Korandiva-BLORA.– Malam itu seharusnya menjadi malam yang biasa bagi keluarga Satiran. Di dapur rumah sederhana mereka di Dukuh Wadung, Desa Kedungtuban, sepanci nasi sedang dimasak untuk menyambut pagi. Namun siapa sangka, dari dapur yang menjadi sumber kehidupan itu justru lahir petaka yang menghanguskan hampir seluruh harta benda mereka.
Senin dini hari (8/6), sekitar pukul 02.00 WIB, kobaran api tiba-tiba membelah kesunyian kampung. Warga yang sedang terlelap dikejutkan oleh cahaya merah menyala dan suara kayu terbakar yang terdengar dari arah rumah Satiran.
Di dalam rumah, Asmuah, istri Satiran, diketahui tertidur saat menunggu nasi yang sedang dimasak menggunakan kompor gas. Tak ada yang menyadari bahwa api perlahan membesar, melahap dapur, merayap ke dinding, lalu berubah menjadi amukan si jago merah yang tak lagi bisa dikendalikan.
Beberapa menit kemudian, api telah menjelma menjadi lautan bara.
Teriakan warga memecah malam. Orang-orang berhamburan keluar rumah. Ember demi ember air disiramkan, namun kobaran api terlalu besar untuk dilawan dengan tenaga manusia. Angin dini hari membuat lidah api semakin ganas, menjalar ke bangunan di samping rumah Satiran.
Rumah yang selama ini menjadi tempat tinggal sekaligus sumber penghidupan keluarga itu tak mampu diselamatkan. Warung pecel yang setiap hari menjadi tumpuan nafkah dan bengkel motor tempat mencari rezeki ikut ludes terbakar.
Tak berhenti di situ, api juga menghanguskan rumah milik Yuliana yang saat kejadian dalam keadaan kosong. Sementara rumah milik Sudirman mengalami kerusakan cukup parah pada bagian dapur dan kamar setelah tersambar kobaran api.
Dalam hitungan jam, tiga rumah yang dibangun dari hasil kerja keras bertahun-tahun berubah menjadi puing-puing hitam dan tumpukan abu.
Kasihumas Polres Blora AKP Midiyono mengatakan, kebakaran pertama kali diketahui sekitar pukul 01.50 WIB. Salah seorang warga mendengar suara seperti kayu terbakar dari arah dapur rumah korban sebelum akhirnya melihat kobaran api membesar.
Petugas gabungan dari Polsek Kedungtuban, Koramil, BPBD, Satpol PP, serta tim pemadam kebakaran dari Cepu dan Randublatung langsung diterjunkan ke lokasi. Empat unit mobil pemadam berjibaku melawan kobaran api selama hampir dua jam.
Baru sekitar pukul 04.00 WIB api berhasil dipadamkan.
Meski tidak menimbulkan korban jiwa, musibah ini meninggalkan luka mendalam bagi keluarga yang kehilangan tempat tinggal dan sumber penghidupan dalam waktu bersamaan. Kerugian akibat kebakaran tersebut diperkirakan mencapai Rp275 juta.
Kini, di atas puing-puing rumah yang masih menyisakan aroma hangus, keluarga Satiran hanya bisa memandang sisa-sisa kehidupan yang semalam lenyap dilalap api. Untuk sementara mereka harus menumpang di rumah tetangga.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa musibah besar kadang berawal dari hal yang tampak sepele. Sepanci nasi yang belum matang, sekejap berubah menjadi kobaran api yang menghanguskan mimpi, kenangan, dan hasil jerih payah bertahun-tahun.
Polisi mengimbau masyarakat agar tidak meninggalkan kompor dalam keadaan menyala dan selalu memastikan tabung LPG serta peralatan memasak dalam kondisi aman sebelum beristirahat.
Sebab, bagi keluarga Satiran, satu malam lengah telah mengubah segalanya. (*)



