Korandiva-JAKARTA.– Kesabaran petani tebu Blora tampaknya telah mencapai batas. Merasa menjadi korban dari mandeknya operasional PT Gendhis Multi Manis (GMM), sebanyak 40 petani tebu yang tergabung dalam Paguyuban Petani Tebu Blora, bersama Front Blora Selatan (FBS) dan sejumlah awak media, berangkat ke Jakarta pada Senin (8/6/2026) malam untuk mengadu langsung kepada DPR RI.
Mereka membawa satu pesan yang tegas: pemerintah harus bertanggung jawab atas gagalnya pengelolaan PT GMM oleh Perum Bulog yang telah memukul kehidupan ribuan warga yang menggantungkan nasib pada industri gula di Blora.
Audiensi dijadwalkan berlangsung dengan Komisi VI dan Komisi XI DPR RI di kompleks parlemen Senayan. Para petani berharap suara mereka tidak berhenti di ruang rapat, melainkan menjadi bahan pembahasan hingga tingkat sidang paripurna.
Humas Paguyuban Petani Tebu Blora, Khairul Anwar, mengatakan bahwa berhentinya aktivitas pabrik gula di Desa Tinapan, Kecamatan Todanan, telah menimbulkan luka ekonomi yang mendalam. Bukan hanya petani tebu yang terdampak, tetapi juga pekerja pabrik, pelaku UMKM, pedagang kecil, hingga masyarakat sekitar yang selama ini hidup dari denyut ekonomi pabrik.
“Kami datang ke DPR untuk menyampaikan bahwa Bulog gagal mengelola PT GMM. Kegagalan ini tidak hanya merugikan petani, tetapi juga mematikan roda ekonomi masyarakat di sekitar pabrik,” tegas Khairul sebelum keberangkatan rombongan.
Menurutnya, nasib petani tidak boleh terus dibiarkan menggantung tanpa kepastian. Ia meminta pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola pabrik yang dibangun dengan harapan besar menjadi penggerak ekonomi kawasan selatan Blora tersebut.
“Kenapa bisa gagal? Ini harus dibuka terang-benderang. Dampaknya sangat besar bagi petani dan masyarakat. Kami tidak ingin lagi ada pembiaran terhadap penderitaan yang kami alami,” ujarnya.
Khairul menegaskan, perjuangan para petani bukan sekadar menuntut perhatian, melainkan menagih solusi nyata agar pabrik gula kembali beroperasi. Menurutnya, keberadaan PT GMM sangat vital karena menjadi mata rantai utama antara petani dan industri gula nasional.
“Pabrik ini harus hidup kembali. Harus dikelola oleh manajemen yang profesional dan benar-benar memahami industri gula. Jika pabrik berjalan, petani punya harapan. Kalau pabrik mati, semangat petani ikut mati,” katanya.
Para petani berharap DPR RI dapat mendorong lahirnya keputusan konkret yang mampu menghidupkan kembali PT GMM. Mereka meyakini, kebangkitan pabrik gula tersebut tidak hanya menyelamatkan petani tebu, tetapi juga menggerakkan kembali ekonomi masyarakat Blora yang selama beberapa tahun terakhir ikut terpukul akibat berhentinya aktivitas pabrik.
Keberangkatan puluhan petani menuju Senayan menjadi simbol perlawanan sekaligus jeritan harapan. Dari ladang-ladang tebu di Blora, mereka menempuh ratusan kilometer menuju ibu kota untuk memperjuangkan satu hal yang dianggap paling mendasar: kepastian masa depan petani dan hidupnya kembali pabrik gula kebanggaan daerah. (*)



