Korandiva-BLORA.- Di bawah langit pendopo yang teduh, Selasa siang itu, suasana terasa lebih dari sekadar temu kangen para purnatugas. Ada gelak tawa, ada nostalgia, tapi juga ada energi yang diam-diam menyala: semangat untuk tetap berarti.
Sebanyak 250 anggota Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI) Kabupaten Blora berkumpul dalam acara halalbihalal bersama jajaran pemerintah daerah. Mereka datang dari berbagai latar belakang pengabdian—mantan birokrat, pejuang, hingga aparat penegak hukum yang telah purna tugas. Namun satu hal menyatukan: mereka belum selesai berkontribusi.
Mengusung tema “Guyub Rukun Paseduluran Saklawase”, acara ini bukan sekadar seremoni tahunan.
Ketua panitia, Pujianto Said, menegaskan bahwa halalbihalal adalah momentum membumikan nilai hidup sederhana namun dalam: setiap detik berbuat baik, setiap langkah bernilai ibadah. Sebuah pengingat bahwa masa pensiun bukan akhir peran, melainkan babak baru pengabdian.
Suasana mencair ketika tepuk tangan “5A” menggema: Awak Sehat, Ati Seneng, Awet Uripe, Ana Gunane, Ajek Ibadahe. Tepuk sederhana, tapi sarat makna—tentang harapan hidup yang tak hanya panjang, tapi juga berguna.
Tawa kemudian pecah lewat lagu-lagu jenaka yang dibawakan para senior. Namun tak lama, suasana berubah syahdu saat lantunan “Keagungan Tuhan” mengalun, menghadirkan ruang hening untuk merenung. Di antara canda dan haru, terselip kesadaran: usia boleh menua, tetapi jiwa tetap ingin dekat dengan Yang Maha Kuasa.

Ketua PWRI Blora, Bambang Sulistya, dalam sambutannya memilih pendekatan yang tak biasa. Ia menyelipkan kritik halus sekaligus optimisme. Di tengah dinamika global dan tekanan ekonomi, ia menyoroti pentingnya stabilitas nasional sekaligus mengajak anggota tetap berpikir jernih dan tidak larut dalam pesimisme.
Ia juga memperkenalkan filosofi “MBG”—yang dengan cerdas diplesetkan bukan sebagai program pemerintah, melainkan nilai hidup: meningkatkan silaturahmi, membersihkan diri dari dosa sosial, dan menghadirkan kegembiraan di tengah kesulitan.
“Halalbihalal jangan berhenti di salaman. Harus jadi energi sosial,” kira-kira begitu pesan yang ingin ia tekankan.
Dari pihak pemerintah, apresiasi datang melalui Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, Mohammad Toha Mustofa. Ia menyebut para wredatama sebagai teladan yang tetap relevan. Bukan hanya karena pengalaman, tetapi karena kemampuan mereka menjaga kewarasan sosial—terutama di tengah maraknya hoaks dan fitnah.
Pesan itu terasa penting. Di era informasi yang liar, suara orang-orang berpengalaman justru semakin dibutuhkan sebagai penjernih.
Acara ditutup dengan tausiah yang sederhana namun mengena: manusia pasca-Ramadan diibaratkan seperti ulat yang berproses menjadi kupu-kupu. Transformasi bukan sekadar simbolik, tetapi harus nyata dalam sikap dan perilaku.
Di penghujung acara, tawa kembali pecah saat doorprize dibagikan—sepeda pancal dan hadiah lainnya. Namun lebih dari itu, yang dibawa pulang para peserta bukan sekadar bingkisan, melainkan perasaan hangat: bahwa mereka masih bagian penting dari denyut kehidupan sosial.
Di pendopo itu, waktu seakan memberi pesan: menjadi tua bukan berarti selesai. Justru di situlah kebijaksanaan menemukan panggungnya. (*)


