11 Sapi dan 11 Kambing Disembelih, Semangat Kurban Warga Balun Graha Permai Cepu Menggema

Korandiva-BLORA.- Takbir menggema sejak fajar belum benar-benar pecah di langit Cepu. Satu per satu warga berdatangan menuju Masjid Al-Muhajirin di lingkungan Perumahan Balun Graha Permai, Rabu pagi (27/5). Mengenakan pakaian terbaik, mereka melangkah pelan, membawa harap, doa, sekaligus kerinduan pada makna pengorbanan yang sesungguhnya.
Tak butuh waktu lama, masjid berkapasitas sekitar 600 jamaah itu penuh sesak. Saf demi saf merapat hingga meluber ke teras. Anak-anak duduk di samping orang tua mereka. Para lansia bertumpu pada tongkat sambil tetap memaksakan hadir. Udara pagi terasa hangat oleh gema takbir dan wajah-wajah penuh khidmat.

Di tengah lautan jamaah itu, H. Agus Maimun, S.Pd.I atau yang akrab disapa Gus Maimun berdiri sebagai imam sekaligus khatib Sholat Idul Adha 1447 Hijriah. Khutbahnya dibuka dengan lantunan Surah Al-Kautsar yang menggema tenang, namun menghunjam.
Dengan suara tegas, Gus Maimun mengajak jamaah menengok kembali kisah agung Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Kisah yang, menurutnya, bukan sekadar cerita lama yang diulang tiap Idul Adha, melainkan pelajaran tentang keikhlasan yang sering kali sulit dijalani manusia modern.

“Ketika Nabi Ibrahim mendapat perintah menyembelih putranya, beliau tidak membantah. Padahal Ismail adalah anak yang paling dicintai dan lama dinantikan kehadirannya,” tuturnya di hadapan ratusan jamaah yang larut dalam suasana haru.

Ia lalu mengutip jawaban Nabi Ismail yang begitu mengguncang batin.
“Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu.”
Kalimat itu terdengar sederhana, namun di mata Gus Maimun, itulah puncak ketundukan seorang hamba kepada Tuhannya. Menurutnya, Idul Adha bukan semata tentang menyembelih sapi atau kambing. Lebih dari itu, manusia diminta menyembelih sifat-sifat buruk yang selama ini dipelihara dalam diri.
“Yang harus disembelih sebenarnya adalah rasa kikir, egoisme, keserakahan, dan ketidakpedulian terhadap sesama,” tegasnya.

Suasana masjid semakin hening ketika ia mengutip pesan Al-Qur’an bahwa daging dan darah hewan kurban tidak akan pernah sampai kepada Allah. Yang sampai hanyalah ketakwaan.
Khutbah kemudian ditutup dengan petikan Surah Al-‘Ashr, seolah menjadi pengingat bahwa hidup manusia terus berlari menuju waktu yang tak pernah kembali.

Bagi warga Balun Graha Permai, Masjid Al-Muhajirin memang bukan sekadar tempat ibadah. Setelah rampung direnovasi total, masjid ini menjelma menjadi pusat kebersamaan warga. Arsitekturnya tampak megah, namun yang paling dirasakan jamaah justru suasana hangat dan kekeluargaan di dalamnya.
Setiap hari besar Islam, masjid itu selalu menjadi titik temu ribuan doa dan harapan warga.

Sementara itu, Ketua Takmir Masjid Al Muhajirin, H. Agus Purnomo Adi, MM mengungkapkan, tahun ini warga Perumahan Balun Graha Permai menyembelih 11 ekor sapi dan 11 ekor kambing.
Hewan kurban tersebut dipotong di empat titik berbeda, yakni di Masjid Al Muhajirin, Musholla Al Muttaqin RT 01, Lapangan Voli RT 02, serta Musholla An-Nur RT 06.

Di akhir keterangannya, Agus menyampaikan doa sederhana yang terasa dekat dengan kehidupan banyak orang.
“Bagi saudara-saudara muslim yang tahun ini belum bisa berkurban, semoga Allah memberikan rezeki di tahun depan. Aamiin,” ujarnya.
Dan pagi itu, di bawah gema takbir yang belum sepenuhnya reda, Idul Adha kembali mengajarkan bahwa pengorbanan terbesar bukanlah tentang apa yang dipotong, melainkan apa yang rela dilepaskan dari dalam hati manusia. (*)

Koran DIVA Cetak Edisi 1068, Terbit Tanggal 25 Mei 2026

spot_img

BERITA TERBARU

BERITA TERKAIT
Related