27.9 C
Blora

Keracunan MBG di Gubug, Alarm Higienitas Program Makan Gratis

Korandiva-GROBOGAN.- Suasana Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan, mendadak berubah sejak akhir pekan lalu. Ratusan warga, mayoritas pelajar dari berbagai jenjang sekolah, satu per satu mengeluhkan mual, sakit perut, dan diare usai menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mereka terima pada Jumat–Sabtu, 9–10 Januari 2026.

Hingga Selasa (13/1/2026) pukul 06.00 WIB, jumlah korban dugaan keracunan tercatat mencapai 803 orang. Dari angka tersebut, sebanyak 688 orang telah dinyatakan sembuh, sementara 115 lainnya masih menjalani perawatan di sejumlah fasilitas kesehatan di Grobogan.
Di ruang-ruang perawatan, kondisi para siswa perlahan menunjukkan perbaikan. Meski begitu, keluhan belum sepenuhnya hilang.

“Mual sudah berkurang, tetapi perut masih terasa mulas dan sakit. Frekuensi buang air besar juga sudah menurun,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Grobogan, Djatmiko, melalui pesan singkat.

Kasus ini langsung mendapat perhatian Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Sekretaris Daerah Jawa Tengah, Sumarno, menegaskan bahwa Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tengah melakukan penelusuran menyeluruh untuk memastikan penyebab pasti dugaan keracunan massal tersebut.

“Sedang dilakukan asesmen secara detail untuk mengetahui penyebabnya,” kata Sumarno saat ditemui di Kompleks Kantor Gubernur Jawa Tengah, Selasa (13/1).

Penelusuran difokuskan pada rantai pengolahan makanan, mulai dari persiapan bahan, proses memasak, hingga waktu dan cara penyajian. Aspek higienitas menjadi perhatian utama, mengingat makanan diproduksi dan didistribusikan dalam jumlah besar. Untuk itu, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah juga berkoordinasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN).

“Hal-hal yang berkaitan dengan sanksi dan tindak lanjut program merupakan kewenangan BGN. Sejak pagi, pihak BGN juga sudah berada di Dinas Kesehatan untuk membahas penanganan kasus ini,” jelas Sumarno.

Sementara itu, sampel menu MBG yang dikonsumsi para siswa telah dikirim ke Laboratorium Kesehatan Provinsi Jawa Tengah untuk pemeriksaan lebih lanjut. Menu yang diperiksa meliputi nasi kuning, telur dadar, tempe orek, dan abon. Hasil uji laboratorium diperkirakan baru akan diketahui dalam waktu 7 hingga 10 hari.

Sumarno menyebutkan, berdasarkan pengalaman dari kasus-kasus serupa, keracunan massal kerap dipicu oleh makanan yang basi akibat waktu penyimpanan dan penyajian yang terlalu lama. Namun ia menegaskan, dugaan tersebut belum dapat disimpulkan sebelum hasil laboratorium keluar.

“Apakah dari proses persiapan, waktu pengolahan, penyajian, bahan baku, atau faktor higienitas lainnya, semuanya masih didalami,” ujarnya.

Kasus di Gubug ini menjadi pengingat penting bahwa program pemenuhan gizi, selain menyasar kecukupan nutrisi, juga menuntut pengawasan ketat terhadap standar keamanan pangan. Di tengah upaya pemerintah meningkatkan kualitas gizi generasi muda, aspek kebersihan dan ketepatan proses pengolahan menjadi kunci agar program yang baik tidak justru berujung petaka. (*)

Berita Terbaru

- Advertisement -spot_img

Berita Terkait