Dari Silaturahmi ke Kemandirian: Menyemai Harapan di Fajar Ramadan Blora

Korandiva-BLORA.- Fajar Ramadan 1447 Hijriah baru saja merekah ketika langkah-langkah penuh semangat memasuki Kantor BAZNAS Kabupaten Blora, Kamis Pahing, 19 Februari 2026. Di tengah suasana awal bulan suci yang sarat harapan, rombongan Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI) Kabupaten Blora datang membawa satu misi: merawat kepedulian, menumbuhkan kemandirian.
Di barisan terdepan, Ketua PWRI Blora, Ir. H. Bambang Sulistya, M.M.A., melangkah mantap. Wajahnya menyiratkan optimisme. Bersamanya, Sriyono, pengurus PWRI Kecamatan Kradenan, turut mengawal aspirasi warga kurang mampu di Desa Mendenrejo yang membutuhkan sentuhan nyata pemberdayaan ekonomi.
Kedatangan para purnabakti ASN itu disambut hangat Ketua BAZNAS Blora, H. Sutaat, S.Pd. Pertemuan sederhana di ruang kantor tersebut terasa lebih dari sekadar agenda formal. Ia menjadi ruang temu gagasan—tentang bagaimana zakat tak hanya berhenti pada bantuan konsumtif, melainkan bergerak menjadi modal kehidupan.
Usulan yang dibawa PWRI pun konkret: bantuan bibit ayam petelur berikut sarana kandangnya. Bukan sekadar bantuan, melainkan “kail” untuk memancing kemandirian. Harapannya, warga yang hari ini berstatus mustahik, kelak tumbuh menjadi muzakki—pemberi zakat.
Gagasan itu sejalan dengan arah kebijakan Pemerintah Kabupaten Blora di bawah kepemimpinan Bupati Arief Rohman yang mendorong penguatan ekonomi masyarakat melalui sektor peternakan. BAZNAS, sebagai lembaga pengelola zakat, kini kian fokus pada program pemberdayaan produktif.
“Kami ingin zakat benar-benar berdampak. Bantuan ayam petelur ini diharapkan mampu menjadi awal kemandirian ekonomi warga,” ujar Sutaat, menegaskan komitmennya. Ia memastikan tim akan segera turun ke lapangan untuk melakukan verifikasi sebelum bantuan direalisasikan.

Langkah sosial PWRI ini bukan yang pertama. Pada akhir 2025, organisasi tersebut menyalurkan donasi Rp23,2 juta bagi korban bencana di Sumatera. Spirit kemanusiaan itu kini diarahkan untuk membangun daya tahan ekonomi di kampung halaman sendiri.
Di sela pertemuan, Bambang Sulistya juga menyampaikan apresiasi atas rencana distribusi sembako dari BAZNAS bagi anggota PWRI menjelang Idulfitri. Baginya, Ramadan adalah momentum menyatukan ibadah ritual dan ibadah sosial.
Ia pun mengajak masyarakat menghidupkan “Lima Sukses Ramadan”: sukses puasa, sukses tarawih, sukses tadarus, sukses iktikaf dan meraih Lailatul Qadar, serta sukses zakat fitrah.
“Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi tentang menumbuhkan kepedulian dan istiqamah dalam berbuat baik,” ujarnya.
Di awal bulan suci ini, silaturahmi antara PWRI dan BAZNAS Blora seakan menjadi penanda bahwa keberkahan tak hanya dicari di sajadah, tetapi juga di kandang ayam petelur yang kelak menghidupi sebuah keluarga. Ramadan pun menemukan maknanya—hadir sebagai cahaya yang menggerakkan, bukan sekadar menerangi. (*)



