BLORAJAWA TENGAH

Api yang Tak Kunjung Padam dari Ladang Tebu Blora

Korandiva-BLORA.- Di tengah hamparan kebun tebu yang menguning di Kabupaten Blora, harapan para petani tak pernah benar-benar padam. Seperti bara api yang terus menyala meski diterpa angin, tekad pengurus Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Blora terus bergerak mencari jalan keluar di tengah ketidakpastian musim giling.

Selasa Legi, 3 Februari 2026, suasana Kantor Koperasi Produsen Agro Mandiri di Desa Ngampon, Kecamatan Jepon, tampak lebih hidup dari biasanya. Sejumlah pengurus APTRI berkumpul dalam rapat kilat. Tak ada kemewahan ruangan, hanya meja sederhana dan kursi plastik, namun percakapan yang mengalir di dalamnya penuh kesungguhan. Mereka membahas satu hal yang sama: nasib ribuan petani tebu yang menggantungkan hidup pada berputarnya roda pabrik gula.

Masukan datang dari berbagai arah. Dari petani yang resah karena tebu belum tertebang, hingga warga yang ikut bersimpati pada nasib para peladang manis ini. Bayang-bayang kebijakan manajemen Pabrik Gula (PG) PT GMM Bulog yang belum memberi kepastian masih terasa membebani.

Di tengah diskusi, terselip kabar dari Wakil Bupati Blora, Hj. Sri Setyorini, yang mendapat tugas langsung dari Bupati Blora Dr. H. Arief Rohman untuk menjalin komunikasi dengan kementerian di Jakarta.

Harapannya satu: percepatan pencairan dana renovasi pabrik gula agar musim giling 2026 tidak kembali menyisakan luka.
Secercah optimisme sebenarnya sempat muncul. Secara prinsip, musim giling 2026 dinyatakan tetap berjalan. Dua unit boiler yang rusak berat direncanakan diganti dengan yang baru. Namun bagi para petani, janji tak selalu mudah menenangkan ingatan.

Ketua APTRI Blora, Drs. H. Sunoto, masih menyimpan trauma kolektif para petani terhadap peristiwa ledakan dua boiler pada musim giling 2025. Ledakan itu bukan sekadar kerusakan mesin, melainkan pukulan bagi ribuan hektare tebu yang akhirnya tak bisa diproses di pabrik setempat.

“Waktu itu petani kalang kabut mencari pabrik di luar daerah. Sampai sekarang pun masih ada tebu yang belum tertebang,” ujarnya pelan, seolah mengulang kembali kecemasan yang belum sepenuhnya pergi.

APTRI kini bersiap mendata kerugian petani. Jalur hukum pun disiapkan sebagai opsi untuk memperjuangkan ganti rugi. Namun di balik itu semua, harapan tetap mengarah ke satu titik: agar musim giling 2026 benar-benar berjalan di tanah sendiri.

Kegelisahan semakin terasa karena hingga kini tanda-tanda renovasi fisik pabrik belum tampak jelas. Padahal sebelumnya Direktur Operasional PT GMM Bulog, Krisna Murtiyanto, telah menyampaikan keyakinan bahwa pabrik siap beroperasi pada awal Juni 2026. Bagi petani, keyakinan itu masih menyisakan tanda tanya panjang: bagaimana jika janji kembali meleset?

Sebagai langkah berjaga, APTRI telah lebih dulu membuka ruang dialog melalui Forum Temu Kemitraan di Todanan pada akhir Januari lalu. Petani duduk satu meja dengan perwakilan pabrik gula lain, mencoba mencari celah solusi jika skenario terburuk kembali terjadi.

Di internal organisasi, sikap pun disusun. Sunoto memilih mengikuti arahan pemerintah daerah, namun tetap menegaskan bahwa persoalan bukan hanya pada mesin dan bangunan. Menurutnya, pembenahan manajemen menjadi kebutuhan yang tak kalah penting.
Pandangan serupa datang dari Sekretaris APTRI, Anton Sudibdyo. Mantan anggota DPRD itu menilai perbaikan fasilitas tanpa perubahan sumber daya manusia ibarat mengganti kulit tanpa menyentuh isi. Ia menyoroti rendahnya rendemen dan kerugian yang berulang dari musim ke musim sebagai tanda bahwa perubahan mendasar perlu dilakukan.

Sementara itu, Agus Joko Susilo, pengurus APTRI lainnya, lebih menaruh perhatian pada aspek teknis. Ia mendorong agar boiler yang akan dipasang merupakan produk impor dengan kualitas teruji. Baginya, jaminan keamanan mesin adalah kunci meredakan trauma petani. Agus juga menyinggung perlunya hubungan yang lebih terbuka dan harmonis antara petani, pihak pabrik, dan pemerintah daerah.

Di Blora, tebu bukan sekadar tanaman. Ia adalah cerita tentang kerja keras, kecemasan, dan harapan yang tumbuh bersamaan. Di balik batang-batang tinggi yang bergoyang tertiup angin, ada ribuan keluarga yang menunggu kepastian. Dan di ruang rapat sederhana itu, api perjuangan terus dijaga agar tak pernah benar-benar padam. (*)

BERITA TERKAIT