu tersimpan kebanggaan bahwa semangat mereka tetap menyala.
“Semua anak pang, tidak ada yang ABG lagi,” katanya sambil tersenyum.

Menurut Endang, keberadaan 28 kelompok yang tergabung menunjukkan bahwa Paguyuban Tembang Kenangan Blora memiliki energi besar untuk berkembang. Bahkan, ia menegaskan bahwa paguyuban tersebut merupakan satu-satunya yang telah dikukuhkan dan terbesar di Jawa Tengah.
Lebih dari sekadar ajang hiburan, Endang menyebut paguyuban itu sebagai rumah bersama—tempat setiap anggotanya dapat menyalurkan hobi sekaligus merawat persaudaraan.

Suasana haru sempat menyelimuti pendopo ketika ia menyampaikan permohonan maaf lahir dan batin kepada seluruh anggota. Kata-katanya mengalir lembut namun penuh makna, mengajak semua yang hadir membersihkan hati dari segala ganjalan.
“Hari ini, kita bersihkan hati, buang jauh dendam dan iri. Sebab di sini, kita semua adalah satu keluarga besar yang diikat oleh nada dan cinta,” tuturnya.

Momentum itu menjadi inti dari halalbihalal: bukan hanya bertemu, tetapi memulangkan hati pada keikhlasan dan kebersamaan.
Dalam kaitannya dengan Hari Kartini, Endang mengajak perempuan-perempuan Blora untuk tetap kuat dan cerdas menghadapi zaman, tanpa meninggalkan nilai-nilai kesantunan.
“Kartini masa kini adalah mereka yang berani mandiri dan cerdas menantang zaman, namun tetap memeluk erat kesantunan,” ujarnya.

Apresiasi terhadap semangat itu datang dari Ketua TP PKK Blora, Ainia Sholichah, yang juga menjadi penasihat paguyuban. Dalam sambutannya, ia menilai paguyuban tembang kenangan menjadi ruang penting bagi anggotanya untuk mengekspresikan kebahagiaan dengan cara sederhana namun bermakna.
“Kita juga berhak bahagia dengan versi kita masing-masing. Melalui tembang kenangan ini, yuk nyanyi bareng, senang bareng,” katanya.

Baginya, kebersamaan dalam nyanyian bukan sekadar hiburan, tetapi juga bentuk “healing” yang menyehatkan jiwa.
Setelah sambutan, Ainia didaulat menyanyikan lagu Keagungan Tuhan. Suaranya yang lembut dan syahdu menambah hangat suasana pagi itu. Momen tersebut menjadi simbol bahwa di balik jabatan dan peran sosial, semua yang hadir larut dalam kesederhanaan kebersamaan.
Momen manis lainnya hadir saat Endang Setyowati menyematkan selendang penghargaan kepada Ainia Sholichah dan Wakil Bupati Blora Sri Setyorini sebagai bentuk apresiasi atas dukungan mereka terhadap paguyuban.

Kehadiran Bupati Blora Arief Rohman menambah semarak acara. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi atas kekompakan para anggota paguyuban yang dinilainya mampu menjaga semangat guyub rukun melalui hobi bernyanyi.
“Kalau hobi itu biasanya guyub rukun semuanya. Ini bisa menjadi ruang silaturahmi sekaligus membuka peluang kegiatan sosial dan kesehatan ke depan,” ujarnya.

Ia berharap paguyuban ini dapat terus berkembang dan bersinergi dengan berbagai pihak untuk memberi manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Pada kesempatan itu, Bupati bersama Wakil Bupati dan penasihat paguyuban menyerahkan penghargaan secara simbolis kepada para peserta. Setelah itu, satu per satu dari 28 kelompok tampil membawakan lagu-lagu kenangan.

Acara hiburan dibuka dengan penampilan Wakil Bupati Sri Setyorini bersama Ketua KORMI Blora Soebekti yang membawakan lagu Sepanjang Jalan Kenangan. Lagu itu seolah menjadi simbol perjalanan panjang kebersamaan mereka—tentang usia yang terus berjalan, tetapi semangat yang tak pernah padam.
Nada demi nada mengalun memenuhi pendopo. Wajah-wajah sumringah, tepuk tangan riuh, dan gelak tawa yang bersahutan menegaskan satu hal: kebahagiaan tak mengenal usia.

Di pendopo itu, pagi tidak hanya diisi lagu-lagu lama, tetapi juga semangat baru. Semangat untuk terus menjaga kebersamaan, merawat budaya, dan menegaskan bahwa usia bukan alasan untuk berhenti berkarya.
Di tengah lantunan tembang kenangan, semangat Kartini terasa hidup: perempuan-perempuan yang tetap berdaya, tetap bersuara, dan tetap bahagia dengan caranya sendiri.
Dan ketika acara usai, yang tertinggal bukan sekadar gema lagu, melainkan kesadaran bahwa kebersamaan yang tulus selalu menemukan nadanya sendiri. (*)

Koran DIVA Cetak Edisi 1065, Terbit Tanggal 13 April 2026

spot_img

BERITA TERBARU

BERITA TERKAIT
Related