Merawat Etika di Tengah “Zaman Edan” dari Mimbar Nurul Falah

Korandiva-BLORA.- Malam ketujuh Ramadan 1447 Hijriah di Masjid Nurul Falah, Perumnas Karangjati, terasa berbeda. Usai salat Isya dan Tarawih, jemaah tak beranjak. Sebagian merapatkan saf, lainnya bersandar tenang, menanti tradisi yang telah lama mengakar: Kuliah Tujuh Menit (Kultum). Di mimbar sederhana itu, sosok yang sudah 14 tahun purna tugas kembali berdiri—mantan Sekretaris Daerah Blora, Ir. H. Bambang Sulistya, M.MA.
Waktu boleh berlalu, tetapi suaranya tetap teduh. Ia membuka kultum bertema “Etika Bermasyarakat” dengan mengajak jemaah menengok realitas sosial hari ini. Bukan dengan nada menggurui, melainkan dengan renungan yang mengalir. Ia menyebut pandangan pujangga besar Jawa, Raden Ngabehi Ronggowarsito, tentang “Zaman Edan”—sebuah istilah yang terasa kian akrab di telinga masyarakat.
Di tengah derasnya arus informasi dan hiruk-pikuk media sosial, ia menyinggung gejala kemerosotan moral, maraknya korupsi, hingga lunturnya unggah-ungguh. “Sak beja-bejane wong lali, isih bejo karo sing eling lan waspada,” kutipnya, mengingatkan bahwa seberuntung apa pun orang yang lalai, tetap lebih beruntung mereka yang ingat dan waspada.
Sorotan kemudian mengarah pada ruang digital—tempat kritik kerap kehilangan etika, pernyataan kontroversial mudah tersebar, dan hoaks beranak-pinak tanpa saringan. Dalam suasana Ramadan yang seharusnya meneduhkan, ia menyentil budaya “sumbu pendek” yang membuat perbedaan pendapat berubah menjadi permusuhan. Pantun yang ia lantunkan memancing senyum sekaligus perenungan jemaah.

Namun kultum malam itu tak berhenti pada kritik. Bambang menawarkan jalan pulang melalui akronim sederhana: BAHAGIA. Bergaul dengan tetangga, menjaga adab bertamu, merawat harmoni tanpa sikap adigang, adigung, adiguna, aktif menjaga hubungan, menggalang keguyuban, ikut menjaga lingkungan, serta menegakkan amar ma’ruf nahi munkar—termasuk bijak bermedia sosial. Nilai-nilai itu, katanya, bukan konsep rumit, melainkan praktik keseharian.
Simbol ajakan itu tampak nyata ketika seusai Tarawih, jemaah menerima bibit jeruk lemon California. Bibit kecil yang dibawa pulang itu bukan sekadar tanaman, melainkan pesan: etika dan kepedulian harus ditanam, dirawat, dan dipetik manfaatnya. Dari halaman rumah, harmoni bisa tumbuh; dari lingkungan terdekat, perubahan dimulai.
Malam pun ditutup dengan kalimat sederhana namun sarat makna: sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Di Masjid Nurul Falah, Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga merawat adab di tengah zaman yang kerap terasa bising.
“Bunga melati ditanam di bulan Ramadan, baunya harum membuat hati nyaman. Berbicaralah dengan rendah hati dan sopan, agar hidup harmonis penuh kedamaian.” Pantun itu mengalun pelan, menyatu dengan doa-doa yang terangkat ke langit Karangjati. (*)



