Korandiva-BLORA.— Skandal dugaan percakapan tak pantas antara oknum guru dan siswi yang viral di media sosial akhirnya berujung tindakan tegas. Bupati Blora, Arief Rohman, memastikan guru tersebut akan dicopot dari tugas mengajar mulai awal pekan depan.
Pernyataan itu menjadi sinyal keras bahwa Pemkab tak lagi memberi ruang kompromi terhadap pelanggaran etika di dunia pendidikan. “Per Senin, yang bersangkutan tidak lagi mengajar. Akan kami geser ke Korwil,” tegas Arief.
Langkah ini sekaligus mematahkan sikap sebelumnya dari Dinas Pendidikan yang masih memberi ruang bagi oknum guru berinisial S untuk tetap mengajar sambil menunggu hasil investigasi. Kini, tekanan publik dan viralnya kasus memaksa keputusan lebih cepat diambil.

Kasus ini mencuat setelah tangkapan layar percakapan WhatsApp beredar luas. Isinya dinilai melampaui batas hubungan guru dan murid—mulai dari pujian bernada personal, ajakan bertemu berdua, hingga komunikasi intens sejak akhir 2025. Situasi ini memicu kekhawatiran serius soal keamanan dan etika interaksi di ruang digital antara pendidik dan siswa.
Kepala Dinas Pendidikan Blora, Sunaryo, sebelumnya menyatakan telah membentuk tim investigasi lintas instansi. Tim tersebut melibatkan unsur Dinas Pendidikan, Dinas Sosial, BKPSDM, Inspektorat, hingga psikolog untuk mengurai fakta secara utuh.
Namun publik kini menunggu lebih dari sekadar investigasi: transparansi hasil dan ketegasan sanksi. Sebab, kasus ini bukan hanya soal pelanggaran individu, tetapi juga cermin lemahnya pengawasan dan batas etik di lingkungan sekolah.
Pemkab Blora sendiri berjanji memberikan perlindungan penuh kepada korban. Meski demikian, sorotan publik belum akan mereda sebelum ada kejelasan akhir: apakah ini sekadar pelanggaran etik—atau sudah masuk ranah yang lebih serius. (*)

