Korandiva-BLORA.- Lantunan ayat-ayat suci Alquran menggema di halaman Pondok Pesantren Al-Hikmah, Desa Ngadi Purwo, Blora, Selasa pagi, 11 November 2025. Ribuan orang—wali santri, tokoh agama, alumni, hingga warga sekitar—memadati area pesantren, menyatu dalam suasana khidmat yang jarang ditemui di hari-hari biasa.
Acara dibuka dengan doa yang dipimpin Kyai H. Muharor. Dari barisan depan hingga sudut halaman, para hadirin menundukkan kepala dengan khusyuk, mengikuti lantunan doa yang mengalir tenang. Di sinilah momen Khotmil Quran tahun ini dimulai, sebuah tradisi yang bukan hanya selebrasi, tetapi peneguhan perjalanan panjang para santri dalam menuntaskan hafalan Alquran.
Bagi Pondok Pesantren Al-Hikmah, khataman bukan sekadar acara seremonial. Ia menjadi puncak Penghargaan atas ketekunan para santri yang selama bertahun-tahun mempelajari, menghafal, dan menghayati ajaran Alquran. Kehadiran keluarga dan para alumni menambah hangat suasana, seolah menjadi saksi atas perjuangan yang kerap terjadi di balik tembok-tembok pesantren—perjuangan yang sunyi, tetapi penuh harap.

Dari panggung sederhana, Ketua Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikmah, Ustadz H. Muhlizon, menyampaikan rasa syukur. Ia mengapresiasi santri yang telah menyelesaikan hafalan dengan disiplin dan kesungguhan.
“Haflah Khotmil Quran bukan hanya seremoni, tetapi simbol perjalanan panjang dalam menuntut ilmu dan menghafal wahyu Allah,” ujarnya.
Mata para santri yang khatam tampak berbinar—sebagian menahan haru. Salah satunya, Siti, mengaku tidak pernah membayangkan bisa mencapai tahap ini. “Saya bersyukur bisa sampai di titik ini. Semoga ilmu yang saya peroleh bermanfaat bagi keluarga, masyarakat, bangsa, dan agama,” tuturnya dengan suara bergetar.
Saat matahari mulai condong, rangkaian acara ditutup dengan doa bersama. Di tengah riuh rendah ucapan selamat, para santri memeluk keluarga dan sesama teman seperjuangan. Khotmil Quran kembali menjadi pengingat, bahwa di pesantren seperti Al-Hikmah, ilmu tidak hanya diajarkan—tetapi ditanamkan, dirawat, dan akhirnya membentuk karakter generasi penerus. (*)



