BLORAJAWA TENGAH

APTRI Blora Bongkar Hasil Lobi Jakarta: Tiga Tuntutan Petani Tebu Disetujui, Aksi 50 Truk Terancam Batal

Korandiva-BLORA.- Pengurus Asosiasi Petani Tebu Rakyat (APTRI) Kabupaten Blora di bawah komando Drs. H. Sunoto akhirnya membuka secara terang hasil perjuangan bersama Bupati Blora Dr. H. Arief Rohman, S.IP., M.Si. di Jakarta. Langkah yang ditempuh bukan sekadar kunjungan seremonial, melainkan lobi politik tingkat tinggi demi menyelamatkan nasib ribuan petani tebu yang terancam kolaps akibat penghentian giling sepihak PT GMM Bulog pada musim 2025.

Rombongan APTRI yang terdiri dari Sunoto, Anton Sudibdyo, S.Ag., Agus Joko Susilo, dan Ir. H. Bambang Sulistya, M.MA berangkat dari Blora pada Minggu (8/2/2026) dini hari usai salat subuh berjamaah. Mereka menempuh perjalanan darat selama kurang lebih 11 jam menuju Jakarta dengan satu misi: menuntut kejelasan masa depan Pabrik Gula PT GMM Bulog.

Hasil perjuangan itu disampaikan secara terbuka dalam pertemuan di Bumi Indah Flora Tinapan, Todanan, bersebelahan dengan lokasi pabrik gula yang hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda renovasi. Hadir dalam forum tersebut perwakilan petani tebu, unsur DP4 Blora Ir. Lilik Setyawan, MM, serta sejumlah awak media.

Krisis Berawal dari Boiler Rusak, Petani di Ambang Kehancuran
Dalam sambutannya, Sunoto memaparkan kronologi krisis yang menimpa petani. Penghentian giling 2025 dilakukan manajemen PT GMM Bulog secara sepihak dengan alasan dua boiler rusak berat. Keputusan itu berdampak langsung pada keterpurukan ekonomi petani tebu yang kehilangan kepastian serapan hasil panen.

Menindaklanjuti rapat konsolidasi pada 5 Februari 2026, APTRI melaporkan pembentukan Tim Pencari Fakta dan rencana aksi besar-besaran ke Bupati Blora pada 7 Februari 2026. Aksi tersebut rencananya akan digelar 12 Februari 2026 dengan pengerahan 50 truk petani dan sopir angkutan tebu ke halaman pabrik gula.

Namun arah pergerakan berubah setelah Bupati Blora merespons cepat. Menurut Sunoto, Bupati langsung membangun komunikasi intensif dengan berbagai pihak berwenang melalui sambungan telepon, lalu memutuskan berangkat ke Jakarta di hari libur demi memperjuangkan nasib petani.

Lobi Tingkat Menteri, Tiga Tuntutan Disetujui
Pertemuan antara Bupati Blora, pengurus APTRI, dan salah satu menteri Kabinet Merah Putih berlangsung dalam suasana terbuka namun tegas. Dalam dialog tersebut, menteri terkait bahkan langsung menghubungi pejabat elite Bulog Pusat.

Hasilnya, tiga tuntutan utama petani tebu disetujui:

  1. Pabrik Gula PT GMM Bulog tetap beroperasi pada musim giling 2026 serta segera melakukan renovasi dengan penggantian dua boiler baru.
  2. Reformasi total manajerial PT GMM Bulog, termasuk evaluasi dan pembenahan personel internal sebelum perbaikan fisik pabrik dijalankan.
  3. Pembentukan hubungan tripartit yang adil dan transparan antara PT GMM Bulog, APTRI/petani tebu, dan Pemerintah Daerah.

Di luar tuntutan utama, pemerintah pusat juga membuka opsi pengadaan raw sugar untuk menjaga stabilitas harga dan keberlangsungan operasional pabrik.

Aksi Ditunda atau Tetap Jalan?
Meski tuntutan diakomodasi, Sunoto tidak serta-merta membatalkan rencana aksi. Ia meminta pendapat langsung dari para petani. Perhitungan biaya aksi hingga potensi risiko kericuhan menjadi pertimbangan serius. “Aksi tetap dilakukan jika komitmen tidak ditepati,” tegasnya.

Sekretaris APTRI Anton Sudibdyo mengingatkan bahwa realisasi kebijakan membutuhkan proses dan pengendalian diri. Ia mengungkapkan bahwa pengawas internal Bulog serta vendor Barata dari Jakarta telah turun langsung ke lokasi pabrik sebagai sinyal awal pembenahan. Namun ia menegaskan, janji pusat harus terus diawasi, bukan sekadar dipercaya.

Petani Pilih Jalan Damai, Pemerintah Diminta Konsisten
Perwakilan petani Sugiyanto, yang juga Kepala Desa Todanan dan mantan anggota DPRD, menyatakan apresiasi atas kerja keras Bupati dan APTRI. Ia menilai hasil lobi sudah cukup kuat sehingga aksi 12 Februari layak diurungkan demi menjaga stabilitas daerah. “Jalan damai lebih bermartabat daripada mobilisasi yang berisiko tinggi,” ujarnya.

Senada, Ir. Lilik Setyawan mewakili DP4 Blora menyebut langkah APTRI sebagai terobosan strategis yang menunjukkan daya juang luar biasa. Ia menekankan pentingnya pengawalan berkelanjutan agar reformasi dan renovasi tidak berhenti pada janji.

Sementara itu, pengurus APTRI Agus Joko Susilo menutup forum dengan filosofi Jawa, “Nglurug tanpa bolo, menang tanpo ngasorake.” Ia menegaskan perjuangan dilakukan tanpa kompromi dan tanpa “masuk angin”. Targetnya satu: petani tebu kembali tersenyum dan tebu tak lagi terasa pahit.

Pertanyaannya kini bukan lagi apakah janji sudah diberikan, melainkan apakah janji itu akan ditepati. Petani Blora menunggu bukti, bukan retorika. (*)

BERITA TERKAIT