Menyusuri Malam, Petani Tebu Blora Menjemput Harapan di Jakarta

Korandiva-BLORA.- Malam Selasa (20/1/2026) itu, jalanan Blora menjadi saksi keberangkatan puluhan petani tebu yang menyimpan harapan sekaligus kegelisahan. Dengan wajah lelah namun tekad mengeras, sekitar 35 petani yang tergabung dalam Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Kabupaten Blora menaiki bus carteran menuju Jakarta. Tujuan mereka satu: menyampaikan jeritan hati tentang nasib petani tebu menjelang masa giling 2026.
Di bawah komando Ketua APTRI Kabupaten Blora, Drs. H. Sunoto, rombongan ini membawa lebih dari sekadar tuntutan. Mereka membawa trauma, kerugian, dan ketidakpastian yang masih membekas sejak kegagalan masa giling tahun 2025.
Jakarta dipilih sebagai tempat mengadu, berharap suara mereka sampai ke telinga Direktur Utama Bulog dan para pemangku kebijakan.
“Ini bukan aksi yang direncanakan lama. Ini reaksi spontan. Ketika rasa takut dan cemas petani sudah tak terbendung, kami memilih berangkat,” ujar Sunoto dengan nada tegas namun sarat keprihatinan.
Bagi para petani, kepastian menjadi barang mahal. Hingga kini, kerusakan boiler di Pabrik Gula Blora PT GMM Bulog belum juga tuntas diperbaiki. Di sisi lain, kabar pemutusan hubungan kerja (PHK) karyawan dalam jumlah besar menambah kegelisahan. Semua itu memunculkan pertanyaan besar: apakah giling tebu 2026 benar-benar siap dijalankan secara profesional dengan manajemen baru?
Ingatan petani masih segar pada peristiwa dramatis tahun lalu. Saat itu, proses giling tebu tiba-tiba dihentikan oleh manajemen dengan alasan kerusakan boiler. Akibatnya, ribuan batang tebu tak tersentuh mesin giling, sementara petani menanggung kerugian besar.

“Banyak tebu siap panen tidak bisa ditebang. Modal habis, hasil nihil,” kata Sunoto, mengenang pahitnya masa itu.
Di antara rombongan, Sri Wahyuningsih, seorang srikandi petani tebu Blora, turut melangkah dengan beban cerita yang tak kalah berat. Baginya, kegagalan 2025 bukan sekadar persoalan produksi, melainkan pukulan telak bagi kehidupan keluarga petani.
“Kami kehilangan kepercayaan diri. Ekonomi keluarga hancur, hutang menumpuk. Semua itu akibat pengelolaan giling yang tidak profesional,” tuturnya lirih namun tegas. Ia berharap reformasi total di tubuh manajemen PT GMM Bulog bukan sekadar janji.
Nada keras juga datang dari Sekretaris APTRI Kabupaten Blora, Anton Sudibyo. Ia menilai perubahan setengah-setengah tak lagi cukup. Yang dibutuhkan, katanya, adalah perombakan fundamental, mulai dari sikap mental petugas pabrik, manajemen perusahaan, hingga pembenahan mesin-mesin produksi.

“Kalau tidak mampu, serahkan saja kepada pihak yang benar-benar berkompeten,” ucap Anton tanpa basa-basi.
Langkah petani tebu Blora tidak sepenuhnya sunyi. Dukungan moral mengalir dari berbagai pihak. Ketua HKTI Kabupaten Blora, HM Kusnanto, SH, menyatakan siap mendampingi perjuangan petani, bahkan hingga membuka akses kepada aparat penegak hukum bila diperlukan.
Dukungan serupa juga datang dari mantan Direktur Utama GMM, Lie Kamajaya, yang memberi motivasi sekaligus menjamu para petani makan malam di sebuah rumah makan di Semarang.
Di antara koper dan tas sederhana, sebuah spanduk ikut terbentang. Chairul, salah satu petani, menuliskan harapannya kepada Presiden Prabowo Subianto: perbaikan Pabrik Gula Blora PT GMM Bulog, penggantian manajemen dengan tenaga profesional, audit oleh penegak hukum, serta tekad APTRI Blora untuk berjuang hingga titik darah penghabisan.
Bus carteran yang mereka tumpangi melaju meninggalkan Blora, dibiayai dari urunan seikhlasnya. Di dalamnya, para petani membawa satu keyakinan: selama suara belum didengar, perjuangan belum boleh berhenti. Jakarta hanyalah tujuan, sementara harapan mereka tertambat pada masa depan yang lebih adil bagi petani tebu. (*)



