BLORAJAWA TENGAH

SUKUN, dari Buah Kehidupan Menjadi Pesan Kerukunan Umat

Korandiva-BLORA.- Di banyak halaman literatur, buah sukun (Artocarpus altilis) dikenal sebagai tanaman tropis serbaguna. Dijuluki bread fruit, sukun memiliki rasa dan tekstur yang menyerupai roti. Tak hanya menjadi alternatif pangan pengganti beras, jagung, dan terigu untuk menunjang ketahanan pangan, buah ini juga menyimpan beragam manfaat kesehatan, mulai dari melancarkan pencernaan, menjaga kesehatan jantung dan otak, meningkatkan daya tahan tubuh, mengontrol gula darah, hingga mengandung antioksidan alami.

Namun pada Minggu pagi (18/1/2025), sukun tidak hanya dibicarakan sebagai sumber pangan atau kesehatan. Di Masjid Nurul Falah, Perumnas RW V, Kelurahan Karajati, Kecamatan Blora, Kabupaten Blora, buah tropis ini menjelma menjadi simbol pesan kerukunan umat.

Dalam kultum tujuh menitnya, Ir. H. Bambang Sulistya, M.MA., mengangkat tema SUKUN sebagai refleksi kehidupan beragama di tengah masyarakat modern.

“Alhamdulillah, saya masih dipercaya Ketua Takmir Masjid Nurul Falah, H. Slamet Pamudji, SH., M.Hum., untuk menyampaikan pesan-pesan kebaikan. Judul kultum yang saya sampaikan adalah SUKUN,” ujar Bambang Sulistya di Blora, Senin (19/1/2026).

Ia mengajak jemaah menengok jejak sejarah sukun sebagai tanaman asli Nusantara. Relief Candi Borobudur abad ke-8 menjadi bukti bahwa sukun telah dikenal sejak ratusan tahun lalu. Di Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur, pohon sukun bahkan menjadi saksi bisu perenungan Bung Karno hingga lahirnya gagasan besar Pancasila.

Kini, tempat itu dikenal sebagai Taman Renungan Bung Karno.
Namun Bambang memberi makna lain pada sukun. Dalam kultumnya, SUKUN dipahami sebagai akronim “Supaya Rukun”, sebuah ajakan agar umat Islam mampu menjaga persatuan dan keharmonisan di tengah kehidupan yang ia sebut sebagai zaman kalabendu.

Menurutnya, realitas sosial hari ini menunjukkan gejala yang mengkhawatirkan. Di antara sesama umat Islam, kerap muncul sikap mudah tersulut emosi, saling menghujat, menghina, memaki, membenci, bahkan memfitnah dan bermusuhan. Padahal, Al-Qur’an dan hadis telah dengan tegas mengajarkan kehidupan yang rukun dan penuh kasih sayang.

Ia mengingatkan firman Allah dalam Surat Ali Imran ayat 103 agar umat Islam berpegang teguh pada tali agama Allah dan tidak bercerai-berai. Hadis riwayat Muslim dan Bukhari pun menegaskan bahwa sesama muslim adalah saudara yang tidak boleh saling menzalimi, membenci, atau mendengki. Semua itu sejalan dengan Surat Al-Anbiya ayat 107, yang menegaskan bahwa Nabi Muhammad SAW diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, menandai Islam sebagai agama rahmatan lil alamin.

Bambang juga menyoroti tumbuh suburnya budaya waton suloyo atau sikap asal-asalan yang berpotensi memecah persatuan umat dan mengikis ukhuwah Islamiah. Ia merangkum penyebab perpecahan tersebut dalam akronim MATI: meninggalkan ajaran agama, adanya dengki dan iri hati, tidak menggunakan akal sehat karena lebih menuruti emosi, serta kecintaan berlebihan terhadap dunia.

Sebagai jalan keluar, ia mengajak umat Islam membumikan nilai ENAK dalam kehidupan sehari-hari. ENAK berarti Enyahkan pikiran negatif, Niat baik dalam setiap langkah, Aktif membangun komunikasi yang saling menghormati dan membantu, serta Kembangkan budaya kasih sayang dan menjaga ukhuwah Islamiah. Ia pun mengutip hadis riwayat Abu Daud dan Tirmidzi tentang pentingnya menyayangi sesama makhluk agar memperoleh kasih sayang Allah SWT.

“Kisah seorang wanita tuna susila yang memberi minum anjing kehausan menjadi pelajaran berharga tentang kepekaan dan kasih sayang. Jika itu bisa dilakukan, apalagi oleh umat Islam yang taat,” tuturnya.

Menutup kultumnya, Bambang menegaskan bahwa SUKUN, atau Supaya Rukun, adalah sesuatu yang ENAK untuk diwujudkan dalam kehidupan. Ia mengutip pesan almarhum Gus Dur agar umat Islam mengedepankan Islam yang ramah, bukan Islam yang marah.
“Buah sukun dan buah merah, ciptakan guyub rukun, hidup jadi berkah,” ucapnya.

Usai kultum, pesan itu tak berhenti pada kata-kata. Panitia membagikan bibit tanaman buah kepada para jemaah sebagai bentuk dukungan terhadap program Bupati Blora, Dr. H. Arief Rohman, S.IP., M.Si., dalam mewujudkan Kabupaten Blora sebagai pusat pengembangan tanaman buah nusantara. Lebih dari itu, pembagian bibit tersebut menjadi ajakan nyata untuk menanam kebaikan dan menghadirkan amalan jariyah melalui budaya menanam. (*)

BERITA TERKAIT

Back to top button