PEMANDANGAN ribuan batang tebu yang ditumpahkan di depan gerbang PG GMM bukanlah sekadar aksi demonstrasi petani. Itu adalah simbol kegagalan. Kegagalan manajemen, kegagalan komunikasi, dan kegagalan negara dalam memberikan kepastian kepada rakyat yang selama ini menjadi tulang punggung produksi gula nasional. Ketika petani lebih memilih membuang hasil panennya di jalan daripada mengirimkannya ke pabrik, berarti ada sesuatu yang sangat salah dalam tata kelola industri gula di Blora.
PG GMM adalah pihak yang paling layak menerima kritik keras. Sejak awal, pabrik ini datang dengan membawa mimpi besar. Menjadi harapan baru petani, penggerak ekonomi kawasan, sekaligus simbol kebangkitan industri gula di Blora. Namun hari ini yang terlihat justru sebaliknya. Cerobong tidak mengepul, mesin tidak berputar, sementara ribuan ton tebu menua di lahan. Yang tersisa hanya janji, rapat, dan alasan administratif yang tidak mampu mengurangi kerugian petani satu rupiah pun.
Lebih menyakitkan lagi, petani baru mengetahui kenyataan pahit ketika musim panen sudah tiba. Padahal persoalan operasional pabrik tentu tidak muncul dalam semalam. Jika manajemen mengetahui adanya hambatan serius sejak jauh hari, mengapa tidak disampaikan secara terbuka kepada petani? Mengapa petani tetap didorong menanam dengan harapan pabrik akan beroperasi? Diamnya manajemen dalam situasi seperti ini dapat dianggap sebagai bentuk kelalaian yang mahal harganya.
Bulog sebagai induk perusahaan juga tidak bisa mencuci tangan. Terlalu mudah jika semua persoalan dilempar ke mekanisme evaluasi, regulasi, dan prosedur BUMN. Publik tidak peduli berapa banyak meja yang harus dilalui sebuah keputusan. Yang dilihat masyarakat adalah hasilnya. Dan hasilnya hari ini jelas: petani merugi, pabrik berhenti, sementara Bulog belum mampu menunjukkan solusi yang memberikan kepastian. BUMN dibentuk untuk melayani kepentingan publik, bukan menjadi benteng birokrasi yang sulit ditembus rakyat.
Ironisnya, semua ini terjadi ketika pemerintah pusat terus berbicara tentang swasembada pangan dan swasembada gula. Bagaimana target itu bisa tercapai jika petani sebagai aktor utama justru dibiarkan menghadapi ketidakpastian? Tidak ada swasembada tanpa petani yang sejahtera. Tidak ada ketahanan pangan jika produsen pangan sendiri kehilangan kepercayaan terhadap sistem yang mengatur mereka.
Namun kritik juga harus diarahkan kepada APTRI. Sebagai organisasi yang mengatasnamakan petani tebu, APTRI tidak boleh hanya tampil sebagai pengeras suara ketika krisis sudah pecah. Fungsi organisasi bukan sekadar mendampingi aksi, tetapi mengantisipasi masalah sebelum menjadi bencana. Jika benar persoalan PG GMM sudah berlarut-larut, mengapa tekanan kepada Bulog dan manajemen tidak dilakukan lebih awal dan lebih keras?
Petani berhak mempertanyakan efektivitas organisasi yang selama ini mengklaim menjadi rumah perjuangan mereka. Sebab fakta di lapangan menunjukkan petani tetap harus turun ke jalan, tetap harus menumpahkan tebu, dan tetap harus mengancam berangkat ke Jakarta agar suaranya didengar. Jika semua harus dilakukan sendiri oleh petani, lalu di mana peran organisasi yang seharusnya menjadi garda terdepan pembela kepentingan mereka?
Yang paling tragis adalah waktu terus berjalan. Tebu tidak mengenal rapat koordinasi. Tebu tidak memahami proses persetujuan direksi. Tebu tidak bisa menunggu surat keputusan dari Jakarta. Semakin lama terlambat digiling, semakin turun kualitasnya. Semakin rendah rendemen, semakin besar kerugian petani. Sementara para pengambil keputusan masih sibuk menghitung prosedur, petani setiap hari menghitung kerugian.
Karena itu, solusi yang dibutuhkan saat ini bukan lagi pembentukan tim, kajian, atau janji baru. Petani sudah terlalu sering diberi janji. Yang mereka butuhkan adalah keputusan.
Bulog harus segera menentukan arah PG GMM secara terbuka. Jika pabrik tidak mampu beroperasi, harus ada skema penyerapan yang jelas, cepat, dan menguntungkan petani. Jika ada kendala, sampaikan secara jujur kepada publik. Keterbukaan lebih terhormat daripada harapan palsu.
Aksi tumpah tebu di Blora harus menjadi peringatan keras bagi semua pihak. Hari ini yang ditumpahkan memang tebu. Besok yang bisa tumpah adalah kemarahan yang lebih besar. Sebab ketika petani merasa dipermainkan oleh pabrik, diabaikan oleh Bulog, dan tidak cukup terlindungi oleh organisasinya sendiri, maka yang sedang dipertaruhkan bukan hanya musim giling tahun ini, melainkan kepercayaan masyarakat terhadap seluruh sistem yang selama ini mengaku berpihak kepada petani. Jika kepercayaan itu hilang, biaya sosialnya akan jauh lebih mahal daripada sekadar kerugian satu musim panen. (*)



