Semangat “Gabah Diinteri Wis Kadhung Teles”, APTRI Blora Siapkan Aksi Massa Tuntut Pembenahan Manajemen PG GMM Bulog

Korandiva-BLORA.- Peribahasa Jawa “gabah diinteri, wis kadhung teles ojo dilereni” terasa hidup siang itu. Kalimat lama yang berarti “jika gabah sudah terlanjur basah jangan dihentikan” seolah menjadi napas bersama para pengurus Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Kabupaten Blora saat berkumpul di kawasan Bumi Indah Flora, samping Pabrik Gula PT GMM Bulog Tinapan, Todanan, Kamis (5/2/2026). Di tengah udara panas dan aroma tebu yang samar, rapat itu bukan sekadar agenda organisasi, melainkan ruang curahan harap dan kegelisahan para petani.
Di kursi depan, Ir. Sri Wahyuningsih—yang akrab disapa Wahyu—berdiri menyampaikan uneg-uneg. Sosok yang dijuluki Srikandi petani tebu Blora sekaligus mantan Kepala Bagian Tanaman PG GMM itu berbicara lugas. Hingga kini, katanya, tanda-tanda renovasi pabrik gula yang dinanti petani belum juga tampak. Berulang kali audiensi dilakukan, namun hasilnya belum menyentuh akar persoalan. Rasa jenuh dan kecewa pun mengemuka, seolah harapan hanya berputar pada janji yang tak kunjung pasti.
Di sudut lain ruangan, Ketua APTRI Blora, Drs. H. Sunoto, mencoba merangkum gelombang emosi yang mengisi forum. Ia memahami kegelisahan petani yang masih dibayangi persoalan masa giling 2025 sekaligus ketidakjelasan musim giling 2026. Dari situ muncul gagasan membentuk Tim Pencari Fakta—sebuah upaya sistematis untuk mendata luas tebu yang belum tertebang dan menghitung potensi kerugian petani. Baginya, pembenahan bukan hanya soal mesin dan boiler, tetapi juga menyentuh tata kelola dan integritas di tingkat manajemen.
Nada kritis turut disuarakan Anton Sudibdyo, mantan anggota DPRD. Dengan nada prihatin, ia menyoroti ironi pabrik gula yang dinilai belum menunjukkan kinerja menggembirakan. Anton menekankan pentingnya profesionalisme pengelola, bahkan mengutip sebuah hadis tentang bahaya menyerahkan urusan kepada yang bukan ahlinya—sebuah pesan moral yang disambut anggukan sebagian peserta rapat.

Suasana forum kian dinamis ketika Ketua Serikat Pekerja, Albert, menyatakan kesiapan menggerakkan massa untuk menyuarakan aspirasi. Di sisi lain, Penasehat APTRI Ir. H. Bambang Sulistya, M.MA., mengajak peserta menjaga kekompakan. Ia menekankan dua langkah yang perlu disiapkan: pengumpulan data melalui Tim Pencari Fakta dan penyusunan rencana aksi bersama serikat pekerja sebelum Ramadan tiba. Baginya, perjuangan petani tak hanya soal tuntutan, tetapi juga soal martabat dan keberlanjutan hidup banyak keluarga.
Menjelang rapat ditutup, keputusan pun mengerucut. Aksi unjuk rasa direncanakan berlangsung Kamis, 12 Februari 2026 pukul 09.00 WIB di areal Pabrik Gula PT GMM Bulog.
Pengurus APTRI akan mengenakan seragam ala Samin, sementara para petani tebu memilih pakaian hitam sebagai simbol kebersamaan. Di ujung pertemuan, sebuah pantun sederhana mengalun, “Buah jambu buah pepaya, perjuangan para petani tebu harus jaya.”
Kalimat ringan itu menjadi penanda bahwa di balik data dan tuntutan, ada semangat kolektif yang terus dijaga—semangat untuk tidak berhenti, meski gabah telah terlanjur basah. (*)



