Galaksi TV Digital dan Pertaruhan Akal Sehat di Blora

Korandiva-BLORA.- Di banyak daerah, media digital tumbuh dengan irama yang tak menentu. Hari ini trafik melonjak, esok hari menghilang. Satu berita bisa terangkat tinggi oleh algoritma, lalu tenggelam tanpa jejak keesokan paginya. Di tengah banjir informasi, publik justru semakin selektif. Banyak yang lelah, sebagian memilih menjauh dari berita karena rasa tidak percaya yang kian menebal.
Dalam lanskap yang rapuh itulah Galaksi TV Digital hadir di Blora. Kehadirannya bukan sekadar menambah saluran informasi, melainkan sebuah pertaruhan. Pertanyaannya sederhana sekaligus mendasar: apakah media lokal masih mungkin berdiri dengan martabat editorial, bertahan secara bisnis, dan tetap relevan di tengah ekosistem digital yang lebih ramah pada platform besar daripada ruang redaksi?
Secara angka, industri iklan digital Indonesia memang tampak menjanjikan. Proyeksi GroupM menyebutkan, pada 2025 belanja iklan nasional diperkirakan mencapai US$6,445 miliar, dengan sekitar 75 persen mengalir ke ranah digital. Namun di balik angka besar itu, media lokal menghadapi kenyataan pahit: sebagian besar belanja iklan justru terserap ke ekosistem platform global, bukan ke penerbit berita di daerah.
Pola konsumsi publik mempertegas tantangan itu. Data Reuters Institute menunjukkan, mayoritas masyarakat Indonesia masih mengakses berita melalui media sosial—60 persen pada 2024 dan sekitar 57 persen pada 2025. Artinya, media lokal bertarung di wilayah yang bukan miliknya sendiri, dengan aturan main yang bisa berubah kapan saja tanpa bisa ditawar.
Migrasi ke TV digital melalui kebijakan penghentian siaran analog (ASO) memang membuka peluang baru dari sisi teknologi dan distribusi. Kualitas siaran membaik, kanal semakin beragam. Namun persoalan utama media hari ini bukan lagi soal pemancar, melainkan soal kepercayaan. Di tengah misinformasi, konten manipulatif, dan sensasi yang mengalahkan akurasi, riset global menunjukkan gejala news avoidance kian menguat. Sekitar 39 persen responden mengaku kadang atau sering menghindari berita.
Dalam situasi seperti ini, media lokal akan kalah bila sekadar meniru pola media nasional: mengejar viral, volume, dan klik. Keunggulan media lokal justru terletak pada hal-hal yang sering luput dari radar algoritma: kedekatan peristiwa, konteks, dan akuntabilitas sosial. Media lokal berbicara tentang rapat desa, layanan publik, konflik lahan, harga komoditas, hingga kisah warga biasa—lengkap dengan penjelasan mengapa itu terjadi dan apa dampaknya bagi kehidupan sehari-hari.
Di titik inilah peluang Galaksi TV Digital terbuka. Bukan hanya sebagai pelapor peristiwa, tetapi sebagai penyusun konteks. Namun peluang itu mensyaratkan sikap editorial yang tegas. Kecepatan memang penting, tetapi ketepatan adalah harga diri. Verifikasi tidak boleh dikorbankan demi sensasi sesaat.
Agar tidak menjadi media yang ramai di awal lalu meredup, fondasi harus diletakkan sejak hari pertama. Pilar editorial dengan standar yang bisa diuji publik: SOP verifikasi yang jelas, pemisahan tegas antara fakta, analisis, dan opini, koreksi terbuka, serta transparansi konflik kepentingan. Pilar produk yang memandang TV digital bukan sekadar siaran, melainkan ekosistem konten—liputan lapangan, dialog berbasis data, explainer, hingga distribusi multi-format. Dan pilar bisnis yang realistis: pendapatan yang tidak bertumpu pada satu sumber, dari iklan UMKM lokal, sponsorship tematik berpagar etik, hingga kegiatan berbasis komunitas.
Upaya negara mendorong platform digital membayar media atas konten berita menandai pengakuan atas ketimpangan struktural media–platform. Namun regulasi saja tidak cukup. Keberlanjutan media lokal tetap ditentukan oleh kredibilitas dan kedisiplinan membangun model bisnis yang sehat.
Pada akhirnya, media lokal yang bertahan bukanlah yang paling keras suaranya, melainkan yang paling konsisten menjaga kualitas. Galaksi TV Digital hadir di masa ketika media digital berada di tepi jurang: atensi mahal, iklan tak ramah, kepercayaan publik menurun. Namun justru karena situasinya keras, ruang bagi media lokal yang serius masih terbuka.
Jika Galaksi TV Digital memilih jalan yang sulit—merawat verifikasi, menolak sensasi murahan, dekat dengan warga, dan disiplin secara bisnis—ia bukan sekadar media baru. Ia berpeluang tumbuh menjadi institusi lokal: tempat warga Blora mencari kabar yang tidak membohongi, dan ruang akal sehat yang tidak mudah dibeli. (*)



