Korandiva-BLORA.- Forum Jaringan Media Siber Blora (FJMSB) bekerja sama dengan Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Jawa Tengah menggelar Diskusi Terbatas bertema “Peta Jalan Agroindustri Blora 2026–2030” di Aula Setda Pemkab Blora. Kegiatan ini diikuti perwakilan Forpimda, OPD, kepala desa, organisasi masyarakat, kelompok tani, dan para pemangku kepentingan bidang agroindustri. Ketua JMSI Jateng, Agus Sunarko, juga hadir dan terlibat aktif dalam diskusi.
Ketua FJMSB sekaligus ketua pelaksana kegiatan, Bambang Sartono, dalam sambutannya menyampaikan bahwa forum ini merupakan undangan bagi semua pihak untuk menjemput masa depan Blora dengan kesadaran dan perencanaan matang.
“Jika peta jalan ini disusun secara serius, didukung komitmen lintas sektor, dan dipantau implementasinya, maka periode 2026–2030 dapat menjadi momentum penting bagi Blora. Nilai tambah ekonomi desa akan meningkat, kesempatan kerja terbuka lebih luas, dan Blora tidak lagi dikenal hanya sebagai penghasil bahan mentah, tetapi menjadi kabupaten agroindustri yang kuat dan menyejahterakan,” tegasnya.
Asisten II Ekonomi dan Pemerintahan Setda Blora, Dasiran, dalam paparannya menegaskan pentingnya penyusunan roadmap agroindustri sebagai arah pembangunan daerah jangka menengah hingga jangka panjang. Ia mengakui bahwa hingga saat ini Blora belum memiliki peta jalan agroindustri yang komprehensif.
“Roadmap-nya memang belum ada. Karena itu saya sangat mengapresiasi langkah JMSI yang mulai memprakarsai penyusunan pedoman agroindustri berbasis potensi lokal,” ujarnya.
Dasiran juga menyoroti tantangan utama pengembangan agroindustri di Blora, yakni aksesibilitas dan infrastruktur, terutama di wilayah selatan yang masih memerlukan perhatian serius.

Kepala Dinas Pangan, Pertanian, Peternakan, dan Perikanan (DP4) Blora, Ngaliman, menambahkan bahwa sektor pertanian masih menjadi tulang punggung ekonomi daerah. Berdasarkan data PDRB, kontribusi sektor pangan, pertanian, peternakan, dan perikanan mencapai 21,45 persen pada 2023, naik dari 20,80 persen pada 2022.
“Angka ini memberikan mandat kuat bahwa sektor pangan dan pertanian harus menjadi fondasi utama pengembangan agroindustri. DP4 tidak hanya fokus pada peningkatan produksi, tapi juga memastikan infrastruktur pendukung, terutama irigasi. Air adalah kunci utama pertanian,” tegasnya.
Dukungan juga datang dari Anggota DPRD Jawa Tengah, Abdullah Aminuddin. Ia menilai Blora memiliki potensi pertanian dan peternakan yang besar, namun belum sepenuhnya optimal karena masih kurangnya sinergi antara pemerintah, media, dan pemangku kepentingan.
“Blora harus bergerak dari sekadar produsen bahan mentah menuju pusat agroindustri bernilai tambah. Kolaborasi semua pihak sangat dibutuhkan,” ujarnya.
Diskusi terbatas ini diharapkan menjadi langkah awal penyusunan roadmap agroindustri Blora yang lebih terarah, terukur, dan berkelanjutan. (*)



