24.9 C
Blora

Merajut Silaturahmi, PWRI Tunjungan Meneguhkan Semangat Pengabdian

Korandiva-BLORA.- Sabtu pagi (10/1/2026) di Kecamatan Tunjungan terasa berbeda. Suasana kebersamaan begitu kental ketika para pengurus dan anggota Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI) berkumpul dalam sebuah rapat konsolidasi organisasi yang dikemas unik dalam konsep Three In One. Tidak sekadar rapat, kegiatan ini menjadi ruang temu, refleksi, sekaligus penyemangat pengabdian bagi para purna aparatur negara.

Kegiatan dimulai dengan senam bersama yang diikuti penuh antusias. Gerakan demi gerakan dilakukan dengan wajah ceria, seolah menjadi simbol bahwa usia tak menghalangi semangat untuk tetap sehat dan aktif. Selepas itu, kebersamaan berlanjut dalam makan pagi bersama ala MBG, sebelum akhirnya masuk ke sesi sambung rasa antara pengurus PWRI, Koperasi PWRI Koptama Mardi Santosa, dan para anggota.

Hadir pula jajaran pengurus PWRI Kabupaten Blora yang memberikan perhatian khusus sekaligus suntikan motivasi. Ketua PWRI Kecamatan Tunjungan, Fauzi, S.Ag., menyampaikan bahwa kegiatan tersebut dirancang sebagai wahana evaluasi organisasi, mencari solusi atas berbagai tantangan, sekaligus mempererat tali silaturahmi.

“Dengan kehadiran pengurus PWRI Kabupaten Blora, kami berharap semangat juang pengabdian para pengurus dan anggota PWRI Kecamatan Tunjungan semakin tumbuh dan menguat,” ujarnya.

Di balik suasana hangat itu, tersimpan cerita kerja keras dan kolaborasi yang membuahkan hasil nyata. Ketua Koperasi PWRI Koptama Mardi Santosa Kecamatan Tunjungan, H. Supriyadi, S.Pd., memaparkan berbagai aktivitas koperasi yang selama ini menjadi penopang kesejahteraan anggota. Puncaknya, koperasi berhasil membeli lahan dan membangun Gedung PWRI Kecamatan Tunjungan pada periode 2022–2023.

Gedung yang kini berdiri megah tersebut dibangun dengan total dana Rp 1,21 miliar, terdiri dari pembelian lahan sebesar Rp 550 juta serta pembangunan gedung, pagar, dan ruko senilai Rp 660 juta. Tak hanya menjadi pusat kegiatan organisasi, gedung itu juga memberikan pemasukan rutin dari sewa ruko sebesar Rp 1 juta per bulan, yang dimanfaatkan untuk operasional dan pemeliharaan.

Apresiasi tinggi datang dari Ketua PWRI Kabupaten Blora, Ir. H. Bambang Sulistya, M.MA. Ia menilai sinergi antara PWRI dan koperasi di Tunjungan sebagai contoh kolaborasi yang patut diteladani. Bahkan, ia menyebut Gedung PWRI Kecamatan Tunjungan sebagai yang terbaik di Blora, dan berpotensi menjadi yang termegah di Jawa Tengah.

“Gedung ini sangat representatif dan megah. Bisa jadi belum ada yang menyamai, bukan hanya di Blora, tetapi juga di Jawa Tengah, bahkan mungkin se-Indonesia,” ungkap mantan anggota DPRD Blora itu.

Semangat kebersamaan PWRI Tunjungan tak berhenti pada urusan internal. Di penghujung tahun 2025, organisasi ini berhasil menghimpun dana keikhlasan sebesar Rp2.100.000 yang disalurkan kepada korban bencana tanah longsor dan banjir bandang di Pulau Sumatera. Sebuah bukti bahwa kepedulian sosial tetap menjadi denyut utama gerak organisasi.

Dalam pesannya, Bambang Sulistya mengajak seluruh pengurus dan anggota untuk membumikan semangat SBY: Siap berjuang meningkatkan kesejahteraan dan pengabdian, Berani berbuat baik serta bertanggung jawab, dan Yakin bahwa setiap langkah akan membawa manfaat serta perubahan.
Ia juga mengingatkan agar keluarga besar PWRI tetap bersikap prasaja, lomo, dan ora neko-neko dalam menghadapi Tahun Kuda Api (Fire Horse). Selain itu, PWRI diajak berperan aktif mendukung program Bupati Blora Dr. H. Arief Rohman, S.IP., M.Si. dalam menjadikan Blora sebagai pusat pengembangan buah nusantara melalui gerakan menanam.

Sebagai simbol, diserahkan bantuan bibit jambu air dersono atau jambo bol yang dikenal bermanfaat bagi kesehatan. Pada kesempatan yang sama, Surat Keputusan Kepengurusan PWRI Kecamatan Tunjungan Masa Bakti 2025–2030 juga diserahkan, disertai pesan agar pengurus menjadi teladan dalam mengamalkan sesanti PWRI, “Setiap detik berbuat baik dan setiap melangkah untuk beribadah.”

Suasana semakin cair ketika H. Soedadyo, S.H., mengajak peserta melakukan tepuk tangan lansia A5: Awak sehat, Ati seneng, Awet urip, Ana gunane, lan Ajeg ibadahe. Ia pun menutup dengan pengingat spiritual tentang pentingnya budaya menanam sebagai amalan jariyah, mengutip hadis riwayat Ahmad: “Jika hari kiamat terjadi sementara di tangan salah satu di antara kamu ada bibit tanaman, maka tanamlah.”
Di Tunjungan pagi itu, PWRI tidak sekadar berkumpul. Mereka merawat silaturahmi, merayakan kebersamaan, dan meneguhkan komitmen untuk terus memberi arti bagi masyarakat. (*)

Berita Terbaru

- Advertisement -spot_img

Berita Terkait