Korandiva-BLORA.- Di tengah kabar gencatan senjata di Timur Tengah, gelombang dampaknya ternyata merambat hingga ke lapak-lapak kecil di pelosok daerah. Bukan soal minyak atau gas, melainkan harga plastik—bahan sederhana yang menjadi penopang usaha ribuan pedagang kecil.
Di depan Kantor Kecamatan Kunduran, Kabupaten Blora, Manda (43) hanya bisa menghela napas panjang sambil melayani pembeli es teh dagangannya. Kenaikan harga cup plastik yang melonjak tajam membuatnya terpaksa menaikkan harga jual demi bertahan.
“Kalau harga tidak dinaikkan, ya tidak balik modal,” ujarnya lirih, Rabu (15/4/2026).
Bagi Manda, plastik bukan sekadar wadah minuman. Plastik adalah bagian dari roda usaha hariannya. Dari cup plastik itulah ia menggantungkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Namun beberapa pekan terakhir, harga plastik mendadak melonjak lebih dari dua kali lipat.
Satu slop cup plastik isi 50 buah yang sebelumnya bisa ia beli seharga Rp 13 ribu, kini melonjak menjadi Rp 24 ribu. Kenaikan lebih dari 100 persen itu memaksanya menaikkan harga es teh dari Rp 3 ribu menjadi Rp4 ribu per cup.
Kenaikan seribu rupiah mungkin terasa kecil bagi sebagian orang. Namun bagi pedagang kaki lima seperti Manda, keputusan itu bukan perkara mudah. Ia sadar, setiap kenaikan harga bisa membuat pelanggan berpikir dua kali sebelum membeli.
“Pelanggan tidak komplain, karena mereka juga tahu harga plastik naik,” katanya.
Meski begitu, ia mengaku penjualan mulai menurun. Pembeli masih datang, tetapi tak seramai biasanya. Pesanan minuman dingin yang dulu mengalir cukup ramai kini perlahan menyusut. Dalam kondisi seperti ini, pedagang kecil berada di posisi paling rentan: harga bahan baku naik, sementara daya beli pembeli ikut melemah.

Setiap hari Manda membuka lapaknya sejak pukul 09.00 pagi hingga 21.30 malam. Belasan jam ia habiskan di pinggir jalan demi menjual minuman dingin yang kini justru “memanas” karena biaya kemasan.
Ia tak bicara soal geopolitik, konflik kawasan, atau rantai pasok global. Yang ia rasakan hanyalah harga cup plastik yang tiba-tiba melonjak dan keuntungan dagangan yang semakin menipis.
“Pengennya harga plastik kembali normal, jadi saya bisa jual dengan harga standar,” harapnya.
Kisah Manda menggambarkan bagaimana gejolak ekonomi global tak pernah benar-benar jauh dari rakyat kecil. Ketika harga bahan baku naik akibat konflik internasional, pedagang kaki lima menjadi pihak pertama yang menanggung beban.
Di lapak sederhana itu, Manda dipaksa memikul beban yang tidak ia sebabkan: kenaikan harga kemasan, penurunan pembeli, dan ketidakpastian pendapatan.
Sementara bagi para pelanggan, segelas es teh yang naik seribu rupiah mungkin hanya angka kecil. Namun bagi pedagang seperti Manda, seribu rupiah itu adalah jarak tipis antara bertahan dan gulung tikar.
Pada akhirnya, perang di belahan dunia lain bukan hanya soal dentuman senjata. Bagi pedagang kecil di Kunduran, perang itu menjelma menjadi mahalnya plastik, turunnya pembeli, dan kecemasan akan hari esok. (*)


