BLORAJAWA TENGAH

Ramadan dan Jalan Menuju Bahagia di Masjid Nurul Falah

Korandiva-BLORA.- Ramadan 1447 H terus berjalan. Malam demi malam di Masjid Nurul Falah Perumnas Karangjati, Blora, suasana ibadah masih terasa hangat dan penuh semangat. Pada Sabtu malam, 14 Maret 2026, saat bulan suci telah memasuki hari ke-25, para jemaah kembali memenuhi saf-saf masjid.

Selepas salat Isya berjamaah, tradisi yang selalu dinantikan pun dimulai: kuliah tujuh menit (kultum). Malam itu, tausiah disampaikan oleh Agus Budi S, mantan pengajar SMA Negeri 1 Blora yang kini juga menjabat Ketua RW V Kelurahan Karangjati serta salah satu imam Masjid Nurul Falah.

Dengan gaya tutur tenang namun penuh makna, ia mengajak para jemaah untuk merenungkan betapa istimewanya bulan Ramadan bagi umat Islam.

“Umat muslim sepatutnya bersyukur dan bangga karena memiliki bulan Ramadan yang penuh keutamaan. Bulan ini selalu dinantikan dengan penuh kegembiraan, bahkan tidak hanya oleh umat Islam saja, tetapi juga oleh umat lain yang ikut merasakan atmosfer kebaikannya,” ujarnya.

Menurutnya, Ramadan tidak sekadar menjadi waktu menahan lapar dan dahaga dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Lebih dari itu, Ramadan adalah momentum reformasi spiritual.

“Ramadan adalah waktu yang sangat tepat untuk memperbaiki diri, membersihkan hati, dan menata kembali kehidupan agar lebih bahagia, baik di dunia maupun di akhirat,” tutur Agus.

Ia menegaskan bahwa dalam ajaran Islam, kebahagiaan bukanlah sekadar kesenangan duniawi. Kebahagiaan sejati adalah ketenangan jiwa yang lahir dari iman, ketaatan, serta keridhaan Allah SWT.

Dalam kultumnya, Agus kemudian membagikan kiat sederhana meraih kebahagiaan hidup melalui sebuah akronim yang mudah diingat: BAHAGIA.

Huruf pertama, B, dimaknai sebagai Banyak berzikir dan Bersyukur. Mengingat Allah, kapan pun dan di mana pun, diyakini mampu menenteramkan hati. Ia mengutip firman Allah bahwa dengan mengingat-Nya hati menjadi tenang, serta janji bahwa rasa syukur akan mendatangkan tambahan nikmat.
Huruf A berikutnya dimaknai sebagai hidup Adhem ayem melalui pola hidup sederhana. Kesederhanaan, katanya, mampu menjauhkan manusia dari tekanan hidup akibat mengejar hal-hal duniawi yang tidak pernah ada ujungnya.

“Rasulullah mengajarkan bahwa kekayaan bukanlah banyaknya harta, melainkan kaya hati,” jelasnya.

Huruf H merujuk pada keseimbangan antara hablum minallah dan hablum minannas—hubungan baik dengan Allah dan hubungan baik dengan sesama manusia. Salat lima waktu yang dijaga dengan baik menjadi fondasi ketenangan batin, sementara kepedulian sosial menghadirkan kebahagiaan dalam kehidupan bermasyarakat.

Huruf A berikutnya mengingatkan pentingnya aktif menjaga kesehatan fisik dan mental. Islam, kata Agus, sangat menganjurkan umatnya menjaga tubuh dengan makanan halal dan bergizi, karena tubuh juga memiliki hak yang harus dipenuhi.

Sementara G dimaknai sebagai guyub rukun paseduluran sak lawase—semangat persaudaraan dan kebersamaan yang terus dijaga. Dalam Islam, persaudaraan mencakup ukhuwah Islamiyah, ukhuwah basyariyah, hingga ukhuwah wataniyah. Ia pun mengingatkan pitutur Jawa yang sarat makna: rukun agawe santosa, crah agawe bubrah.

Huruf I berarti Istighfar ketika melakukan kesalahan serta sabar saat menghadapi ujian kehidupan. Sikap ini diyakini mampu menjaga hati tetap bersih dan tenang.
Terakhir, huruf A menegaskan pentingnya memperbanyak amalan saleh. Berbagi kepada sesama, bersedekah kepada kaum duafa, dan menolong orang lain merupakan jalan sederhana menuju keberkahan hidup.

“Kepyur membuat hidup makmur dan mujur,” ujarnya sambil tersenyum, disambut anggukan para jemaah.

Di tengah malam Ramadan yang semakin mendekati akhir, pesan-pesan sederhana itu terasa begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari. Di Masjid Nurul Falah, kultum singkat itu menjadi pengingat bahwa kebahagiaan ternyata tidak jauh—ia tumbuh dari hati yang bersyukur, hidup yang sederhana, serta kepedulian kepada sesama. (*)

BERITA TERKAIT