Korandiva-BLORA.- Ibarat lagu Menghitung Hari yang dipopulerkan Kris Dayanti, pengurus APTRI dan petani tebu Kabupaten Blora kini berada di fase penantian paling krusial. Waktu terus berjalan, sementara kepastian belum juga datang.
Petani menunggu jawaban tertulis dari Direktur Utama Perum Bulog atas tiga tuntutan utama yang dilayangkan dalam aksi damai di Alun-alun Blora, Kamis (2/4/2026). Tenggatnya tegas: Jumat, 10 April 2026.
Tak ada ruang kompromi. Jika hingga batas waktu jawaban tak kunjung diterima, petani tebu Blora memastikan akan menggelar aksi susulan ke Jakarta—dengan kekuatan massa yang jauh lebih besar.
Aspirasi petani sebelumnya diterima Sekda Blora, Komang Gede Irawadi, karena Bupati Arief Rohman dan Wakil Bupati Sri Setyorini tengah berada di Jakarta. Namun tekanan terus meningkat.
Ketua APTRI Blora, Sunoto, menegaskan hasil rapat internal: sikap petani sudah bulat. Tidak ada toleransi untuk jawaban normatif atau janji tanpa kepastian.
Menghadapi ancaman eskalasi aksi, Bupati Arief Rohman bergerak cepat. Ia langsung bertolak ke Jakarta, menemui jajaran petinggi Perum Bulog.

Di kantor pusat Bulog, ia diterima Wakil Direktur Utama Mayjen TNI (Purn) Marga Taufiq dan Direktur Keuangan Hendra Susanto. Dalam pertemuan itu, Bupati mendesak agar petisi petani segera dijawab sebelum situasi kian membesar.
Namun di tingkat bawah, tensi justru terus memanas.
Malam Jumat ini, Ketua APTRI dijadwalkan menggelar “ngopi bareng” bersama Kapolres dan Dandim sebagai langkah antisipasi jika respons Bulog tak sesuai harapan. Sementara itu, Sabtu (11/4/2026) pagi, Bupati akan menggelar rembukan terbuka di Pendopo Rumah Dinas untuk mencari jalan keluar konkret.
Sekretaris APTRI, Anton Sudibyo, menegaskan bahwa tiga tuntutan petani adalah “harga mati”. Tidak ada ruang tawar-menawar.
Gelombang perlawanan juga menguat dari kalangan internal. Tokoh “Srikandi Tebu” Blora, Wahyu, membakar semangat petani dengan retorika keras ala Soekarno.
“Rawe-rawe rantas, malang-malang putung. Pantang menyerah sampai titik darah penghabisan. Petisi petani tebu harus dipenuhi Dirut Perum Bulog. Merdeka! Merdeka! Merdeka!” serunya.
Kini, bola panas ada di tangan Perum Bulog. Jika jawaban tak kunjung turun hingga tenggat, Blora bukan hanya akan bergerak—tetapi bisa menjadi episentrum gelombang protes petani tebu ke ibu kota. (*)

