BerandaJAWA TENGAHPG GMM Tak Kunjung Beroperasi,...

PG GMM Tak Kunjung Beroperasi, Bulog Lempar Tebu Blora ke Pabrik Lain

Korandiva-BLORA.— Setelah gelombang protes petani tebu memuncak dalam aksi tumpah tebu di depan gerbang Pabrik Gula Gendhis Multi Manis (GMM), manajemen akhirnya menawarkan solusi darurat dengan mengalihkan tebu petani ke sejumlah pabrik gula lain. Langkah itu dilakukan karena PG GMM hingga kini masih belum mampu beroperasi akibat persoalan teknis mesin yang tak kunjung terselesaikan.

Pelaksana Tugas Direktur Utama PT GMM, Sri Emilia, mengakui pihaknya belum bisa memastikan kapan pabrik gula milik Bulog tersebut dapat mulai menggiling tebu petani Blora. Sebagai gantinya, perusahaan membentuk tim khusus untuk mengurus pengalihan pengiriman tebu ke pabrik lain agar hasil panen petani tidak terbuang sia-sia.
“Kami sudah membentuk tim untuk membantu proses pengalihan pengiriman tebu petani ke pabrik gula lain. PG GMM saat ini belum bisa melakukan operasional karena kendala teknis mesin,” ujarnya.

Pernyataan tersebut sekaligus menegaskan bahwa harapan petani agar PG GMM segera beroperasi masih jauh dari kenyataan. Padahal musim panen telah berjalan dan ribuan ton tebu membutuhkan kepastian tempat penggilingan.

Perwakilan Perum Bulog, Andin, menyebut pihaknya telah melakukan pendataan kondisi petani dan distribusi tebu sejak pekan lalu. Namun seluruh aspirasi petani masih akan dibawa ke tingkat pusat untuk dibahas lebih lanjut.
Di sisi lain, jawaban tersebut belum sepenuhnya menjawab kegelisahan petani yang selama berbulan-bulan menanti realisasi berbagai komitmen yang pernah disampaikan Bulog terkait operasional PG GMM.

Kekecewaan petani memuncak pada Senin (1/6/2026) saat ribuan batang tebu ditumpahkan di depan gerbang pabrik sebagai simbol perlawanan terhadap ketidakpastian yang terus berulang. Aksi tersebut menjadi bentuk protes keras atas janji yang dinilai belum kunjung diwujudkan.
Perwakilan petani tebu, Anton Sudibyo, menegaskan bahwa tuntutan yang mereka sampaikan bukan semata-mata untuk kepentingan petani, tetapi juga sebagai bentuk dukungan terhadap program swasembada gula nasional yang dicanangkan pemerintah.
“Kami berharap perjuangan ini menjadi jalan keluar agar petani tebu Blora tidak mengalami kerugian,” tegasnya.

Petani juga memberi sinyal bahwa konflik belum berakhir. Jika tuntutan mereka kembali diabaikan dan tidak ada kepastian konkret dari Bulog maupun manajemen PG GMM, aksi lanjutan dengan skala lebih besar akan digelar hingga ke Jakarta.
Bagi petani, persoalannya kini bukan lagi sekadar tebu yang belum tergiling, melainkan soal kredibilitas janji dan tanggung jawab terhadap nasib ribuan keluarga yang menggantungkan hidup dari komoditas tebu. (*)

Koran DIVA Cetak Edisi 1068, Terbit Tanggal 25 Mei 2026

spot_img

BERITA TERBARU

BERITA TERKAIT
Related