Kuota DOC Masih Dinilai Berat Sebelah, Peternak Mandiri Pantura Kian Tertekan

Korandiva-PATI.– Rasa resah terus dirasakan para peternak ayam mandiri di Kabupaten Pati. Mereka menilai pola distribusi Day Old Chick (DOC) atau bibit ayam hingga kini belum berjalan adil. Kondisi tersebut mendorong para peternak yang tergabung dalam Persaudaraan Peternak Mandiri Pantura (PPMP) bersiap menggelar aksi sebagai bentuk protes atas ketimpangan yang dinilai terus berulang.
Barry, salah satu peternak mandiri di Pati, menyampaikan bahwa posisi peternak lokal saat ini berada pada situasi yang paling rentan dalam memperoleh pasokan DOC. Ia menilai pembagian kuota sering kali tidak merata dan lebih banyak terserap oleh jaringan internal maupun relasi bisnis tertentu. Sementara peternak kecil harus berebut sisa kuota dengan harga lebih mahal dan syarat yang cenderung memberatkan.
Ia menambahkan, situasi tersebut membuat banyak peternak terpaksa menunda siklus pemeliharaan atau membeli DOC dengan biaya yang jauh lebih tinggi dari seharusnya. Dampaknya tidak hanya pada operasional kandang, tetapi juga langsung menekan pendapatan peternak serta mengancam keberlanjutan usaha mandiri yang selama ini menopang ekonomi pedesaan.
Kekecewaan para peternak kian mendalam karena persoalan distribusi DOC sebenarnya telah dimediasi pada November 2025. Saat itu, seorang peternak lokal mengajukan audiensi kepada kepala daerah di Pati dan menghadirkan pihak integrator besar dalam forum tersebut. Dalam pertemuan itu, integrator besar disebut telah berkomitmen untuk memenuhi kebutuhan DOC peternak mandiri secara adil.
Namun, menurut Barry, realita di lapangan dinilai belum mencerminkan komitmen tersebut. Distribusi yang dijanjikan tidak kunjung mendekati persentase sesuai aturan, sehingga kesepakatan yang sempat disampaikan dianggap hanya sebatas janji di atas meja tanpa pelaksanaan nyata di lapangan.
Atas dasar itu, para peternak merencanakan aksi pada Senin (23/2) di depan pintu masuk perusahaan pembibitan ayam milik integrator besar di wilayah Kecamatan Pucakwangi. Ratusan peternak disebut siap bergabung untuk menyuarakan kekecewaan atas dominasi korporasi besar dalam penguasaan pasokan DOC.
PPMP menegaskan bahwa aksi tersebut bukan sekadar pelampiasan emosi, melainkan bentuk kegelisahan atas ketimpangan yang terus berulang. Mereka merasa selama ini hanya ditempatkan sebagai pelengkap dalam rantai industri perunggasan, bukan sebagai mitra sejajar yang layak dilindungi dan diperkuat.
“Ketika akses DOC tidak merata, peternak mandiri berada dalam posisi serba terhimpit. Mereka bergantung pada pasokan dari integrator besar, tetapi tidak memiliki kekuatan tawar untuk menjamin distribusi yang adil,” ungkapnya dengan nada kecewa. (*)



