Dari Blora ke Jakarta: Doa dan Harapan Petani Tebu untuk Giling 2026

Korandiva-BLORA.- Pagi itu, Rabu (21/1/2026), suasana di Kantor Pusat Perum Bulog, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, terasa berbeda. Sebanyak 35 petani tebu dari Kabupaten Blora tampak berkumpul dengan wajah penuh harap. Mereka datang jauh-jauh dari kampung halaman, menempuh perjalanan panjang dengan biaya swadaya, demi satu tujuan: memperjuangkan agar giling tebu tahun 2026 di Pabrik Gula (PG) PT GMM Bulog Blora tetap berjalan.
Langkah mereka disambut ramah. Pihak Bulog menerima para petani dengan penuh perhatian dan mempersilakan mereka menunggu di aula kantor. Kehadiran puluhan petani ini bukan sekadar simbol solidaritas, melainkan dukungan moral bagi Ketua APTRI Blora Drs. H. Sunoto dan Sekretaris APTRI Anton Sudibdyo, S.Ag., yang tengah mengikuti rapat penting menyangkut masa depan pabrik gula yang menjadi tumpuan hidup ribuan petani tebu Blora.
Rapat tersebut dipimpin langsung Direktur Utama Perum Bulog, Mayor Jenderal TNI Ahmad Rizal Ramdhani. Hadir pula Bupati Blora Dr. H. Arief Rohman, S.IP., M.Si., Wakil Bupati Hj. Sri Setyorini, Ketua DPRD Blora H. Mustopa, S.Pd.I., jajaran organisasi perangkat daerah, direksi PG GMM Bulog, hingga perwakilan serikat pekerja. Di ruang rapat itu, harapan dan kegelisahan petani tebu Blora dipertaruhkan.

Ketua APTRI Blora Sunoto menyampaikan, Bupati Blora menaruh harapan besar agar PG GMM Bulog dapat kembali beroperasi dan melaksanakan giling tebu pada 2026. Bagi Blora, pabrik gula tersebut bukan sekadar bangunan industri, melainkan aset strategis yang selama puluhan tahun menjadi sandaran ekonomi ribuan petani tebu dan penggerak roda perekonomian daerah.
Namun, Sunoto juga mengungkap luka lama yang belum sembuh. Penghentian giling secara mendadak pada musim giling 2025 membuat ribuan hektare tebu petani tak sempat tertebang. Harga tebu jatuh, kerugian membengkak, dan beban utang kian menyesakkan. “Kalau pabrik gula rugi, pegawai masih digaji. Tapi petani harus menanggung kerugian akibat salah kelola manajemen yang tidak profesional,” ujar Sunoto dengan nada getir, seraya meminta kepastian tanggung jawab jika peristiwa serupa terulang.
Nada senada disampaikan Anton Sudibdyo. Ia menyoroti merosotnya kinerja PG GMM Bulog dibandingkan masa-masa kejayaannya. Kerusakan dua boiler di tengah musim giling 2025 menjadi simbol buruknya pengelolaan. Anton mendesak renovasi total pabrik, penggantian boiler yang rusak, serta reformasi manajemen agar pabrik kembali dikelola secara profesional dan berpihak pada petani.

Harapan itu mendapat angin segar. Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani merespons positif aspirasi petani dan pemerintah daerah. Bulog, kata dia, berkomitmen mempertahankan keberlanjutan PG GMM Bulog dengan melakukan renovasi pabrik, termasuk mengganti dua boiler yang rusak dan membenahi manajemen internal agar lebih pro rakyat.
Bulog bahkan telah mengajukan anggaran sebesar Rp 114 miliar ke Sekretariat Negara. Dana itu diharapkan menjadi jalan keluar agar pabrik gula Blora kembali menggiling tebu pada 2026. “Kami mohon doa restu agar pengajuan ini segera disetujui,” ujar Ahmad Rizal.
Usai rapat, Bupati Blora bersama jajaran menemui para petani yang menunggu dengan sabar. Anton Sudibdyo menyampaikan hasil pertemuan itu dengan wajah sumringah. Ada harapan baru yang menyala, meski masih harus menunggu satu keputusan penting.
Sebagai ungkapan syukur, langkah para petani tebu Blora kemudian berlanjut ke Masjid Istiqlal. Di sana, mereka menunaikan salat berjamaah, memanjatkan doa agar perjuangan mereka berbuah nyata. Kini, mereka menanti realisasi janji, sembari bersiap melangkah lagi jika nasib tebu Blora masih harus diperjuangkan. (*)



