Arsip Kategori: OPINI

Opini

Puasa di Hari Asyura

MARILAH kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan cara melaksanakan semua kewajiban dengan segenap keteguhan hati dan kemantapan jiwa, dan menjauhkan diri dari seluruh yang diharamkan dengan penuh ketabahan dan kesabaran.
Peristiwa masa lalu tidak hanya untuk dikenang tapi untuk dijadikan pelajaran bagi kehidupan kita di masa sekarang dan masa mendatang, untuk diambil hikmahnya agar kita dapat meningkatkan keimanan dan ketakwaan dan mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat yang kekal.
Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnad-nya dari sahabat Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu, bahwa ia berkata:
“Suatu hari, Nabi Shallallahu alaihi wa salam berjalan melewati sekelompok orang Yahudi yang tengah berpuasa hari Asyura, maka Nabi Shallallahu alaihi wa salam bertanya, “Puasa hari apa ini?” Mereka menjawab: Hari ini adalah hari ketika Allah menyelamatkan Musa dan Bani Isra’il, sedangkan Fir’aun di hari ini ditenggelamkan Allah. Dan hari ini adalah hari ketika perahu Nabi Nuh berlabuh di bukit Al Judiy. Karena itu Nuh dan Musa berpuasa di hari ini, karena bersyukur kepada Allah ta’ala. Lalu Nabi shallallahu ‘alai wa sallam bersabda: “Aku lebih berhak terhadap Musa dan lebih berhak untuk berpuasa di hari ini.” Kemudian Nabi memerintahkan para sahabatnya untuk berpuasa. (HR Imam Ahmad).
Dalam hadits di atas, disebutkan dua peristiwa dari sekian banyak peristiwa penting yang terjadi di hari Asyura. Yaitu berlabuhnya perahu Nabi Nuh dengan selamat di Bukit Judiy dan selamatnya Nabi Musa dari kejaran Raja Fir’aun beserta bala tentaranya.
Nabi Nuh ‘alaihissalam diutus oleh Allah kepada kaum yang kafir. Beliau-lah nabi dan rasul pertama yang diutus oleh Allah kepada orang-orang kafir. Para nabi dan rasul sebelumnya, yaitu Nabi Adam, Nabi Syits dan Nabi Idris ‘alaihimussalam diutus oleh Allah kepada kaum Muslimin. Umat ketiga nabi tersebut semuanya beragama Islam. Tidak ada satu pun yang kafir.
Nabi Nuh konsisten dalam berdakwah selama 950 tahun. Akan tetapi kebanyakan kaumnya tidak beriman. Mereka tetap pada kesesatan dan kekufuran. Mereka memusuhi Nabi Nuh, menyakitinya, melecehkannya bahkan memukulinya. Hingga doa murka terucap dari lisan Nabi Nuh as yang maknanya:
“Nuh berkata: Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun diantara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi.” (QS. Nuh: 26)
Lalu Allah timpakan kepada mereka banjir besar sehingga tidak menyisahkan satu orang pun diantara orang-orang kafir. Allah selamatkan Nabi-Nya dan orang-orang beriman diantara kaumnya dengan perahu yang dibuat oleh Nabi Nuh dengan perintah Allah. Allah pun menjaga perahu tersebut hingga berlabuh dengan selamat di Bukit Judiy.
Sedangkan Nabi Musa, beliau hidup di masa raja yang zalim dan melampaui batas, yaitu Fir’aun yang mengaku sebagai tuhan. Allah memerintahkan Nabi Musa agar pergi kepada Fir’au untuk mengajaknya masuk ke dalam Islam, meng-ESA-kan Allah dan mensucikan-Nya dari sekutu berhala.
Maka Nabi musa pergi dan memperlihatkan kepadanya mukjizat-mukjizat yang sangat menakjubkan dan membuktikan bahwa beliau benar-benar utusan Allah ta’ala.
Meskipun begitu, Fir’aun tetap kafir kepadanya, menolak dan bersikap congkak serta menyiksa dan menindas kaum Nabi Musa yang beriman.
Akhirnya, Nabi Musa ‘alaihisalam dan para pengikutnya dari kalangan Bani Isra’il keluar dari Mesir.
Fir’aun mengejarnya bersama ribuan pasukan karena ingin memusnahkan Musa dan orang-orang yang bersamanya. Akan tetapi Allah menolong Rasul-Nya. Allah ta’ala berfirman:
“Lalu Kami wahyukan kepada Musa, “Pukullah lautan itu dengan tongkatmu,” maka terbelah-lah lautan itu dan tiap-tiap belahan seperti gunung yang besar.” (QS Asy-Syu’ra: 63)
Laut terbelah lalu Nabi Musa ‘alaihissalam dan orang-orang yang bersamanya menyeberangi laut. Fir’aun dan pasukannya pun mengejar mereka. Allah subhannahu wa ta’ala kemudian menenggelamkan mereka semua dan Allah selamatkan Nabi Musa ‘alaihissalam dan orang-orang yang bersamanya.
Allah ta’ala berfirman:
“Dan kami menyelamatkan Bani Isra’il melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir’aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka), hingga ketika Fir’aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia, “Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Isra’il, dan saya termasuk orang-orang yang memeluk Islam.” Apakah sekarang (kamu baru percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan” (QS Yunus 90-91)
Ketika Fir’aun hampir tenggelam dan mati, ia menyatakan taubat, Padahal taubat tidak lagi bermanfaat dan tidak diterima dalam keadaan seperti itu. Karena diantgara syarat taubat adalah dilakukan sebelum seorang putus asa dari hidup seperti ketika akan tenggelam dan tidak ada kemungkinan selamat.
Maka dari itu, agar kita diberikan pertolongan oleh Allah SWT, kita disunnahkan puasa pada hari ke-9 dan 10 Muharram sebagaimana yang dijelaskan di dalam hadits.
Hikmah dari puasa tanggal 9 disamping berpuasa pada tanggal 10 Muharram sebagaimana dikatakan oleh sebagian ulama adalah agar berbeda dengan orang-orang Yahudi, karena mereka hanya berpuasa di tanggal 10 saja. (*)


*) Penulis adalah, alumni Ponpes Asy Syadzili, Malang, Jawa Timur. Tinggal di Cepu, Blora.

Bulan Muharram

KALENDER hijriyah dimulai dari Bulan Muharram. Ia merupakan bulan yang mulia dalam pandangan Allah SWT. Ia memiliki berbagai keutamaan dan mempunyai sejarah penting dalam sejarah umat Islam.

SEJARAH BULAN MUHARRAM
Bulan Muharram berasal dari kata haram yang artinya suci atau terlarang. Dinamakan Muharram, karena sejak zaman dulu, pada bulan ini dilarang berperang dan membunuh. Larangan itu terus berlaku hingga masa Islam. Bahkan bulan Muharram termasuk salah satu bulan haram.
Orang-orang Arab baik sebelum masa Rosulullah SAW maupun pada masa beliau tidak memiliki angka tahun. Mereka biasa menamakan tahun dengan peristiwa besar yang terjadi pada tahun tersebut.
Misalnya ada tahun yang disebut tahun gajah (amul fil) karena di tahun tersebut terjadi peristiwa pasukan gajah di bawah pimpinan Abrahah yang akan menghancurken Ka’bah.
Ada tahun yang disebut sebagai tahun fijar (amul fijar) karena saat itu terjadi perang fijar. Ada tahun yang disebut tahun nubuwah karena di tahun itu Rosulullah menerima wahyu.
Pada tahun ketiga masa pemerintahan Umar bin Khattab RA, datang satu masalah yang dialami oleh pejabat pemerintah. Ketiadaan angka tahun membuat sebagian pejabat pemerintah kesulitan. Salah satunya adalah Gubernur Basrah, Abu Musa Al Asy’ari RA.
Atas aduan Abu Musa, Umar kemudian menerbitken kalender Islam. Setelah bermusyawarah dengan para sahabat terkemuka, Umar memutuskan bahwa awal kalender Islam dimulai dari tahun hijrahnya Rosulullah SAW. Karenanya kalender Islam dikenal dengan nama kalender hijriyah.
Selanjutnya, bulan apa yang dijadikan bulan pertama tahun hijriah? Utsman bin Affan mengusulken Muharram. Mengapa? Sebab sejak dulu orang Arab menganggap Muharram adalah bulan pertama.
Kedua, umat Islam telah menyelesaiken ibadah haji pada bulan Dzulhijjah.
Ketiga, bulan Muharram merupakan bulan munculnya tekad hijrah ke Madinah setelah pada Dzulhijjah terjadi Baiat Aqabah II.
Maka jadilah Muharram sebagai bulan pertama dalam kalender hijriyah. 1 Muharram adalah tahun baru hijriyah.

PERISTIWA PENTING PADA BULAN MUHARRAM
Banyak peristiwa penting terjadi pada bulan Muharram. Mulai dari masa Nabi terdahulu hingga masa Islam.
Beberapa peristiwa penting pada bulan Muharram sebelum masa Rosulullah SAW adalah sebagai berikut:

  1. Nabi Adam AS bertaubat kepada Allah SWT dan Allah SWT menerima taubatnya.
  2. Kapal Nabi Nuh AS berlabuh di bukit Zuhdi setelah banjir dahsyat yang menenggelamken mayoritas penduduk bumi saat itu.
  3. Selamatnya Nabi Ibrahim AS dari siksaan api Raja Namrud.
  4. Nabi Yusuf AS bebas dari penjara Mesir.
  5. Keluarnya Nabi Yunus ‘alaihis salam dari perut ikan dengan selamat.
  6. Allah SWT menyembuhken Nabi Ayyub AS dari penyakitnya.
  7. Allah SWT menyelamatken Nabi Musa AS dan menenggelamken Fir’aun.

Sedangken peristiwa penting pada bulan Muharram yang terjadi masa Islam antara lain sebagai berikut:

  1. Pada Muharram 1 H, muncul tekad hijrah ke Madinah setelah pada Dzulhijjah terjadi Baiat Aqabah II.
  2. Pada Muharram 7 H, terjadi perang Khaibar. Kaum muslimin menang dengan gemilang.
  3. Pada 1 Muharram 24 H, Umar bin Khattab dimakamken setelah syahid dibunuh oleh Abu Lu’lu’ah seorang Majusi.
  4. Pada 10 Muharram 61 H, terjadi musibah besar. Sayyidina Husain, cucu Rosulullah SAW, dan keluarganya dibunuh di Karbala. . .

KEUTAMAAN BULAN MUHARRAM

  1. Bulan Haram
    Bulan Muharam merupaken salah satu bulan haram. Allah SWT berfirman:
    Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptaken langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu. (QS. At Taubah : 36).

Empat bulan haram yang dimaksud dalam Surat At Taubah ayat 36 ini adalah bulan Dzulqo’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab.

Ashurul haram (bulan haram), termasuk bulan Muharam ini adalah bulan yang dimuliaken Allah SWT. Bulan-bulan ini memiliki kesucian, dan karenanya menjadi bulan pilihan. Di antara bentuk kesucian dan kemuliaan bulan-bulan ini adalah kaum muslimin dilarang berperang, kecuali terpaksa jika diserang oleh kaum kafir. Kaum muslimin juga diingatken agar lebih menjauhi perbuatan aniaya pada bulan haram. . .

  1. Bulan Allah
    Keutamaan bulan Muharram yang kedua adalah, bulan ini disebut sebagai Syahrullah (bulan Allah). Rosulullah SAW bersabda:
    “Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada syahrullah (bulan Allah) yaitu Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim)

Az Zamakhsyari menjelasken, ”Bulan Muharram disebut syahrullah (bulan Allah), disandarken pada lafazh jalalah ’Allah’ untuk menunjukken mulia dan agungnya bulan ini. Sebagaimana kita menyebut ’Baitullah’ (rumah Allah) atau ’Ahlullah’ (keluarga Allah) ketika menyebut Quraisy. Penyandaran yang khusus di sini dan tidak kita temui pada bulan-bulan lainnya, ini menunjukken adanya keutamaan pada bulan ini.”

Sedangken Al Hafizh Abul Fadhl Al ’Iraqiy menjelasken, Muharram disebut syahrullah karena pada bulan ini diharamken pembunuhan dan ia merupaken bulan pertama dalam Setahun.

  1. Waktu Puasa Tasu’a dan Asyura
    Kemuliaan ketiga dari bulan ini adalah, disunnahkennya puasa tasu’a dan ayura. Bahkan puasa tasu’a dan asyura serta puasa sunnah lainnya (senin kamis, ayamul bidh, puasa daud), nilainya menjadi puasa yang paling mulia setelah Ramadhan. . .
    Rosulullah SAW bersabda:
    Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah (berpuasa) di bulan Allah, Muharam. (HR. Muslim)

Secara khusus, Rosulullah SAW menyebutken keutamaan puasa asyura dalam sabdanya :
Rlsulullah ditanya mengenai puasa asyura, beliau menjawab, “ia bisa menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim)

Sedangkan mengenai puasa tasu’a, Rosulullah SAW berazam untuk menjalankennya, meskipun beliau tidak sempat menunaiken karena wafat sebelum Muharam tiba. Lalu para sahabatnya menjalanken puasa tasu’a seperti keinginan Rosulullah SAW:
“Apabila tahun depan (kita masih diberi umur panjang), kita akan berpuasa pada hari tasu’a (kesembilan).” (HR. As-Suyuthi dari Ibnu Abbas, dishahihkan Al Albani dalam Shahihul Jami’).

AMALAN SUNNAH DI BULAN MUHARRAM

  1. Memperbanyak puasa sunnah dan Amalan sunnah . . .pertama pada bulan ini adalah memperbanyak puasa sunnah. Sebab puasa sunnah paling utama adalah puasa sunnah di bulan ini sebagaimana sabda Rosulullah SAW:
    Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah (berpuasa) di bulan Allah, Muharam. (HR. Muslim)

Ibnu Rajab mengisyaratken, puasa yang dimaksud adalah puasa sunnah mutlak, bukan puasa sunnah muqayyad. Umar, Aisyah dan Abu Tholhah termasuk para shahabat yang banyak berpuasa di bulan-bulan haram termasuk bulan Muharram. . .

  1. Puasa Asyura
    Yakni puasa pada tanggal 10 Muharram. Ini adalah amalan yang paling utama dan puasa sunnah terbaik di bulan Muharram yang keutamaannya bisa menghapus dosa setahun.
    Rosulullah SAW ditanya mengenai puasa asyura, beliau menjawab, “ia bisa menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim)
  2. Puasa Tasu’a
    Yakni puasa pada tanggal 9 Muharram. Rosulullah berazam untuk mengerjakennya, meskipun beliau tidak sempat menunaiken karena wafat sebelum waktu itu tiba. Lalu para sahabatnya menjalanken puasa tasu’a seperti keinginan Rosulullah SAW:
    “Apabila tahun depan (kita masih diberi umur panjang), kita akan berpuasa pada hari tasu’a (kesembilan).” (HR. As-Suyuthi; shahih)
  3. Membantu orang lain
    Amalan sunnah berikutnya adalah memberiken kelapangan kepada keluarga, termasuk istri dan anak-anak, di hari asyura. Memberiken kelapangan ini maksudnya adalah membantu mereka dan menyenangken hati mereka. Misalnya buka bersama di rumah makan, memberiken hadiah, dan sejenisnya.
    Sayyid Sabiq dalam Fiqih Sunnah membuat judul khusus (Bagaimana merayakan hari Asyura). Sayyid Sabiq mencantumken hadits ini di bawah judul tersebut:
    “Barangsiapa memberi kelapangan bagi dirinya dan bagi keluarganya pada hari Asyura, maka Allah akan memberi kelapangan baginya sepanjang tahun itu” (HR. Baihaqi)

“Hadits tersebut memiliki riwayat lain, tetapi semuanya lemah,” kata Sayyid Sabiq. “Hanya saja apabila digabungken antara satu dengan lainnya, maka bertambah kuat sebagaimana yang telah dikatakan Sakhawi.”

Berikut ini sebagian hadits-hadits yang dimaksud oleh Sayyid Sabiq sebagai penguat hadits di atas:
“Barangsiapa memberi kelapangan bagi keluarganya pada hari Asyura, maka Allah akan melapangkennya di keseluruhan tahun itu” (HR. Thabrani dan Hakim)
“Barangsiapa memberi kelapangan bagi keluarganya pada hari Asyura, maka ia takkan kesulitan di waktu lain sepanjang tahun itu” (HR. Thabrani)
“Barangsiapa memberi kelapangan bagi keluarganya pada hari Asyura, maka Allah akan memberi kelapangan kepada keluarganya sepanjang tahun itu” (HR. Baihaqi)
“Barangsiapa memberi kelapangan bagi keluarganya pada hari Asyura, maka Allah akan memberi kelapangan baginya sepanjang tahun itu” (HR. Baihaqi)
Demikian pembahasan tentang bulan Muharram mulai dari sejarah, keutamaan hingga amalan sunnah di dalamnya. . . .
Semoga bermanfaat. . .
Wallahu a’lam. . .


Penulis adalah: Pengasuh Madrasatul Quran Rohmah Al Falah, Jl. Gajah Mada – Cepu.

Dua Ribu Dua Puluh Satu

Oleh: Trias Kuncahyono (Jurnalis senior)

TAHUN 2020 ditutup dengan peristiwa politik dramatik. Ibarat balap mobil, putaran terakhir berujung pada sebuah tikungan tajam dan buntu: Presiden Jokowi melantik mantan kandidat wakil presiden pada Pemilu 2019—Sandiaga Salahuddin Uno—menjadi Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Dan, pelarangan serta pembubaran FPI.
Bergabungnya Sandiaga Uno ini melengkapi mirabilia, keajaiban politik, yang terjadi pada akhir pemilu. Ketika itu, mantan kandidat presiden, Prabowo Subianto dan Partai Gerindra masuk dalam kabinet Jokowi. Langkah kaki Sandiaga Uno mengikuti ayunan langkah kaki Prabowo Subianto.
Layar panggung politik Pemilu 2019 diturunkan. Ceritanya berakhir sampai di sini. Inilah Annus Mirabilis, tahun mukjizat, tahun yang mengagumkan, tahun yang ajaib, tahun yang aneh.
Meskipun negeri ini—juga negara-negara lain di berbagai sudut dunia—dicengkeram oleh pandemi Covid-19 yang menelan korban jiwa demikian banyak; dan menghancurkan perekonomian dunia.
Politik memang selalu penuh kejutan. Politik tidak selalu berjalan linear. Untuk mendapatkan jumlah empat, tidak harus selalu dua ditambah dua; bisa tiga ditambah satu, bisa lima dikurangi satu, bisa pula delapan dibagi dua. Pendek kata, segala kemungkinan bisa terjadi. Maka itu, ada berbagai ragam definisi politik.
Ada yang mendefinisikan politik adalah proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat. Definisi lain, politik adalah upaya atau cara untuk memperoleh sesuatu yang dikehendaki.
Sementara Harold D. Laswell dan A. Kaplan dalam Power Society: menegaskan bahwa “politik adalah masalah siapa, mendapat apa, kapan, dan bagaimana.”
Itulah politik. Bahwa ada yang kecewa dari “ujung dari putaran terakhir itu?” Ya, pasti. Ada pro dan kontra dari kedua belah pihak. “Untuk apa berdarah-darah dalam pemilu, kalau ujungnya seperti itu.” Begitu salah satu keluhannya.
Memang, Pemilu 2019 telah mengubah tahun yang semestinya menjadi “tahun pesta demokrasi”; tahun “perayaan perbedaan” menjadi annus horribilis, tahun yang mengerikan, menakutkan, menggetarkan, seram, keji, dan keras.
Menjelang, selama, dan setelah Pemilu 2019, negeri ini seperti diselimuti awan hitam, awan kegelapan. Bayang-bayang perpecahan karena kepentingan politik dari hari ke hari rasanya semakin jelas.
Apalagi kalau mendengarkan perkataan dan pernyataan para elite politik, para tokoh (juga yang ditokohkan atau merasa dirinya tokoh) politik, sungguh seolah hanya kibasan “tongkat sakti” saja yang bisa menyelamatkan negeri ini.
Tidak berlebihan kalau Pemilu 2019 akan dicatat dalam buku besar sejarah bangsa dengan tinta hitam legam sebagai pemilu yang menimbulkan perbenturan demikian keras sesama anak bangsa. Pertarungan demikian keras, tajam, bahkan kasar.
Berbagai narasi politik yang membuat telinga dan hati panas, berbagai ragam ujaran kebencian, berbagai bentuk berita hoax, berbagai warna cercaan bernuansa sektarian, dan berbagai tindakan intoleran bertumpah ruah, membanjiri negeri ini lewat media sosial.
Pesta demokrasi tak lebih dari menghamburkan kata-kata sekadar untuk memfitnah dan mencerca pihak lain. Kebebasan berpendapat dan bersuara yang dijamin oleh demokrasi telah menjadi kampanye hitam disebar-luaskan.
Urusan bangsa yang sangat besar dan penting, telah dijadikan sebagai urusan personal. Berpolitik semata-mata untuk memburu kepentingan diri, kekepentingan kelompok, kepentingan golongan sendiri, bahkan kepentingan keluarga.
Celakanya lagi, semua itu justru dilakukan oleh mereka yang selama ini dipandang sebagai yang melek politik, yang dianggap memiliki kesadaran tinggi akan demokrasi, yang dijadikan panutan, dan yang suaranya didengar.
Mereka justru bersuara sumbang. Mereka justru ikut menebarkan paku-paku tajam yang merobek-robek sulaman indah kebhinekaan.
Tetapi, “tikungan tajam yang berujung di jalan buntu” itu menegaskan bahwa politik memang drama karakter dan keadaan yang tidak ada habisnya (Andrew Gamble, 2019); yang tidak ada akhirnya.
Kedua
Ada yang mengatakan, selama politik diartikan sebagai “kegiatan di mana orang bernegosiasi, berkolaborasi, dan bekerja sama untuk ‘How to get the power’?”, maka jangan harap akan tercipta ketentraman, perdamaian, dan persahabatan, serta persaudaraan sejati.
Mengapa? Karena prinsip yang pertama-tama akan dipegang dan dijunjung tinggi dalam berpolitik adalah seperti yang diungkapkan dalam bahasa Latin, Hostis aut amicus non est in aeternum; commoda sua sunt in aternum—“lawan atau kawan itu tidak ada yang abadi; yang abadi hanyalah kepentingan.”
Dan, Lord Palmerston (1784-1865) merumuskan menjadi: “tidak ada kawan dan lawan abadi, yang ada adalah kepentingan.”
Maka, seperti di atas sudah disebut bahwa kini berpolitik itu lebih berurusan dengan siapa mendapatkan apa, kapan, dan bagaimana cara mendapatkannya. Benar sekali adagium di atas. Banyak kali peristiwa politik membuktikan adagium tersebut.
Apa yang terjadi pada bulan Mei 1998, ketika situasi demikian genting, bisa menjadi salah satu contoh bahwa “tidak ada kawan dan lawan yang abadi yang abadi adalah kepentingan.”
Ketika itu, sejumlah menteri meninggalkan Soeharto; dan tindakan mereka ikut mempercepat berakhirnya kekuasaan Soeharto yang sudah bertahan tiga dasawarsa.
Maka orang akan mengatakan, politik bisa menjadi kejam. Apalagi kalau sudah menyangkut kekuasaan; bagaimana mendapatkan, mempertahankan, dan memperbesar kekuasaan.
Maka, dalam bahasa Niccolo Machiavelli, terjadilah penghalalan segala cara. Pada saat itu, kesetiaan hilang. Dalam perspektif ini, politik dipandang sebagai tindakan yang tidak berprinsip, tidak dapat dipercaya, atau tidak jujur, tipu daya.
Ini sama dengan peperangan. Tujuan akhir sebuah peperangan adalah merebut kemenangan. Demikian pula dalam berpolitik, kemenangan yang ingin menjadi tujuan akhir. Kemenangan itu akan membawa kekuasaan. Tidak ada satu pihak pun yang mau menderita kekalahan. Karena itu, segala cara dilakukan untuk mewujudkan kemenangan itu.
Itulah politik riil, di mana pertarungan untuk mendapatkan kekuasaan menjadi yang pertama dan utama. Tentu pengertian politik seperti tersebut di atas sangat berbeda dengan pengertian yang disodorkan oleh Frans Magnis-Suseno.
Menurut Frans Magnis-Suseno, politik adalah segala kegiatan manusia yang berorientasi kepada masyarakat secara keseluruhan, atau yang berorientasi kepada negara. Sebuah keputusan disebut keputusan politik apabila diambil dengan memperhatikan kepentingan masyarakat sebagai keseluruhan. Suatu tindakan harus disebut politis apabila menyangkut masyarakat sebagai keseluruhan.
Dengan demikian, tujuan akhir dari kegiatan politik adalah untuk kepentingan masyarakat banyak. Itulah karenanya, tujuan politik dimaksudkan untuk terciptanya kemaslahatan bersama, kemakmuran masyarakat secara keseluruhan, yang juga sering disebut sebagai bonum commune.
Ketiga
Kalau berhentinya balapan secara tak terduga di “tikungan tajam yang berujung di jalan buntu” adalah untuk bonum commune, tentu itu yang diharapkan. Bila hal itu benar-benar terjadi—sebagai tujuan pertama dan utama—maka mulai tahun 2021 ini rakyat sedikit boleh mulai berharap akan menikmati ketentraman, tidak diharu-biru oleh “celotehan-celotehan” yang disuarakan oleh para “pemain politik” yang suka menggunakan topeng beraneka wajah berbeda.
(ada yang mengenakan topeng berwajah menggelikan, lucu; ada yang menyebalkan; ada yang menjijikkan; ada menakutkan; ada yang kelihatan bijak; ada yang kelihatan alim dan saleh; tetapi ada juga yang sungguh-sungguh memuakkan).
Hilangnya—atau sekurang-kurangnya, samar-samarnya, sayup-sayupnya—hiruk-pikuk, kebisingan politik akan sangat berguna dalam memenangi “perang” melawan pandemi Covid-19, yang akan berimplikasi positif bagi banyak bidang kehidupan.
Sudah begitu banyak persoalan yang dihadapi bangsa ini—termasuk yang paling berat adalah soal toleransi antar-umat beragama, soal kebhinekkaan.
Maka, kalau ditambah dengan “celotehan-celotehan” para “pemain politik” yang sekadar mencari popularitas, bangsa ini tidak akan pernah beranjak maju, hanya berputar-putar dari itu ke itu saja. Sementara bangsa lain sudah lari tunggang langgang menuju cakrawala baru.
Tetapi, seperti diingatkan oleh Andrew Gamble bahwa politik sebagai suatu kegiatan selalu memiliki hubungan yang sulit dengan kebenaran. Maka itu benar adagium “tidak ada kawan dan lawan yang abadi, yang ada adalah kepentingan.”
Itulah sebab ada nasihat bijak, “hati-hatilah, jangan mempercayai seorang teman, kecuali kalau engkau sudah mengujinya.” Mengapa demikian? Karena, “selama periuk masih panas, persahabatan tetap hidup.”
Sama seperti yang dikatakan oleh Cicero (106-43 SM) seorang filosof Romawi, “Amicus certus in re, incerta cernitur”—sahabat yang sejati dikenal di saat-saat sulit. Jadi, bukan dikenal ketika pesta sudah usai, kursi sudah ditumpuk dimasukkan ke gudang, tenda sudah gulung, hiasan dicopot semua, piring-piring dan gelas dicuci, dan orang pulang ke rumah masing-masing.
Semoga tidak demikian. Karena, kita semua berharap bahwa tahun 2021 benar-benar akan menjadi Annus Mirabilis, tahun mukjizat, tahun yang mengagumkan, tahun yang ajaib, seajaib berhentinya balapan secara tak terduga di “tikungan tajam yang berujung di jalan buntu.”
Sekurang-kurangnya, keajaiban itu bertahan hingga tahun 2023 menjelang saat datangnya Tahun Politik. Tahun yang cenderung memberikan hawa untuk mencari menang-menangan, yang cenderung menghalalkan segala cara demi kemenangan, demi kekuasaan lagi. (*)

Harimau Milenial

Oleh: Azhar
Pemerhati satwa liar Aceh

BERAPA jumlah populasi harimau di Sumatera saat ini? Sulit menjawab pertanyaan tersebut. Mungkin jawabannya diperkecil; Harimau Sumatera diketahui jumlah populasinya hanya di beberapa blok hutan, seperti di Teso Nilo Riau, Bukit Barisan Selatan di Lampung dan Leuser.
Hanya ini yang mampu dianalisis oleh praktisi harimau. Kenapa hal ini terjadi, jawabnya mungkin sederhana, yakni sedikit penelitian tentang harimau di Indonesia hingga khazanah ilmu harimau kurang diminati. Juga rendahnya minat para ahli biologi di Indonesia untuk terlibat dalam penelitian harimau dan banyak faktor lainnya yang menghambat penelitian harimau sumatera.
Salah satunya adalah dibutuhkan mental baja dan tenaga untuk meneliti harimau karena luasnya habitat, juga kebutuhan dana yang besar untuk mobiliasi tenaga kerja lapangan, serta dukungan dana untuk penggunaan alat pendukung penelitian.
Hingga saat ini, hanya beberapa blok hutan yang bisa dilakukan penelitian, selebihnya secara umum penelitian harimau secara keseluruhan di hutan Sumatera sulit dilaksanakan karena beberapa faktor yang disebut di atas.
Beda dengan sepupunya, singa, di daratan Afrika. Singa Afrika relatif gampang diketahui karena keadaan habitat, areal singa terletak di safana (padang rumput), kelimpahan pakan seperti kijang, zebra, dan babi hutan tersebar merata.
Di habitat tersebut tergambar utuh situasi pemangsa dan satwa mangsa atau dikenal dengan istilah prey dan predator, ukuran ekologi habitat, kelompok singa, hingga kelompok pemangsa lainya terdata dengan baik.
Hingga, prilaku singa dan jumlah individu dikelola dengan baik, juga pengelolaan kawasan satwa liar tersebut sesuai dengan peruntukannya. Beberapa di antara kawasan tersebut disebut taman safari, taman nasional, dan cagar alam.
Ini menjadi harapan dalam manajemen penyelamatan dan kampanye satwa liar secara utuh dan berkelanjutan. Implementasi kebijakan nyata dan tegas terjadi di kawasan ini. Kawasan konservasi satwa liar benua afrika terbuka akan segala akses, mulai dari transportasi, akomodasi dan sebagainya. Intinya relatif lebih mudah meneliti dan berwisata satwa liar di sana.
Lain perkara dengan harimau sumatera. Habitatnya berada di hutan primer dan sekunder. Harimau sumatera daya jelajahnya luas dan lebar. Topograpi beragam: pegunungan, sungai, dan rawa gambut. Harimau sumatera menguasai teritorial terluas dan terdahsyat di alam liar Sumatera. Tak ada pembatas daya jelajah mereka.
Seekor harimau jantan memiliki wilayah kekuasaan yang lebih besar dan kadang kala tumpang tindih dengan teritorial harimau betina. Harimau betina dapat memiliki teritorial seluas 20 kilometer persegi. Si jantan memiliki wilayah seluas 60-100 kilometer persegi.
Kawasan ini biasanya berada di daerah yang memiliki banyak sumber makanan. Luasan areapun yang sesuai dengan sumber makanan, hingga harimau bisa menghemat energi untuk mencari sumber makanan dalam menjaga pergerakannya.
Harimau jantan dewasa memiliki daya jelajah (home range) yang lebih besar daripada betina dan hewan yang masih muda. Berat badan kurang memberikan kontribusi terhadap pertambahan laju yang mendekati konstan sebagai masa pertambahan berat tubuh di antara harimau. Home range bertambah seiring laju berat tubuh yang lebih besar.
Saat ini, distribusi makanan dan perlindungan yang tidak teratur berdampak pada daerah jelajah menjadi tidak teratur. Harimau adalah satwa soliter dan memiliki daerah teritorial yang dipertahankan. Luas wilayah teritorialnya berbanding terbalik dengan ketersediaan mangsa yaitu, jika sedikit mangsa yang tersedia, luas teritorialnya akan lebih besar. Begitu pula sebaliknya.
Apa yang membuat harimau begitu tangguh menghadapi bermacam tipe kawasan hutan? tentu kebutuhan makanan untuk memenuhi energi, standar kesehatan, kebugaran dan stamina. Mungkin diperlukan makanan bernilai gizi tinggi. Daftar menu favorit pun beragam, ada rusa, babi, kijang, hingga mamalia kecil lainnya. Konon harimau sumatera juga menyukai durian.
Siklus rantai makanan
Satwa mangsa (prey) seperti rusa kijang dan babi hutan merupakan menu utama bagi harimau. Satwa mangsa tersebut merupakan herbivora. Mereka mengonsumsi variatif daun, tanaman perdu, rumput dan alang alang hingga buah-buahan yang jatuh dari pohon.
Kandungan gizi yang terdapat di tumbuhan, seperti fluktosa, protein (lemak), karbohidrat, berproses di dalam tubuh satwa mangsa. Secara alami satwa mangsa tersebut, jika ketiban sial, akan dimangsa oleh harimau.
Kandungan daging darah, limfa, hati hingga tulang sumsum akan diasup dengan baik oleh harimau. Mungkin kandungan yang terdapat dalam tubuh satwa mangsa tersebut memberikan energi dan kekuatan pisik prima bagi harimau untuk terus bergerak (locomotion).
Jika dirunut, tanah adalah bahan padat (mineral atau organik) yang terletak dipermukaan bumi, yang terus mengalami perubahan yang dipengaruhi oleh faktor, seperti iklim, organisme dan bahan induk. Aspek yang terdapat dari kandungan tanah akan terserap secara kimiawi ke tumbuhan.
Tanah di hutan adalah tempat tumbuh dan berkembangnya perakaran jutaan spesies tumbuhan, tanaman zat pemacu tumbuh seperti hormon, vitamin, dan enzim yang dapat meningkatkan kesediaan hara.
Tanaman hutan Sumatera subur dan kaya akan unsur hara, proses kimia rumit ini berasosiasi ke tanaman berfungsi sebagai gudang dan penyuplai hara atau nutrisi (senyawa organik dan anorganik) sederhana dan unsur-unsur esensial seperti: N, P, K, Ca.
Dan secara biologi berfungsi sebagai habitat biota untuk menghasilkan biomass bagi tanaman di kawasan hutan, tanah dan tanaman hutan memberikan manfaat ke satwa mangsa.
Asumsi sederhananya adalah semakin subur tanah akan unsur hara maka semakin sehatlah satwa mangsa. Proses ini berimbas ke makanan dan habitat, semua proses alamiah ini saling memberi pengaruh terhadap kondisi harimau, hutan sehat, dan terjaga sangat ideal bagi harimau.
Jika hutan secara terus menerus dirusak digantikan dengan tanaman eksotis seperti sawit dan ekaliptus untuk kepentingan industri, maka dipastikan banyak kandungan unsur hara lepas dari alam, suatu saat hilangnya tanaman endemis di hutan Sumatera.
Ditambah lagi efek buruk dari kualitas udara saat ini berupa asap akibat kebakaran hutan dan lahan pada musim kemarau. Secara umum dapat dikatakan bahwa telah terjadi penurunan kualitas lingkungan di hutan Sumatera.
Harimau akan kehilangan pakan dan berkurangnya kemampuan adaptasi, suatu saat satwa mangsa akan mencari makanan baru, dan mungkin kualitas genetika satwa mangsa pun dalam bereproduksi pun turun. Hal ini berdampak pada satwa puncak rantai makanan.
Hampir sama dengan nasib satwa mangsa. Kini kondisi harimau pun berubah dan akan terjadi penurunan kualitas genetis akibat buruknya gizi satwa mangsa. Akibatnya daya jelajah yang biasanya luas ratusan hektare akan menurun. Mungkin keturunan harimau sumatera generasi sekarang tidak sekuat dan setangguh harimau sebelumnya.
Menurut Gilpin dan Soule, terdapat tiga faktor utama yang mempengaruhi ketahanan populasi terhadap kepunahan spesies. Pertama adalah variasi lingkungan, kedua variasi demografik, dan ketiga variasi genetik.
Semakin kecil ukuran populasi maka semakin rentan populasi tersebut. Ketiga faktor tersebut dapat menurunkan keberhasilan reproduksi, meninggikan tingkat kematian dan mendorong kepunahan.
Generasi Baru
Mungkin suatu saat, batasan teritorial dan home range seekor harimau yang dulunya ratusan kilometer akan menjadi puluhan atau ratusan meter saja. Suatu saat nanti harimau akan ditempatkan dalam pagar luas. Habitat buatan yang dibuat khusus oleh manusia untuk kepentingan perlindungan. Suatu saat nanti, batas khas keangkeran harimau di hutan, seperti bekas cakaran di pohon, sisa kencing dan gesekan di pohon sebagai penanda teritorial tak berlaku lagi.
Cepat atau lambat, generasi harimau sumatera baru akan datang. Harimau era tahun 50 hingga 2000-an yang garang akan berubah.
Perilaku soliter dan ciri khas kemisteriusan harimau sumatera bakal hilang. Sangar dengan auman keras yang khas dalam menjaga teritorinya sirna.
Harimau ke depan akan memakan apa adanya. Harimau menjadi satwa berkelompok dalam mencari makan, mangsa yang biasa bergerak dikejar dan diburu, kini hanya menunggu makanan dari manusia berupa daging potong, daging sapi olahan, plus minum susu sapi segar. Suatu saat nanti, tak ada lagi daging rusa, kijang, dan napoh.

Seperti saudaranya singa di Afrika, suatu saat nanti jumlah populasi harimau akan lebih mudah dilihat melalui pembatas pagar atau mobil tour wisata di habitat buatan.
Penghitungan jumlah individu mudah dilakukan. Mungkin penghitungan individu pun berdasarkan kelompok. Meneliti harimau pun relatif gampang, bisa menggunakan mobil tour safari.
Ke depan, di tahun 2050, jumlah populasi harimau sumatera akan terus bertambah, bahkan bisa mencapai 1.000 individu, tapi dalam pagar pembatas. (*)