MPKN Laporkan Dugaan “Permainan Kayu” di KPH Blora, Perhutani Bantah Ada Pembalakan Teroganisir

Korandiva – BLORA.- Laporan dugaan tindak pidana di bidang kehutanan mengguncang pengelolaan hutan di Blora. Ketua Masyarakat Pengawas Keuangan Negara (MPKN) Kabupaten Blora, Mohammad Fuad Mushofa, pada 8 Maret 2026 melayangkan pengaduan resmi ke Polres Blora terkait dugaan praktik kotor dalam aktivitas tebangan di wilayah Perhutani KPH Blora.
Fuad menilai kegiatan penebangan di sejumlah petak hutan tidak sekadar pelanggaran kecil, melainkan berpotensi mengarah pada penggelapan, pencurian kayu, hingga dugaan pembiaran oleh oknum pejabat setempat.
Menanggapi laporan tersebut, Wakil Administratur (Waka Adm) Perhutani KPH Blora, Teguh Anggoro, S.Hut., membantah keras tudingan adanya praktik ilegal yang terorganisir di bawah institusinya. Ia menegaskan seluruh aktivitas penebangan di lapangan telah mengikuti prosedur operasional.
“Kalau disebut pembalakan liar atau pencurian masif itu terlalu hiperbolis. Setiap penebangan sudah melalui rencana tebang, pengesahan, dan dilengkapi dokumen angkutan resmi,” kata Teguh saat mem berikan klarifikasi kepada awak media di kantornya, Rabu (11/3).
Meski demikian, Teguh tidak menutup kemungkinan adanya penyimpangan di tingkat bawah yang dilakukan oleh oknum. Ia menilai tindakan tersebut bersifat individual dan tidak mewakili kebijakan manajemen KPH Blora.
Ia mencontohkan temuan terbaru di wilayah Ngawen berupa sekitar tujuh batang kayu yang diduga bermasalah. Kasus itu, kata dia, telah diserahkan sepenuhnya kepada pihak kepolisian sebagai bukti bahwa pengawasan tetap berjalan.
“Tidak menutup kemungkinan ada ulah oknum, baik dari masyarakat, tenaga kerja, sopir angkutan, maupun dari internal Perhutani sendiri. Namun temuan kemarin sudah diproses,” jelasnya.
Namun penjelasan tersebut justru menuai kritik dari pelapor. Mohammad Fuad Mushofa menilai klarifikasi pihak KPH Blora terkesan hanya mencari kambing hitam di level bawah.
“Tidak tepat jika disebut hanya ulah oknum. Kasus ini terjadi di banyak lokasi tebangan dan melibatkan banyak kendaraan angkut. Sulit dipercaya kalau manajemen tidak mengetahui,” tegas Fuad.
Menurutnya, persoalan yang ia laporkan bukan sekadar tindakan individu, melainkan diduga memiliki pola sistemik yang melibatkan banyak titik tebangan dan armada angkut.
Ia memastikan akan membeberkan alur praktik yang diduga terjadi beserta bukti-bukti yang dimilikinya saat memberikan keterangan kepada penyidik. “Semuanya akan saya jelaskan secara gamblang agar persoalan ini terbuka terang,” ujarnya. (*)



