Lebaran yang Menghapus Jarak: Ketika PKL dan Bupati Duduk Semeja

Korandiva-BLORA.- Suasana hangat tak sekadar terasa—ia benar-benar hidup di Rumah Dinas Bupati Blora, Sabtu (28/3/2026). Di tengah nuansa Lebaran yang masih lekat, rombongan pedagang kaki lima yang tergabung dalam Pujakumara datang bukan hanya untuk bersalaman, tetapi meneguhkan ikatan sosial yang kerap terpinggirkan oleh hiruk-pikuk ekonomi jalanan.
Mereka disambut langsung oleh Bupati Arief Rohman—atau yang akrab disapa Gus Arief—bukan dalam formalitas kaku, melainkan dalam suasana yang cair dan setara. Ruang VIP yang biasanya terasa eksklusif, siang itu berubah menjadi ruang kebersamaan. Tawa, obrolan ringan, hingga santap hidangan khas Lebaran menjadi penanda bahwa jarak antara pemimpin dan rakyatnya bisa luruh dalam momen yang tepat.
“Bagai mendapat durian runtuh,” ujar Supriyanto, Ketua Pujakumara, dengan mata berbinar. Bukan semata karena jamuan, melainkan karena rasa dihargai. Diwongke—sebuah kata sederhana dalam bahasa Jawa yang sarat makna—menjadi inti dari pertemuan itu.
Di balik suasana hangat, terselip pesan yang tajam. Gus Arief tidak hanya mengapresiasi, tetapi juga menegaskan tanggung jawab. Ia mengingatkan bahwa ruang publik seperti Alun-Alun Blora bukan sekadar tempat mencari nafkah, melainkan wajah kota yang harus dijaga bersama.

“Berdagang itu ibadah. Tapi jangan lupa, kita juga punya tanggung jawab menjaga Alun-Alun tetap BINA: Bersih, Indah, Nyaman, dan Asri,” pesannya, lugas namun mengena.
Pesan itu diperkuat oleh sesepuh Pujakumara, Khoirurroziqin, yang mendorong agar semangat kebersamaan tidak berhenti di ruang pertemuan. Kerja bakti rutin setiap Jumat kembali digaungkan—sebuah langkah kecil yang, bila konsisten, mampu menjaga marwah ruang publik.
Pertemuan itu akhirnya ditutup dengan doa. Namun lebih dari itu, yang tertinggal adalah rasa—bahwa di tengah dinamika ekonomi kecil yang kerap terabaikan, ada ruang dialog yang terbuka, ada tangan yang menyambut, dan ada harapan yang dirawat bersama.
Bagi para pedagang, siang itu bukan sekadar halalbihalal. Ia adalah pengakuan. Ia adalah penguatan. Dan mungkin, ia adalah awal dari relasi yang lebih manusiawi antara kekuasaan dan mereka yang setiap hari menghidupi denyut kota dari pinggir jalan. (*)



