APTRI Blora Temui Bupati, Desak Solusi Krisis Giling 2025; Kerugian Petani Ditaksir Rp 15 Miliar

Korandiva-BLORA.— Pengurus Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Kabupaten Blora yang dipimpin Drs. H. Sunoto menggelar silaturahmi sekaligus audiensi dengan Bupati Blora Dr. H. Arief Rohman, S.IP., M.Si di rumah dinas bupati, Sabtu (7/2/2026). Pertemuan tersebut tidak sekadar seremoni, melainkan menjadi forum pelaporan hasil konsolidasi internal APTRI yang memunculkan rencana aksi damai ke Pabrik Gula PT GMM Bulog pada Kamis (12/2/2026).
Sunoto menjelaskan, salah satu poin penting yang disampaikan kepada bupati adalah pembentukan tim pencari fakta untuk mendata luas areal tebu yang belum tertebang pada musim giling 2025 beserta estimasi kerugian petani. Langkah ini diambil menyusul penghentian giling secara sepihak oleh manajemen PT GMM Bulog dengan alasan kerusakan berat pada dua unit boiler.
Berdasarkan laporan sementara, sedikitnya 300 hektare lahan tebu belum terpanen dengan taksiran kerugian petani mencapai Rp 15 miliar. Angka tersebut dinilai berpotensi bertambah apabila tidak segera ada kepastian kebijakan dan langkah teknis dari pihak perusahaan maupun pemangku kepentingan terkait.
Menanggapi laporan itu, Bupati Blora disebut memberikan respons cepat dan terbuka. Di hadapan pengurus APTRI, bupati langsung melakukan komunikasi via telepon dengan sejumlah pihak di tingkat pusat. Hasilnya, diputuskan keberangkatan ke Jakarta pada Minggu pagi (8/2/2026) bersama sebagian pengurus APTRI untuk menemui sejumlah pejabat strategis guna mempercepat penyelesaian persoalan.

Agenda utama yang akan dibawa ke pusat antara lain dorongan renovasi pabrik gula agar musim giling 2026 tetap berjalan, serta tuntutan reformasi menyeluruh pada tata kelola internal PT GMM Bulog. Bahkan, telah dijadwalkan pertemuan dengan salah satu menteri pada Minggu pukul 17.00 WIB di kawasan Widya Candra, Jakarta Selatan.
Langkah cepat bupati menuai apresiasi dari jajaran pengurus APTRI. Sunoto menilai respons tersebut menunjukkan kemampuan komunikasi dan sensitivitas kepemimpinan terhadap persoalan mendesak di sektor pertanian tebu. Senada, Sekretaris APTRI Blora Anton Sudibdyo, S.Ag menyebut jejaring komunikasi bupati di tingkat nasional menjadi modal penting dalam mendorong percepatan solusi.
Sementara itu, Agus Joko Susilo, mantan Kepala Desa Nglaroh Gunung, menggambarkan sosok Bupati Blora sebagai pemimpin yang sederhana, tegas, dan lugas. Meski demikian, di balik optimisme tersebut, tekanan terhadap pihak pengelola pabrik gula dinilai masih perlu dijaga agar tidak berhenti pada wacana perbaikan semata.
APTRI Blora pun mengajak para petani tebu di wilayahnya untuk tetap solid mengawal proses ini seraya berharap upaya yang ditempuh pemerintah daerah dan perwakilan petani di tingkat pusat mampu menghasilkan keputusan konkret. Harapan itu dirangkum dalam pantun yang disampaikan Joko, “Beli roti di Pasar Sido Makmur, tekadnya nyawiji, petani makmur.” (*)



