BLORAJAWA TENGAH

APTRI Blora Cari Antisipasi Giling 2026, Gandeng PG Rendeng Kudus

Korandiva-BLORA.- Pengurus Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Kabupaten Blora menggelar Forum Temu Kemitraan (FTK) dengan Pabrik Gula (PG) Rendeng Kudus di Todanan, Blora, Jumat (30/1/2026). Forum ini menjadi langkah antisipatif menyusul kekhawatiran petani terhadap rencana giling tebu 2026 di Pabrik Gula PT GMM Bulog.
FTK dihadiri General Manager PG Rendeng Kudus Ir. Erwin, jajaran pengurus APTRI Blora, serta perwakilan petani tebu, sebagian besar di antaranya sebelumnya mengikuti aksi ke Jakarta.

Ketua APTRI Blora Drs. H. Sunoto menjelaskan, forum tersebut digelar untuk mencari solusi jika rencana giling PT GMM Bulog pada awal Juni 2026 tidak terealisasi. Meski sebelumnya Direktur Operasional PT GMM Bulog menjamin giling tebu akan dimulai tepat waktu, janji itu belum sepenuhnya meyakinkan petani.

“Faktanya hingga kini belum terlihat persiapan renovasi berat, terutama penggantian dua boiler yang rusak parah dan membutuhkan waktu minimal empat bulan,” kata Sunoto.

Ia menambahkan, trauma petani masih kuat akibat berhentinya giling tebu 2025 secara sepihak, yang menyebabkan ribuan hektare tebu tidak tertebang dan beban utang petani semakin besar. Sunoto menegaskan, kegagalan giling tidak boleh terulang pada 2026.

“Kalau pabrik rugi pegawainya tetap digaji, tapi kalau petani rugi siapa yang mengganti?” tegasnya.

Sekretaris APTRI Blora Anton Sudibdyo menilai petani selama ini selalu menjadi korban kebijakan manajemen PT GMM Bulog. Ia mendorong reformasi total tata kelola dan percepatan renovasi pabrik gula.

“Petani masih sabar dan loyal. Tapi jika janji kembali tak terealisasi, awal Februari 2026 kami akan wadul ke Jakarta lagi,” ujarnya.

Sementara itu, GM PG Rendeng Kudus Ir. Erwin menyampaikan sejumlah tawaran yang memberi harapan bagi petani tebu. PG Rendeng memastikan giling tebu 2026 dimulai Mei 2026, memberikan subsidi angkutan Rp5.000 per ton, serta menerapkan sistem bagi hasil 70:30 dan pembelian tebu putus.

PG Rendeng juga menawarkan pinjaman lunak, tanpa agunan hingga Rp 100 juta dan maksimal Rp 500 juta dengan agunan, serta membuka akses program pengembangan tebu dari pemerintah. Petani yang tebunya belum tertebang juga diprioritaskan mendapat jatah giling awal.
Forum berlangsung dalam suasana penuh semangat kekeluargaan dan ditutup dengan makan bersama. (*)

BERITA TERKAIT