Arsip Tag: Aminudin

Aminudin Dorong Hilirisasi, Investasi Tertib, dan Layanan Publik Lebih Mudah untuk Majukan Blora

Korandiva-BLORA.— Anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah dari Dapil Blora–Grobogan, H. Abdullah Aminudin, menegaskan tiga sektor yang harus menjadi mesin percepatan pembangunan Blora: agroindustri, sumber daya alam, dan pariwisata. Tiga sektor ini, menurutnya, realistis dan saling menguatkan jika dikelola dengan arah dan tata kelola yang tepat.

Dalam diskusi agroindustri yang digelar FJMSB–JMSI baru-baru ini, Aminudin menjelaskan perannya sebagai penghubung antara regulasi di provinsi dan upaya menggandeng investor yang relevan dengan potensi Blora. “Saya bekerja di tingkat aturan dan anggaran, lalu mempertemukan potensi daerah dengan mitra yang tepat,” ujarnya.

Ia mengakui persaingan antar daerah di Jawa Tengah sangat ketat, sehingga perjuangan agar program provinsi berpihak ke Blora harus dibarengi data kuat, argumentasi logis, dan koalisi lintas fraksi. PKB, partai yang ia wakili, ditegaskannya harus tampil sebagai partai advokatif yang hadir tidak hanya saat pemilu, tetapi dalam penyelesaian masalah konkret warga.

Saat turun ke masyarakat, Amin hampir selalu menerima empat keluhan utama: jalan rusak, pertanian yang tidak menguntungkan, kesehatan yang mahal, dan pendidikan yang belum merata kualitasnya. Empat isu itulah yang ia kawal dalam kerja legislatif: perbaikan jalan lewat anggaran provinsi, advokasi pupuk subsidi, serta peningkatan mutu layanan pendidikan dan kesehatan.

Namun ia menolak membuat daftar prioritas yang saling menyingkirkan. “Semua sektor penting dan harus berjalan paralel,” tegasnya. Karena itu, ia mendorong agar program PU, pertanian, pendidikan, dan kesehatan tidak bekerja sendiri-sendiri, tetapi terintegrasi di dapil.

Amin juga menyoroti dua kelemahan besar yang menghambat investasi dan hilirisasi di Blora: belum adanya SOP investasi yang baku dan lemahnya komunikasi antar pemangku kepentingan. “Investor butuh kepastian, bukan sekadar promosi,” katanya. Ia mendorong penguatan regulasi investasi di provinsi sekaligus pembentukan forum tematik yang mempertemukan pemerintah daerah, pelaku usaha, kelompok tani, dan calon investor.

Menurutnya, bukti perjuangan tidak cukup dengan pernyataan di media. Ia menyebut beberapa hasil yang sudah dirasakan warga: perbaikan infrastruktur jalan melalui anggaran provinsi, advokasi keteraturan distribusi pupuk subsidi, serta dukungan terhadap guru madrasah diniyah yang selama ini menjadi garda depan pendidikan keagamaan.

Untuk masa depan Blora 5–10 tahun ke depan, Amin menawarkan tiga arah besar: layanan publik yang lebih sederhana berbasis teknologi informasi; industrialisasi yang berkelanjutan dan tidak merusak lingkungan; serta pertanian yang benar-benar memakmurkan petani.

“Komitmen saya adalah memastikan aspirasi itu masuk dalam kebijakan dan anggaran provinsi. Ukurannya sederhana: keputusan di Semarang harus bisa dirasakan di desa-desa Blora dan Grobogan,” ujarnya.

Di usia ke-276, kata Aminudin, Blora tidak boleh sekadar merayakan sejarah. Daerah ini harus berlari cepat mengejar ketertinggalan. Dan di ruang sidang DPRD Jawa Tengah, ia memastikan satu hal: suara Blora harus terdengar — dan diwujudkan dalam kebijakan nyata. (*)

Aminudin

Pada Kamis, 23 Januari 2025, Abdullah Aminudin, anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah dari Fraksi PKB, menggelar acara bancaan untuk merayakan terpilihnya dirinya. Yang membedakan acara ini dari tradisi selamatan biasa adalah tamu undangan yang hadir, yaitu wartawan-wartawan yang sering meliput kegiatan pemerintahan dan kantor dewan. Keputusan Aminudin untuk mengundang media ini tentu mengundang perhatian, mengingat banyak wakil rakyat yang cenderung menjaga jarak dengan wartawan, khawatir akan pemberitaan yang tidak menguntungkan.

Acara yang awalnya dimaksudkan sebagai syukuran sederhana itu kemudian berubah menjadi forum diskusi terbuka. Setelah Aminudin menyampaikan niatnya, wartawan bergantian bertanya untuk menggali lebih jauh terkait visinya sebagai anggota dewan. Dengan cara ini, Aminudin tidak hanya menunjukkan kedekatan dengan media, tetapi juga membangun komitmen untuk lebih transparan dalam menyampaikan informasi kepada publik. Langkah ini tentu patut diapresiasi, karena membuka ruang bagi publik untuk lebih memahami kerja-kerja legislatif.

Kedekatan antara wakil rakyat dan wartawan sering kali dihindari atau dijaga dengan hati-hati, terutama karena ketakutan akan pemberitaan negatif. Namun, Aminudin menunjukkan pendekatan yang berbeda dengan membuka diri dan bahkan mengungkapkan harapannya terkait kesejahteraan wartawan.

Ini menunjukkan bahwa kedekatan dengan media, jika dijalin dengan niat baik dan profesionalisme, dapat memperkuat hubungan antara pejabat publik dan masyarakat. Terlebih lagi, media memiliki peran sentral dalam membentuk opini publik dan menyampaikan informasi yang akurat.

Lebih dari itu, hubungan yang terbuka ini memungkinkan wakil rakyat untuk lebih cepat merespons isu-isu yang berkembang. Ketika kebijakan atau keputusan pemerintah dipertanyakan, media yang memiliki akses langsung ke pejabat publik bisa memberikan klarifikasi yang dibutuhkan. Ini mengurangi potensi kesalahpahaman dan mencegah terjadinya misinformasi yang dapat merusak citra pemerintahan.

Melalui komunikasi yang lancar dan jujur, kedekatan ini dapat memperkuat transparansi dan akuntabilitas pemerintah. Namun, kedekatan yang terjalin harus tetap dijaga dengan profesionalisme dan integritas. Jangan sampai hubungan ini dimanfaatkan untuk tujuan pencitraan atau manipulasi pemberitaan demi keuntungan politik pribadi. Jika dilakukan dengan benar, komunikasi terbuka antara wakil rakyat dan wartawan akan menciptakan dampak yang positif bagi masyarakat. Semoga langkah Abdullah Aminudin ini bisa menjadi contoh bagi wakil rakyat lainnya dalam menjalin hubungan yang lebih konstruktif dengan media demi kemakmuran rakyat, bukan sekadar untuk pencitraan belaka.
*