27.5 C
Blora

Dari Warung Kopi ke Falsafah Leluhur: Sambung Rasa Bambang Sulistya dengan Penarik Becak

Korandiva-BLORA.- Di tengah suasana awal Tahun Baru 2026 yang masih terasa hangat, sebuah pertemuan sederhana namun sarat makna berlangsung di Cafe Kuma, Jalan Bayangkara Gang Perdamaian, Kelurahan Karangjati, Blora, Kamis (1/1/2026). Mantan Anggota DPRD Blora, Ir. H. Bambang Sulistya, M.MA., mengundang sejumlah penarik becak untuk sekadar duduk bersama, berbincang, dan berbagi rasa dalam acara sambung rasa yang berlangsung penuh keakraban.

Para penarik becak yang hadir sehari-hari menggantungkan harapan rezeki di kawasan Komplek Perumnas Karangjati. Dalam balutan suasana santai tanpa sekat, Bambang Sulistya memanfaatkan momentum Tahun Baru sebagai ruang refleksi bersama, mengajak para peserta kembali menengok nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur Jawa.

Baginya, Tahun Baru 2026 bukan semata pergantian kalender, melainkan kesempatan untuk menumbuhkan kembali kepekaan sosial dan memperkuat ikatan kemanusiaan. Ia mengangkat falsafah Jawa yang telah lama hidup di tengah masyarakat, mangan ora mangan sing penting kumpul.

“Filosofi ini mengajarkan bahwa kebersamaan jauh lebih penting dari sekadar urusan perut. Biarpun tidak makan, yang penting bisa bersama, saling mendengarkan, dan menyampaikan uneg-uneg,” tuturnya dengan nada reflektif.

Menurut Bambang, ungkapan tersebut mengandung nilai persatuan, rasa sepenanggungan, serta semangat guyub rukun yang menjadi ciri khas kehidupan masyarakat Jawa. Nilai-nilai itulah yang selama ini menjaga harmoni sosial dan memperkuat persaudaraan lintas latar belakang.

Ia pun mengaitkan kearifan lokal tersebut dengan pesan kebangsaan yang lebih luas. Bambang menyinggung slogan Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono, “Bersama kita bisa”, yang dinilainya berhasil menanamkan semangat kolektif dan kebersamaan hingga mengantarkan SBY memenangi pemilihan presiden dua periode.

Tak hanya itu, Bambang juga mengutip pernyataan Ketua DPR RI Dr. (HC) Puan Maharani, S.Sos., yang pada 15 Agustus 2025 lalu menegaskan pentingnya menyegarkan kembali kearifan lokal Jawa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Filosofi mangan ora mangan sing penting kumpul dinilai relevan sebagai pengingat agar kebersamaan tidak tergeser oleh kepentingan pribadi.

Dalam sesi obrolan yang berlangsung cair, para penarik becak pun mulai membuka cerita tentang realitas hidup yang mereka hadapi. Keluhan demi keluhan disampaikan, terutama terkait kondisi ekonomi dan harapan akan bantuan becak listrik, program bantuan Presiden Prabowo Subianto.

Sebagaimana diketahui, pada Desember 2025 lalu, sebanyak 100 unit becak listrik telah disalurkan kepada penarik becak di Kabupaten Blora melalui Wakil Bupati Blora Hj. Sri Setyorini. Namun, sebagian penarik becak yang biasa mangkal di sekitar Perumnas Karangjati mengaku belum tersentuh bantuan tersebut.

Beberapa di antara mereka, seperti Sadikin, Moh. Asrok, Mujono, dan Suparman, menyampaikan bahwa persyaratan administrasi berupa fotokopi KTP telah dikumpulkan. Mereka berharap realisasi bantuan tahap kedua benar-benar terwujud.
Menanggapi aspirasi itu, Bambang Sulistya berjanji akan menyampaikan langsung kepada Bupati Blora Dr. H. Arief Rohman, S.IP., M.Si. Harapan pun disematkan agar bantuan becak listrik tahap berikutnya dapat segera menjangkau para penarik becak di kawasan tersebut.

Pertemuan sederhana itu ditutup dengan makan bersama dan doa yang dipimpin oleh modin setempat. Di akhir acara, ucapan selamat Tahun Baru 2026 mengalir, disertai harapan agar para penarik becak senantiasa diberi keberkahan hidup, serta Kabupaten Blora terus tumbuh menjadi daerah yang maju, akur, makmur, dan misuwur. (*)

Berita Terbaru

- Advertisement -spot_img

Berita Terkait