Arsip Tag: Pengusaha

Pelantikan BPC HIPMI Blora, Wabup Blora: Ayo Kita Investasi di Blora

BLORA.-

Ajakan untuk investasi di Kabupaten Blora disuarakan oleh Wakil Bupati Blora Tri Yuli Setyowati. Hal tersebut disampaikan Wabup saat memberikan sambutan pengarahan pada pelantikan Badan Pengurus Cabang Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPC HIPMI Kabupaten Blora) di Pendopo DPRD setempat, Kamis (19/01/2023).
Menurutnya saat ini dengan adanya jalan yang main baik, Bandara Ngloram, 15 Kawasan Peruntukan Industri (KPI) menjadi nila tawar bagi Blora untuk investor masuk. “Ketum HIPMI Jateng Mas Rudy, monggo ajak kawan-kawan investor dari luar Blora masuk ke Blora,” terangnya.
Ketum HIPMI Jateng W Rudy Prasetyo akan mengajak investor bidang migas, hasil pertanian ke Blora. “Kami tahu potensi Blora ada migas, kayu jati. Siap Bu Wabup,” terang Rudy.


Tadi pagi pelantikan BPC HIPMI Kabupaten Blora berjalan lancar. Ketum Umum BPC HIPMI Kabupaten Blora Sri Endahwati dari Ngawen dan 35 pengusaha muda lainnya mempunya bisnis beragam. “Ada pemilik Kafe dan Kedai SEGARA, owner Ayam Geprek SAKO, Owner Sebara, pebisnis ayam, pupuk, bibit padi, event organizer, perkebunan tebu, mebel, migas dan lainnya,” terang perempuan pengusaha pertokoan retail tersebut.
Hadir pada kegiatan tersebut Wakil Ketua DPRD Blora Siswanto, Anggota DPRD Abdulah Aminudin, Penasehat Yusuf Ismail dan jajaran, perangkat daerah, perbankan, koperasi, KNPI dan akademisi. (*)

Makan Sepuasnya Bayar Seikhlasnya

BLORA.-

Ada ungkapan bijak yang sering kita dengar, di setiap musibah pasti ada hikmah dan di setiap kejadian pasti ada pelajaran yang sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia.
Demikian pula sejak pemerintah mengambil kebijakan menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), maka dampak langsung yang dirasakan oleh masyarakat adalah kehidupan mereka yang semakin sulit.
Hal itu seperti disampaikan tokoh masyarakat Blora Bambang Sulistya, Kamis (29/9/2022). “Karena semua kebutuhan hidup harganya mulai naik,” ucap mantan Sekda Blora itu.
Menurut Bambang, selain solusi dari pemerintah yang saat ini sudah menggelontorkan Bantuan Langsung Tunai (BLT) kepada masyarakat, maka perlu ada langkah terobosan dan solusi lain.
Maka sangat diharapkan dari berbagai elemen masyarakat yang memiliki kepekaan, kepedulian dan kemampuan dana agar ikut memberi sumbangsih dan bantuan–utamanya kepada anggota masyarakat yang kurang beruntung.
Dan, ternyata di Kabupaten Blora, Jawa Tengah telah muncul sebuah inovasi sosial dan spiritual yang barangkali bisa menjadi salah satu solusi guna meringankan beban kehidupan masyarakat, yaitu hadirnya sebuah warung makan yang memberikan kebebasan kepada para pengunjung untuk membayar seikhlasnya.
Warung makan itu diberi nama “Monosuko” dan berdomisili di Jln Nusantara No 50, Kota Blora, dengan menu makanan yang tersaji berupa: nasi rawon, soto dan ayam geprek.
“Bersyukur saya kemarin, berkesempatan menikmati menu makanan di warung tersebut,” ungkap Bambang.
Warung Monosuko, memiliki sesanti, makan sepuasnya bayar seikhlasnya. Dari sisi rasa dijamin memenuhi selera makanan para konsumen.
Apalagi dari sisi kualitas dapat dipastikan tidak mau kalah dengan makanan soto, rawon dan ayam geprek bertarif. Mengingat dalam penyajian menu makanannya juga ditangani secara profesional.
Martono, pengusaha milenial yang punya gagasan sekaligus pemilik warung Monosuko mengungkapkan untuk penanganannya ia menghadirkan seorang Chef bernama Dibdyo yang bekerja di sebuah hotel berbintang di Surabaya.
Langkah dan kiprah Martono untuk membuka warung Monosuko patut diapresiasi dan mendapat acungan jempol.
Karena di tengah masyarakat yang sedang mengalami kesulitan hidup. Ia mewujudkan Ide cerdas yang melangit untuk berbagi dengan memberi subsidi berupa makanan kepada anggota masyarakat yang membutuhkan dengan membayar seikhlasnya.
Seandainya di Kabupaten Blora di setiap kecamatan ada sebuah warung model Monosuko, maka bisa dipastikan akan memberikan kontribusi positif bagi peningkatan gizi untuk mendukung kualitas sumber daya manusia sekaligus ikut andil dalam menangkal dan mengatasi stunting.
“Karena pada saat saya di warung Monosuko sudah ada anak-anak yang memakai seragam Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama menikmati menu makanan,” tambah Bambang Sulistya yang sekarang dipercaya sebagai Ketua PWRI Blora.
Sementara kalau melihat dan mendengar dari penuturan Martono. Ia sosok pengusaha muda yang berpredikat S3, bukan dimaksudkan yang bersangkutan bertitel Doktor namun perilaku yang ditunjukan mencerminkan sikap paripurna.
Meliputi S1, Sederhana/prasojo dalam berucap dan bertindak ora neko neko. Komitmen dalam berjanji dan bersinergi membangun kemitraan berusaha
S2, Sosial selalu menjadi landasan dalam setiap melangkah baik dalam berbisnis maupun dalam bergaul di dimasyarakat. Seperti dalam membuka Warung Monosuko idea dasarnya belajar Kepyur/Berbagi.
Karena ia sehari-hari seorang pengusaha yang bergerak di bidang komoditas ayam yang setiap hari menghasilkan keuntungan.
Sebagian dari profit itu untuk disalurkan kepada masyarakat yang kurang beruntung melaluhi warung Monosuko dengan membayar seikhlasnya. Karena Ia menyadari, sebagian dari hasil usahanya adalah haknya kaum duafa.
Kemudian S3, Silaturahmi menjadi prinsip hidup dalam menggapai kesuksesan berusaha.
Karena dengan bersilaturahmi diyakini segala usaha akan lancar dan berkembang serta segala persoalan pasti akan memperoleh solusi dan kemudahan.
Perjalanan hidup Martono tak semulus jalan tol, pahit getir dan manisnya kehidupan sudah dijalani.
Ia dilahirkan dari keluarga petani sederhana dari Desa Nglengkir Kecamatan Bogorejo, Kabupaten Blora.
Dirinya banyak belajar dari kegagalan usaha dan kegelapan hidupnya, namun semangatnya selalu tak pernah pudar apalagi kata menyerah atau kapok dalam berusaha.
Selalu bangkit dan memiliki optimisme dari setiap keterpurukan usaha. Bahkan mau belajar dan menerima nasehat dari siapapun asal untuk kebaikan.
Masih ada ide dari Martono yang sederhana tapi memiliki makna bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat Blora yang akan diwujudkan.
Berkenaan dengan hal tersebut ia mohon doa restu kepada masyarakat Blora semoga usaha warung makan Monosuko bisa tumbuh dan berkembang tidak hanya di Kecamatan Blora saja tapi bisa berdiri di kecamatan lainnya.
Ia siap bekerja sama dan bersinergi dengan siapapun yang memiliki kepekaan dan nurani untuk sesarengan mBangun Blora Mustika. (*).

Al Hidayah Green Village, Tawarkan Rumah Idaman Dekat Bandara

BLORA.-

Rumah adalah salah satu kebutuhan setiap keluarga. Tempat tinggal yang luas, bagus dan nyaman adalah impian setiap orang yang ingin memiliki rumah ideal. Karenanya, walaupun harga rumah mengalami fluktuasi, tak mengurangi minat konsumen untuk mencari rumah idaman.
Bagi Anda yang tengah mencari rumah idaman untuk keluarga, Al Hidayah Green Village bisa menjadi salah satu pilihan. Al Hidayah Green Village, berlokasi di Dukuh Setrohadi, Desa Bumi Kentong Kecamatan Cepu. Akses masuk ke lokasi bisa ditempuh dari Jl. Raya Cepu-Randublatung, tepatnya di samping barat Balai Desa Mernung.
Seiring perkembangan perekonomian Kota Cepu setelah beroperasinya bandara, memiliki rumah di Al Hidayah Green Village adalah pilihan yang tepat untuk investasi karena lokasinya dekat dengan Bandara Ngloram.
Kelebihan lain tinggal di perumahan Al Hidayah Green Village karena letaknya berada di didatar-an cukup tinggi serta mempunyai view atau pemandangan alam yang bagus.
Al Hidayah Green Village menawarkan kavling serta bangunan rumah sekaligus. Luas kavling 96 meter (8×12) ditawarkan dengan harga mulai dari 70 juta rupiah. Adapun kalau anda mengambil paket rumah, pilihan Standar tipe 42 harga 250 juta rupiah. Sedangkan Villa Otentik tipe 45 harga mulai 300 juta rupiah. Selain itu ada juga ruko 2 lantai seharga 450 juta rupiah.


Mia Fajarwati, selaku owner dan developer mengatakan, bahwa Al Hidayah Green Village lebih menekankan pada konsep back to nature atau kembali ke alam dengan memaksimalkan serta memanfaatkan hasil bumi Blora dan Cepu. Tak heran, disain bangunan rumah Al Hidayah Green Village banyak menggunakan rangka kayu jati.
“Konsep rumah di Al Hidayah mempunyai ruang terbuka yang cukup luas, yang tidak dimiliki oleh developer lain. Dimana ruang terbuka ini bisa dimanfaatkan untuk tamah atau dijadikan ruang tambahan” jelas Mia, ketika ditemui wartawan, Rabu (14/07/2022).
Jebolan fakultas hukum di salah satu universitas di Surabaya itu terlihat sangat menguasai dan menikmati seputar dunia properti. Pengalaman kerja di perusahaan oil & gas menempanya sebagai pekerja keras dan ulet. Usianya yang masih mu-da, tidak menyurutkan semangatnya untuk terjun di usaha properti yang penuh tantangan serta persaingan.
Saat ini Al Hidayah Green village mengelola lahan seluas satu hektar dengan 52 kavling, beberapa kavling sudah terjual dan bahkan sudah ditempati. Menurut Mia, kedepan rencananya akan diperluas areanya.
“Konsepnya akan ada berbagai fasilitas yang mendukung untuk penghuni Al Hidayah Green Village serta lingkungan sekitar. Misalnya sekolah atau pesantren,” tandas wanita cantik itu dengan senyum optimisnya. (*)