Menata Asa Kesehatan dari Aula Dinkesda Blora

Korandiva-BLORA.- Suasana Aula Dinas Kesehatan Daerah Kabupaten Blora, Jumat Legi 13 Februari 2026, terasa berbeda dari biasanya. Deretan kursi tertata rapi, percakapan hangat antarpejabat dan pemangku kepentingan terdengar bersahutan, seolah menandai satu semangat yang sama: menyiapkan arah pembangunan kesehatan untuk tahun-tahun mendatang.
Forum Perangkat Daerah yang digelar Dinkesda pagi itu bukan sekadar agenda rutin penyusunan Rencana Kerja 2027. Ia menjadi ruang temu lintas sektor—dari unsur legislatif, organisasi perangkat daerah, pimpinan rumah sakit, organisasi kemasyarakatan, hingga perwakilan tenaga kesehatan—yang membawa harapan agar layanan kesehatan semakin merata dan bermutu.
Di tengah forum, Kepala Dinkesda Edi Widayat membuka sambutan dengan nada yang tenang namun tegas. Ia mengingatkan bahwa kondisi keuangan negara sedang tidak dalam situasi ideal. Karena itu, setiap rencana harus disusun dengan penuh kehati-hatian, realistis, namun tetap optimistis. Ungkapan Jawa “Jer Basuki Mowo Geni” pun meluncur dari bibirnya—sebuah pesan bahwa keberhasilan menuntut pengorbanan dan kesungguhan.
Meski menyadari keterbatasan, Edi tidak menutup mata terhadap capaian yang telah diraih. Salah satu kebanggaan yang disampaikan adalah keberadaan fasilitas USG di seluruh puskesmas wilayah Blora—sebuah langkah penting dalam meningkatkan layanan kesehatan ibu dan anak. Namun di balik pencapaian itu, ia mengakui masih banyak pekerjaan rumah yang menanti.
Persoalan penyakit menular dan tidak menular yang belum sepenuhnya terkendali, angka kematian ibu dan bayi yang masih tinggi, hingga kualitas pelayanan publik yang perlu terus diperbaiki menjadi sorotan utama. Di sisi lain, usia harapan hidup masyarakat yang telah menyentuh angka lebih dari 74 tahun menunjukkan bahwa upaya kesehatan selama ini tidak sia-sia, meski tantangan stunting dan gizi masih membayangi.

Forum tak hanya diisi paparan data dan program. Ketika sesi dialog dibuka, suara aspirasi mengalir lebih personal. Bambang Sulistya, perwakilan organisasi purna tugas aparatur sipil negara, menyampaikan apresiasi sekaligus harapan. Baginya, kepemimpinan di Dinkesda tidak sekadar administratif, tetapi juga menyentuh sisi kemanusiaan dan kepedulian sosial.
Usulan yang ia bawa sederhana namun sarat makna: menghadirkan program kebahagiaan dan kesehatan bagi para lanjut usia. Senam bersama, pemeriksaan kesehatan gratis, makan bergizi, hingga wisata rekreasi diharapkan mampu memberi ruang kebugaran sekaligus kebersamaan bagi mereka yang telah memasuki senja usia. Tak kalah penting, pelayanan yang ramah dan penuh penghormatan saat lansia berobat di puskesmas maupun rumah sakit juga menjadi penekanan.
Respon positif pun datang dari pimpinan forum. Usulan tersebut dicatat sebagai bagian dari bahan pertimbangan penyusunan program ke depan. Di penghujung acara, penandatanganan komitmen bersama dan foto kelompok menutup rangkaian kegiatan.
Senyum para peserta merekah—sebuah penanda bahwa di balik angka, tabel, dan rencana kerja, terdapat harapan kolektif untuk satu tujuan yang sama: masyarakat yang lebih sehat dan sejahtera. Jumat Legi itu pun berlalu dengan keyakinan bahwa setiap langkah kecil hari ini adalah pondasi bagi kesehatan esok hari. (*)



