Arsip Tag: Profesi

Kumpul di Rumah Mak Nyak, YouTuber Cepu Dibekali Ilmu Jurnalistik

BLORA.-

Apa jadinya jika puluhan youtuber kumpul di satu tempat? Heboh.., masing-masing dari mereka sibuk mengambil gambar video dari Ponsel (mobile phone) dan smartphone miliknya untuk membuat video youtube.
Seperti yang terlihat pada acara Pelatihan Jurnalistik & Ramah Tamah YouTubere Wong Cepu, Minggu (17/07/2022). Bertempat di rumah seorang YouTuber yang lagi naik daun, Mak Nyak di Dukuh Joho Desa Mulyorejo Kecamatan Cepu, acara yang diprakarsai koran Diva bersama Al-Hidayah Green Village itu sekaligus meresmikan berdirinya paguyuban YouTuber Cepu.
Puluhan youtuber hadir menyaksikan lounching “YouTubere Wong Cepu” yang diketuai oleh Mia Fajarwati, yang tidak lain adalah owner sekaligus developer Al Hidayah Green Village.

Kang Abas korandiva.co

Pada kesempatan itu hadir Kang Abas, pemimpin redaksi surat kabar Diva untuk memberikan pembekalan kepada para youtuber seputar ilmu jurnalistik.
Di hadapan para youtuber, pria jebolan Jawa Pos itu mengupas materi seputar media dan teknologi informasi yang dikemas dalam tema, “Media Informasi di Era 4.0”.
Menurut Kang Abas, kompetisi di era digital tidak hanya terjadi antar aplikasi berbeda seperti pengguna facebook, instagram, tiktok, dan youtube. “Yang seru malah kompetisi dalam aplikasi yang sama. Contohnya adalah persaingan antar youtuber,” papar Kang Abas.
Pada kesempatan itu Kang Abas juga memberikan tips untuk menjadi youtuber yang kreatif dan inovatif dengan cara berkolaborasi dengan media lain. “Youtuber juga berpeluang menjadi reporter,” tandasnya. (*)

Youtuber e Wong Cepu, Mak Nyak Gajian 7 Juta Sebulan

BLORA.-

Jebolan sekolah dasar ini tak pernah membayangkan bahwa sifat ceriwis dengan gaya bicaranya yang selalu ceplas ceplos itu menjadi daya tarik tersendiri bagi nitizen, sehingga video yang diunggahnya di chanel youtube selalu ditonton ribuan viewer.
Mak Nyak mengaku sudah 15 bulan berselancar di YouTube dan sudah mengunggah ratusan video melalui chanel Mak Nyak Official – YouTube. Konten pertamanya dibuat saat Mak Nyak mendarat (membantu orang yang punya hajatan) sebagai tukang cuci piring dan masak. Dari situlah Mak Nyak pertama kali menyapa netizen, ”Hei gaes…”
Perempuan bernama asli Suji itu mengaku sudah 12 kali menerima gaji dari adsense YouTube. “Gaji awal dua juta, sekarang saya dapat 7 juta sebulan,” ujar Mak Nyak dengan mata berbinar, saat ditemui wartawan, Selasa (04/07/2022).


Sebelum menjadi YouTuber, Mak Nyak dikenal sebagai pedagang lontong pecel keliling yang biasa mangkal di Pasar Mulyorejo, Cepu. Nama Mak Nyak itu pun merupakan panggilan yang awalnya asal-asalan oleh para pedagang di pasar. “Waktu itu di televisi ada film Si Doel Anak Sekolahan, dan kata orang saya ini mirip dengan pemeran Mak Nyak di film itu,” ujar perempuan setengah baya yang tinggal di Dukuh Joho, Desa Mulyorejo, Cepu, Kabupaten Blora.
Menurut Mak Nyak, keberhasilannya menjadi seorang YouTuber kondang tak lepas dari peran dan bimbingan seorang sahabatnya yang bernama Lek Damis, yang juga merupakan YouTuber terkenal saat ini.
Walaupun sudah menjadi YouTuber terkenal, pekerjaan sebagai penjual lontong pecel masih ditekuni hingga sekarang. “Dengan modal dagangan 250 ribu, Mak Nyak mengaku setiap hari pulang bisa membawa uang 300 ribu,” ujar Mak Nyak yang mengaku tidak akan meninggalkan pekerjaannya sebagai penjual lontong itu. (*)

30 Tahun Menjadi Tukang Pijat, Mukidin Tetap Bersahaja Tak Pernah Sambat

BOJONEGORO;
Semua pekerjaan asal dilakukan dengan kesungguhan pastilah menghasilkan kemanfaatan, begitu ungkap Moch Zaini 52 tahun warga Desa Brenggolo Kecamatan Kalitidu Kabupaten Bojonegoro kepada korandiva.co, Selasa (12/07/2022) waktu pria yang selalu bertopi itu melayani pelanggannya yang minta pijat di depan RSU Muhammadiyah Kalitidu.

Moch Zaini sudah puluhan tahun menekuni profesinya sebagai tukang pijat, baik dirumah maupun panggilan. Malam itu dia sedang ngopi disebuah warung emperan depan RSU Muhammadiyah, tiba tiba ada seorang tukang ojek yang menghampiri dan meminta dipijet, tak perlu waktu lama, Mukidin biasa dia dipanggil langsung berikan layanan ditempat. Sekitar 20 menit dia memijat, sang tukang ojek menyodorkan uang 30 ribu sebagai ucapan terima kasih,” rejeki mas, berapapun harus disyukuri,” ucap Mukidin sambil mengusap peluh dikeningnya.

Tak berapa lama, ada yang menghampirinya lagi, seorang tukang bakso yang biasa mangkal dipelataran Masjid Jami Kalitidu, Kholik namanya. ” Ayo cari tempat yang enak, saya juga pingin dipijat,” seoroh Kholik pada Mukidin. Waktu saat itu sudah menunjukan jam 23.15, Mukidin pun langsung beranjak untuk melayani permintaan sang tukang bakso. Sekitar 30 menit, selesailah tugas dia, selembar rupiah berwarna biru cukup membuatnya tersenyum.

Memang malam itu malam yang baik buat Mukidin si tukang pijat. Baru mau nyeruput kopi hitamnya, sudah ada lagi yang menghampiri untuk minta pijat. ” Malam ini lumayan lancar mas,” imbuh Mukidin dengan senyuman khasnya. Pria yang juga petani disiang hari itu begitu bersahaja, tiap pagi kesawah, habis dari sawah lanjutkan aktifitasnya untuk mencari pakan untuk ternak peliharaanya. Disela sela semua pekerjaannya, jika ada yang memanggil untuk dipijat, diapun layani dengan senang hati.

Ketika korandiva.co bertanya hasil dari pijat dipakai untuk apa ? Dengan rendah hati Mukidin menjawab,” cukup untuk kebutuhan sehari hari utamanya anak sekolah. Tiap malam dengan bersepeda motor dia kesana kemari melayani orang yang ingin dilayani jasanya. Saya nikmati hidup ini apa yang saya bisa lakukan,” pungkasnya. (*)