BLORAJAWA TENGAH

APTRI Blora Desak Kepastian Renovasi PG GMM Bulog, Giling 2026 Ditarget Mulai Juni

Korandiva-BLORA.– Pengurus Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Kabupaten Blora menggelar rapat istimewa di Bumi Indah Flora Tinapan, Kecamatan Todanan, Rabu (28/1/2026). Rapat dipimpin Ketua APTRI Blora, Drs H. Sunoto, dan dihadiri perwakilan petani tebu, termasuk yang sebelumnya ikut aksi ke Kantor Bulog Pusat Jakarta, serta utusan manajemen PT GMM Bulog, Rahmatouloh ST.

Dalam rapat tersebut, Sunoto menyampaikan kabar bahwa Pabrik Gula (PG) PT GMM Bulog dipastikan tetap melaksanakan giling tebu 2026. Keputusan itu, menurutnya, merupakan hasil perjuangan berbagai pihak, termasuk Bupati Blora Arief Rohman, Wakil Bupati Sri Setyorini, Ketua DPRD Mustopa, serta dukungan petani tebu.

Bulog berkomitmen mengganti dua boiler rusak berat dengan unit baru, melakukan reformasi manajemen internal, serta merevitalisasi hubungan tripartit antara pabrik gula, petani/APTRI, dan pemerintah daerah.

Namun hingga akhir Januari, dana renovasi belum juga cair. Padahal, usulan margin fee Bulog sebesar 7 persen disebut telah disetujui Menteri Sekretaris Negara pada 23 Januari 2026. “Sampai hari ini belum jelas kapan dana direalisasikan, sementara proses lelang dan perbaikan boiler butuh sekitar empat bulan,” ujar Sunoto.

Jika dana cair Januari ini, giling tebu diperkirakan bisa dimulai awal Juni 2026. Keterlambatan pencairan dikhawatirkan menggeser jadwal giling dan berdampak pada turunnya harga tebu.

Kondisi tersebut memicu keresahan petani. Sejumlah peserta rapat mengusulkan langkah lanjutan, termasuk aksi kembali ke Jakarta guna meminta kepastian langsung ke Dirut Perum Bulog, kementerian terkait, Istana Presiden, hingga KPK.

Darmadi, salah satu peserta, setuju aksi digelar lagi dengan persiapan matang serta koordinasi dengan Bupati dan DPRD. Agus Joko Susilo menekankan pentingnya kekompakan petani agar memiliki daya tawar kuat. Sementara Sri Wahyuningsih mengusulkan pengiriman surat resmi APTRI kepada Presiden Prabowo Subianto.

Usulan lain datang dari Choirul yang mendorong aksi damai di tingkat lokal lebih dulu, mendatangi pabrik gula, Kantor Bupati, dan DPRD Blora dengan membawa spanduk tuntutan petani.

Sekretaris APTRI Anton Sudibdyo juga menyoroti seringnya kerusakan pada pabrik yang tergolong baru dan kerugian berulang tiap musim giling. Ia menilai petani harus berani bersuara agar tidak terus diberi janji tanpa realisasi.

Menanggapi hal itu, Rahmatouloh dari manajemen PG GMM Bulog meminta agar persoalan diselesaikan melalui dialog. Ia optimistis janji Dirut Bulog akan dipenuhi dan menyebut manajemen telah menyiapkan langkah renovasi, termasuk penentuan awal giling 2026.

Penasehat APTRI, Ir. H. Bambang Sulistya, menyarankan tiga langkah cepat: berkoordinasi dengan Bupati dan Wakil Bupati untuk informasi terbaru pencairan dana, membangun komunikasi DPRD dengan Sekretariat Negara, serta menemui langsung pimpinan PT GMM Bulog yang saat itu berada di Blora.

Tak disangka, rombongan APTRI diterima langsung jajaran direksi PT GMM Bulog. Manajemen menyampaikan telah menjajaki vendor penyedia boiler sembari menunggu proses administrasi pencairan dana dari pusat.

Direktur Operasional PT GMM Bulog, Krisna Murtiyanto, menyatakan optimistis. “99 persen dipastikan giling 2026 tetap berjalan dan tidak akan terlambat,” tegasnya.

Pernyataan itu disambut lega para petani. Rapat ditutup doa bersama dengan harapan musim giling 2026 berjalan lancar dan pendapatan petani tebu meningkat. (*)

BERITA TERKAIT