BLORAJAWA TENGAH

Ledek Kethek di Pagi Ramadan: Ketegaran Mbah Jamin dan Mbah Karmi Menjemput Rezeki

Korandiva-BLORA.- Mentari Minggu pagi, 8 Maret 2026, yang bertepatan dengan hari ke-18 Ramadan 1447 H, baru saja menghangatkan jalanan di kawasan Jl. Bhayangkara, Nglawiyan, Blora. Di depan Cafe KUMA, suasana tiba-tiba berubah riuh. Gelak tawa anak-anak pecah ketika seekor monyet kecil beraksi menirukan tingkah manusia.

Dengan iringan musik khas yang mengundang nostalgia, monyet itu bergantian memperagakan berbagai adegan: memikul keranjang layaknya pedagang yang hendak ke pasar, hingga berakrobat mengendarai motor mini. Atraksi sederhana itu dengan cepat menyedot perhatian warga yang melintas.

Di balik hiburan jalanan yang dikenal warga Blora sebagai Ledek Kethek—sebutan lokal untuk pertunjukan Topeng Monyet atau Tandhak Bedhes—terdapat kisah keteguhan hidup sepasang lansia. Mereka adalah Mbah Jamin (83) dan istrinya, Mbah Karmi (79), pasangan asal Desa Ngraho, Kecamatan Kedungtuban, Kabupaten Blora.

Bagi Mbah Jamin, pekerjaan ini bukanlah hal baru. Setelah pensiun sebagai petani hutan lebih dari satu dekade lalu, ia memilih tetap bekerja dengan menggelar pertunjukan monyet keliling. Keputusan itu diambil meskipun keenam anaknya telah hidup mandiri di perantauan, sebagian di Jakarta dan Lampung.

“Kulo mboten saged meneng mawon. Sing penting isih saged nyambut damel,” tuturnya pelan.
Pola hidup mereka pun terbilang unik. Selama satu pekan pasangan ini mengamen di pusat kota Blora, kemudian kembali ke kampung halaman untuk beristirahat selama sepekan berikutnya.

Saat berada di kota, emperan Stasiun Blora menjadi tempat mereka berteduh sekaligus beristirahat. Dalam keterbatasan itu, keduanya tetap menjalankan ibadah puasa Ramadan dengan penuh kesabaran.

“Sahur lan buka sekedare, kadang wonten sing maringi. Gusti Allah boten sare,” ujar Mbah Jamin dengan senyum tulus.

Penghasilan dari pertunjukan tersebut tidak seberapa. Rata-rata hanya sekitar Rp50 ribu per hari. Namun bagi pasangan lansia itu, rezeki sekecil apa pun tetap disyukuri.

Minggu pagi itu menjadi hari yang berbeda. Seusai pertunjukan, beberapa warga memberikan bantuan berupa paket sembako dan sejumlah uang sebagai bekal menjelang Idul Fitri.

Wajah Mbah Jamin dan Mbah Karmi tampak sumringah menerima bantuan tersebut. Bagi Mbah Jamin, pekerjaan yang ia jalani bukan semata soal mencari makan, tetapi juga bagian dari falsafah hidup yang diyakininya.

Ia menyebut ajaran “Urip Iku Urup”, filosofi yang sering dikaitkan dengan ajaran Sunan Kalijaga. Menurutnya, hidup seharusnya memberi manfaat bagi orang lain, sebagaimana api yang menyala untuk menerangi kegelapan dan menghangatkan sekitar.

Tokoh masyarakat setempat, Ir. H. Bambang Sulistya, menilai kisah pasangan lansia itu merupakan potret ketegaran di tengah tekanan ekonomi.

“Mereka mengajarkan kita tentang nrimo ing pandum, menerima apa yang menjadi pemberian Tuhan, tetapi tetap disertai usaha dan optimisme,” ujarnya.

Menurut Bambang, di balik kelucuan atraksi monyet yang mereka tampilkan, tersimpan niat sederhana: menghibur orang lain dan menghadirkan kegembiraan di tengah kehidupan yang tidak selalu mudah.

Ketika musik pengiring akhirnya berhenti dan kerumunan perlahan bubar, sosok Mbah Jamin dan Mbah Karmi tetap berdiri di sana—dengan keranjang kecil di tangan dan senyum yang tak pernah hilang.
Di tengah penghasilan yang tidak menentu, mereka seakan mengingatkan banyak orang bahwa rasa syukur sering kali menjadi kekayaan yang paling berharga. (*)

BERITA TERKAIT